Aliran Sesat Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia (Bagian Pertama)

Senin, 22 Mei 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia bersusah payah mengakomodasi kepentingan Islam moderat dan Islam berhaluan keras. Politik keseimbangan ini sekarang diuji kehadiran gerakan anti-toleran yang dilabeli aliran Wahabi.

Di ruangan kerjanya terpasang lukisan figur sentral sekaligus pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari. Kantornya terletak di Jalan Raya Darmo, salah-satu jalan utama di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Saat saya menemuinya akhir April lalu, ada beberapa orang bercengkerama di ruangannya. Walaupun sering diwarnai kelakar, berbagai topik “panas” menjadi menu utama pembicaraan.

“Kita dalam suasana battle (pertempuran) saat ini,” ungkap sang tuan rumah, Hakim Jayli kepada saya. Hakim adalah aktivis NU sekaligus pimpinan stasiun televisi TV9, milik NU.

Anggota Barisan Ansor serbaguna (Banser) NU dalam acara rapat akbar NU, 17 Juli 2011 di Jakarta. Belakangan, organisasi ini terlibat aksi penolakan terhadap organisasi Hizbut Tahrir Indonesia, HTI.

Pada hari-hari itu memang merebak peristiwa “panas” yaitu pencabutan atribut bendera atau spanduk milik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di sejumlah daerah oleh para aktivis Barisan Ansor Serbaguna (Banser) – organisasi kepemudaan NU.

Walaupun menolak aksi pencopotan itu, Hakim tak bisa menutupi sikapnya yang menolak keberadaan HTI. “Jelas-jelas mereka akan mendirikan negara Islam, dan mereka melakukannya secara terang-terangan,” katanya.

Perang di media sosial

Tetapi pertempuran yang dimaksud Hakim bukanlah semata soal atribut HTI itu tadi.

Kendati tidak menyebut nama organisasinya, dia menganggap kelompok-kelompok yang berlatar Salafi dan Wahabi terus melebarkan pengaruhnya ke berbagai lini, termasuk ke dunia penyiaran dan media sosial.

Istilah Salafi dan Wahabi adalah sebutan yang dialamatkan kepada kelompok atau perorangan yang menganjurkan “pemurnian” Islam kepada Al-Quran dan hadis – dan menolak tambahan-tambahan lain setelahnya.

Pembaca acara stasiun televisi TV9. Stasiun televisi milik NU ini, menurut pengelolanya, dilahirkan untuk ‘menyelamatkan” wajah Islam moderat di Indonesia.

Adapun aliran Wahabi dikaitkan dengan sosok Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792), seorang ulama dari Arab Saudi yang mendirikan sebuah sekte yang menyatakan bahwa mereka kembali kepada semangat sejati Nabi Muhammad.

Saat ini, orang-orang atau kelompok yang dilabeli Wahabi menganggap sebutan itu tidak tepat. Mereka sebaliknya menganggap pelabelan itu “merendahkan” ajaran pemurnian ala Abdul Wahab.

Lebih lanjut Hakim kemudian mencontohkan perang wacana di media sosial yang dilancarkan kelompok tersebut terhadap konsep Islam Nusantara yang dikampanyekan terus-menerus oleh ormas Islam terbesar di Indonesia itu.

Islam Nusantara, menurut penggagasnya, merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara yang disebut “dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras.”

Ide ini bergulir terus dan mendapatkan tempat di dalam wacana keislaman Indonesia.

Namun demikian, secara hampir bersamaan, lahir pula kritikan dan penolakan terhadap istilah Islam Nusantara – yang diwarnai perdebatan keras terutama melalui media sosial atau dalam diskusi terbuka.

Pembukaan Munas ulama NU di masjid Iqtiqlal, Minggu (14/06), kembali menyuarakan dukungan terhadap model Islam Nusantara. Tetapi yang menentangnya terus mempertanyakan istilah tersebut.

Dihadapkan situasi sepertinya inilah, Hakim menyebut kehadiran TV9 menjadi penting untuk ‘menyelamatkan” wajah Islam moderat.

“TV 9 menjadi lebih dari sekedar media, dia adalah bagian instrumen NU dalam cyber war yang lebih rumit,” akunya.

Sayangnya, menurut Hakim, pemerintah Indonesia terkesan membiarkan aktivitas politik yang dilakukan organisasi tersebut.

Hakim Jayli, Presiden direktur TV9 milik NU. “TV 9 menjadi lebih dari sekedar media, dia adalah bagian instrumen NU dalam cyber war yang lebih rumit,” akunya.

Dia mencontohkan sikap ambigu pemerintah yang di satu sisi meneriakkan ‘NKRI harga mati’, tapi di sisi lain seperti merestui keberadaan organisasi seperti HTI.

“Bahkan kadang-kadang negara merestui, sementara kita menghadapinya di bawah,” tambahnya dengan nada masygul.

Tetapi pihaknya tidak berarti kemudian berpangku tangan. Melawan, begitulah. “Karena ancaman ini sudah nyata. Kita dalam suasana perang…” Suara Hakim terdengar meninggi.

Dan suara Hakim itu seperti terus menggema ketika saya teringat kembali sejumlah konflik terbuka warga NU dengan pengusung aliran Wahabi di beberapa tempat di Indonesia dalam setahun belakangan.

Menolak ‘aliran Wahabi’ di Pamekasan

“Untuk tidak mendatangkan tokoh-tokoh Salafi Wahabi yang punya catatan hitam!”

Teriakan pemimpin unjuk rasa ini memecah keheningan kota Pamekasan, di Pulau Madura, Jawa Timur, 20 Maret 2015 lalu, sekaligus mengagetkan para pimpinan agama di kota itu.

Unjuk rasa “anti ulama yang dicap Wahabi” memecah keheningan kota Pamekasan, di pulau Madura, Jawa Timur, 20 Maret 2015 lalu, sekaligus mengagetkan para pimpinan agama di kota itu.

Melalui rekaman liputan sebuah stasiun televisi swasta, saya melihat suasana unjuk rasa serta tuntutan para pendemo. Disebutkan pengunjukrasa adalah santri berlatar NU dari berbagai pesantren di pinggiran kota Pamekasan.

“Catatan hitam itu apa? Mensyirikkan Maulud Nabi, mensyirikkan ziarah kubur, membidahkan tahlilan…” demikian ungkap perwakilan unjuk rasa dalam dialog usai unjuk rasa.

Syirik adalah istilah yang merujuk pada sikap atau aktivitas yang dianggap menyekutukan atau menyembah selain Tuhan.

Adapun bidah merujuk pada kegiatan yang tidak pernah diperintahkan Nabi Muhammad SAW terkait ibadah.

Tuntutan ini diarahkan kepada pimpinan Masjid Ridwan di Jalan Diponegoro, di tengah kota Pamekasan, yang saat itu mengundang seorang ulama yang dianggap para pendemo acap menjelekkan tradisi keagamaan mereka.

Kira-kira setahun setelah unjuk rasa ini, saya mendatangi kota kecil yang tenang Pamekasan di pulau Madura, kira-kira tiga jam perjalanan darat dari ibu kota provinsi Jawa Timur, Surabaya, akhir April lalu.

Suasana menjelang sholat maghrib di depan masjid Asy-Shuhada, Pamekasan. Walaupun mayoritas penduduk Pamekasan adalah berlatar Nahdilyin, kepemimpinan politik di wilayah itu saat ini tidak dipegang oleh elit organisasi NU.

Di malam pertama, saya menemui sejumlah jurnalis di kota itu yang tanpa dinyana dihadiri pula seorang tokoh masyarakat dan aparat intelijen kepolisian setempat.

Diskusi lebih membahas konteks yang menjadi latar unjuk rasa tersebut serta alasan kenapa kasus itu lebih baik tidak diungkit lagi. Saya lebih banyak mendengar – dan terus mencatat.

Terungkap pula dalam pertemuan itu, walaupun mayoritas penduduk Pamekasan adalah berlatar Nahdiyin, kepemimpinan politik di wilayah itu – saat ini – tidak dipegang oleh elit organisasi NU.

Organisasi seperti Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad atau Sarikat Islam disebut berperan aktif dalam konstelasi politik di kota itu, selain NU sendiri. Bersambung.. klik di sini [ARN]

Sumber: BBC.

About ArrahmahNews (12177 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on Aliran Sesat Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia (Bagian Pertama)

  1. sekarang banyak orang sudah tahu siapa itu Wahabi, dan bagaimana sejarah Wahabi, Wahabi sekarang mengaku-ngaku Ahlisunnah Waljamaah agar orang islam yg awam terpedaya.

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Wajah Islam Moderat di Indonesia dan Aliran Sesat Wahabi (Bagian Kedua) – VOA ISLAM NEWS
  2. Wajah Islam Moderat di Indonesia dan Aliran Sesat Wahabi (Bagian Ketiga) – VOA ISLAM NEWS
  3. Aliran Sesat Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia (Bagian … | Selayar Today

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: