Berita Terbaru

Aliran Sesat Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia (Bagian Ketiga)

Alergi Kata Bid'ah dan Syirik'

Senin, 22 Mei 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Polemik tentang cara merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah lama ditinggalkan oleh kaum Muslim di Indonesia, tetapi belakangan peringatan ini kembali dipersoalkan.

Penolakan terhadap cara memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad – lazim disebut Maulud Nabi – muncul marak di jejaring sosial sejak tiga atau dua tahun belakangan.

Acara peringatan Maulud Nabi di Monas, Jakarta, Januari 2013 lalu. Polemik tentang cara merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah lama ditinggalkan oleh kaum Muslim di Indonesia, tetapi belakangan peringatan ini kembali dipersoalkan.

Para penentangnya biasanya dikaitkan dengan kelompok yang terpengaruh Salafi-Wahabi radikal, sementara yang merayakannya adalah warga NU dan sebagian besar umat Islam lainnya.

Kalangan yang menolaknya menyebut tradisi Maulud Nabi sebagai bidah atau kegiatan yang tidak pernah diperintahkan Nabi Muhammad terkait ibadah.

Sebaliknya, pihak penyokongnya memiliki alasan bahwa peringatan ini didasari kemauan penganut Islam untuk terus mengingat ajaran Nabi Muhammad. [Baca; Aliran Sesat Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia (Bagian Pertama)]

“Masyarakat Madura itu alergi dengan kalimat bidah, syirik. Makanya, kita walaupun menyampaikan materi bidah tapi dengan bahasa yang santun. Seilmiah mungkin,” kata Wakil pimpinan pengurus Muhammadiyah di Pamekasan, Iman Santoso.

Semula “serangan” kelompok penentang Maulud ini sepertinya dibiarkan, tetapi belakangan orang-orang yang dituduh bidah itu melawan balik, termasuk yang terjadi di Pamekasan, Madura.

Bagaimanapun, walaupun belum teruji benar, pimpinan berbagai ormas Islam di Pamekasan akhirnya sampai pada satu titik bahwa selalu ada batasan dalam setiap berdakwah.

“Mari kita menghormati pemahaman masing-masing. Kalau kita dituntut untuk paham dengan cara mereka, maka mereka pun harus paham dengan cara kita, ” kata Ketua Muhammadiyah Pamekasan Daeng Ali Taufiq.

“Masyarakat Madura itu alergi dengan kalimat bidah, syirik. Makanya, kita walaupun menyampaikan materi bidah tapi dengan bahasa yang santun. Seilmiah mungkin,” kata Wakil pimpinan pengurus Muhammadiyah di Pamekasan, Iman Santoso.

Pimpinan Muhammadiyah Pamekasan, Daeng Ali Taufiq, juga mengamini. “Mari kita menghormati pemahaman masing-masing. Kalau kita dituntut untuk paham dengan cara mereka, maka mereka pun harus paham dengan cara kita, ” kata Taufiq.

Salah seorang pimpinan organisasi Al-Irsyad di Pamekasan, Abubakar Basyarahil, mengatakan sangat lumrah dalam proses pemahaman keagamaan muncul tafsir yang berbeda.

Salah seorang pimpinan organisasi Al-Irsyad di Pamekasan, Abubakar Basyarahil, mengatakan sangat lumrah dalam proses pemahaman keagamaan muncul tafsir yang berbeda.

“Dan kadang-kadang kalau perbedaan-perbedaan itu tidak dikelola, itu bisa berkembang ke pola pertentangan,” kata Abubakar yang juga staf pengajar di Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Madura.

Menyadari adanya perbedaan itulah, menurutnya, semua pihak semestinya menyadari “untuk berusaha saling memahami satu sama lain.”

Wakil ketua Nahdlatul Ulama Pamekasan, Misbach Munir mengatakan pihaknya lebih memilih dakwah dengan cara halus ketika dihadapkan persoalan tradisi lama di masyarakat.

Di tempat terpisah, wakil ketua Nahdlatul Ulama Pamekasan, Misbach Munir mengatakan pihaknya lebih memilih dakwah dengan cara halus ketika dihadapkan persoalan tradisi lama di masyarakat.

“Para ulama tidak mengubah, tapi meluruskan saja dengan cara sehalus mungkin, sehingga perubahan terjadi secara alami,” kata Misbach yang juga pimpinan pondok pesantren Kebun Baru di pinggiran kota Pamekasan.

“Makanya NU itu fleksibel terhadap budaya,” kata pria kelahiran 1973 dan lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini.

Ziarah kubur dan Islam moderat

Ketika tuduhan syirik atau bidah terus digemakan dari sejumlah masjid di Pamekasan, saya mendatangi sebuah situs bersejarah di kota itu, yaitu kuburan yang diyakini sebagai raja Islam pertama di Pamekasan, Pangeran Ronggo Sukowati.

Letaknya relatif tidak jauh dari pusat kota. Ketika saya datangi pada sebuah pagi, komplek kuburannya terlihat sunyi. Selain makam sang raja, terdapat pula kuburanorang-orang yang dianggap sebagai keluarganya.

Image caption “Kalau bapak datang tadi malam (Kamis malam), banyak yang datang berziarah,” kata Mariyadi, sang juru kunci.

“Kalau bapak datang tadi malam (Kamis malam), banyak yang datang berziarah,” kata Mariyadi, sang juru kunci.

Menurutnya, di hari-hari tertentu, tidak ada yang bisa membendung kehadiran para peziarah, walaupun sebagian praktiknya dicap menyalahi ajaran Islam.

Pria 45 tahun ini mengaku para peziarah yang datang ke makam dilatari motif yang bermacam-macam. “Ada yang lari dari permasalahan ngumpet di sini, rugi dagang tembakau lari kesini, ya macam-macam,” ungkapnya.

Sebagai juru kunci, dia mengaku tak bisa menolak situasi seperti itu. “Itu ‘kan hak orang masing-masing.” [Baca; Aliran Sesat Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia (Bagian Kedua)]

Menurut Maryadi, di hari-hari tertentu, tidak ada yang bisa membendung kehadiran para peziarah, walaupun sebagian praktiknya dicap menyalahi ajaran Islam.

“Lagipula, syirik itu tidak hanya bisa terjadi di makam. Syirik itu menyekutukan Allah ‘kan. Setiap kita Allahu Akbar (saat shalat), kita ingat sandal, sudah syirik,” kata Mariyadi datar.

Sebelum ke Madura, saya menemui pengamat masalah keislaman sekaligus penulis buku Jaringan ulama Timur tengah dan kepulauan Nusantara abad 17 dan 18 (2013), Azyumardi Azra, tentang kasus di Pamekasan — yang juga sering di temui di beberapa wilayah lain di Indonesia.

“Islam Indonesia itu senang mengamalkan Islam yang banyak tambah-tambahannya yang disebut bidah oleh orang Wahabi,” kata Azyumardi, guru besar Universitas Islam negeri Syarif Hidataullah, Jakarta.

Tambahan itu seperti tahlilan, ziarah kubur, tahlilan atau acara tujuh bulanan kehamilan, ungkapnya.

“Saya menyebut Islam Indonesia yang inklusif, moderat, wasatiyah, yang berada di tengah-tengah, terlalu besar untuk bisa dikalahkan,” kata Azyumardi Azra.

“Meskipun ada lembaga-lembaga atau orang-orang berusaha mengembangkan paham Wahabi, saya kira itu tidak menarik, dan bahkan ditolak oleh kaum Muslim secara terbuka atau diam ya,” kata Azra.

Itulah sebabnya, penulis buku Islam Nusantara (2002) dan Islam Substantif (2000) ini meyakini Islam moderat Indonesia terlalu besar untuk gagal walaupun saat ini ada gejala radikalisasi.

“Saya menyebut Islam Indonesia yang inklusif, moderat, wasatiyah, yang berada di tengah-tengah, terlalu besar untuk bisa dikalahkan. Bagaimana mungkin ada kelompok radikal bisa mengubah NU, Muhammadiyah, itu tidak mungkin. Itu bisa dibilang kemustahilan,” kata Azyumardi Azra. [ARN]

Sumber: BBC

About ArrahmahNews (10859 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Aliran Sesat Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia (Bagian … | Selayar Today

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: