Berita Terbaru

Afi Nihaya: Pistol Membunuh Teroris, Pemahaman Agama Membunuh Terorisme

Kamis, 25 Mei 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Afi Nihayasa Firda Nihaya, pemilik akun Afi Nihaya Faradisa, remaja asal Banyuwangi kembali menulis di status facebooknya. Satire yang ditulis Afi ini benar-benar brilian dan berkualitas tinggi. Ia menyindir masyarakat pada umumnya dalam beragama, bagaimana agama yang dibawa oleh Nabi Saw dan bagaimana memerangi pemahaman agama yang dangkal hingga menghasilkan terorisme, seperti katanya; “dengan pistol kita bisa membunuh teroris, tapi dengan pemahaman agama yang baik kita bisa membunuh terorisme”. berikut tulisannya;

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Wanita itu segera melepas sepatunya (untuk digunakan menimba air). Ia pun diampuni karenanya.” (HR. Muslim).

Banyak yang meragukan Islam sebagai ideologi kelembutan, terutama ketika Indonesia dan dunia terus dikejutkan oleh serangkaian insiden berdarah yang mengatasnamakan agama ini. Namun, jika kita menelisik sedikit lebih dalam saja, kita akan menemukan bahwa salah satu doktrin sentral Islam ternyata memang berputar pada prinsip belas kasih. [Baca: Sindiran Pedas Afi Nihaya pada Politisi yang Suka Mengkebiri Intelektual Anak Muda]

Kalimat basmalah, pembuka surat-surat Al-Qur’an dan doa yang paling sering diucapkan umat Islam sedunia, mengandung dua sifat utama Tuhan, “Maha Pengasih” dan “Maha Penyayang”. Kalimat ini menjadi bukti paling tegas bahwa kasih sayang adalah jiwa dari seluruh ajaran Islam.

Kisah pezina yang diampuni karena belas kasihnya ini mengandung banyak pesan. Pertama, anjing adalah hewan yang secara tradisi dianggap najis dalam Islam. Belas kasih terhadap makhluk yang dianggap hina sekali pun ternyata memiliki arti. Kedua, zina juga adalah dosa yang secara tradisi diganjar hukuman berat, mulai dari cambuk hingga rajam. Namun, belas kasih senilai seteguk air dianggap mampu menebus ‘dosa’ ini. Yang menarik, tidak ditemukan kisah serupa yang melibatkan dosa lain seperti membunuh dan merampok, yang sudah pasti mengabaikan belas kasih.

Kisah ini bukanlah satu-satunya dalam Islam. Banyak kisah lainnya yang memiliki narasi serupa, yang mengindikasikan bahwa belas kasih dibayar dengan amat mahal dalam Islam. [Baca: Mufti Al-Azhar; Wahabi, ISIS dan terorisme Hasil konspirasi Kerjaan Saudi]

Kitab Tsalasatul Ushul (Tiga Landasan Utama) karya Muhammad Abdul Wahab (yang sering dikaitkan dengan Wahabisme, sekte terkeras dalam Islam saat ini), misalnya, menceritakan satu kisah di mana seseorang ditolak seluruh ibadahnya, namun diampuni karena menyelamatkan seekor lalat yang tenggelam di sebuah gelas. Kitab ini bahkan juga mengutip dorongan untuk berbelas kasih kepada orang kafir sekali pun.

“Kasihilah yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu”, bunyi lafadz sejumlah hadits yang menjadi dasarnya.

Sayyidina Ali bin Abi-Thalib ra. juga pernah mengatakan: “Mereka yang tidak bersaudara dalam iman bersaudara dalam kemanusiaan.” [Baca: Ideologi Ekstrimis yang Dipromosikan oleh Saudi Akar Terorisme]

Kitab Tadzkiratul Auliya (Kisah Para Wali) karya Fariduddin Atthar menyitir kisah lain tentang satu-satunya orang yang diterima ibadah hajinya oleh Allah justru karena membatalkan hajinya agar uang biaya haji itu bisa digunakan untuk menolong tetangganya yang kelaparan.

Kisah semacam ini mungkin akan jarang didengar dan cenderung tidak disukai di kalangan Islam legalistik yang memiliki pendekatan sangat kaku tentang benar dan salah.

Aku pribadi mengelompokkan kisah-kisah ini sebagai post-sharia Islam, atau Islam pasca-syariat. Islam yang tidak lagi berdebat soal percabangan hukum hingga ke tataran seperti batas aurat & jumlah rakaat. Sejenis Islam level berikutnya yang telah melampaui aspek legal formal menuju sesuatu yang lebih esensial. Dan esensi itu bernama belas kasih. [Baca: Syaikh Azhar: Ideologi Wahabi adalah Ular Beracun dalam Islam]

Agaknya tidak mengherankan jika tema ini juga ditemukan di semua agama besar dunia. Mulai dari Yesus yang berdiri membela pezina yang nyaris dihakimi massa, hingga Guan Yin yang dipuja luas di Asia Timur sebagai Dewi Belas Kasih yang mendengar penderitaan dunia.

Agama-agama di dunia ini mungkin berbeda pada tataran syariat dan legal formal, namun melebur dalam esensi yang sama ketika naik ke jenjang berikutnya. Cita-cita rahmatan lil ‘ālamīn (belas kasih bagi semesta alam).

Meski sama-sama berjubah dan berjenggot, akan tetapi panutan kita dalam beragama adalah Muhammad SAW yang lembut, rendah hati, dan penuh belas kasih. Bukan Abu Jahal atau Abu Lahab yang licik, sombong, dan penuh amarah.

Beratnya menjadi muslim seperti yang dikatakan Rasul: “Muslim ialah orang yang menyelamatkan orang lain dari gangguan lidah dan tangannya.” [Baca: BNPT: Tujuan Radikalisme-Terorisme Ingin Ganti Pancasila dan Dirikan Khilafah]

Masih suka memfitnah? Bergunjing? Menyakiti (bahkan membunuh) orang lain dengan lidah dan tanganmu? Muslimkah engkau?

Dengan pistol kita bisa membunuh teroris, tapi dengan pemahaman agama yang baik kita bisa membunuh terorisme. [ARN]

Sumber: Status FB Afi Nihaya.

About ArrahmahNews (10039 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on Afi Nihaya: Pistol Membunuh Teroris, Pemahaman Agama Membunuh Terorisme

  1. Kalimat di alinea terakhir itu bukan asli pemikiran penulis tetapi quotes dari Malala Yousafzai.
    Penulis jarang menuliskan sumber sehingga tulisan atau quotes seolah asli pikirannya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: