31 Militan ISIS Tewas di Marawi, Termasuk Jihadis Asal Indonesia

Jum’at, 26 Mei 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, MARAWI – Pemerintah Filipina melalui Jaksa Agung Muda Jose Calida hari ini mengumumkan, para milisi asing yang tergabung dalam kelompok Maute—sayap ISIS—yang bertempur di Kota Marawi ada yang merupakan warga Indonesia. Para milisi asing, termasuk yang berasal dari Indonesia itu dinyatakan tewas di tangan tentara Filipina.

“Warga Malaysia, Indonesia, Singapura dan jihadis asing lainnya,” kata dia menyebut para jihadis asing dalam jumpa pers dengan pejabat Istana dan militer Filipina di Kota Davao, seperti dilansir laman Rappler, Jumat (26/5).

Dengan bergabungnya para militan asing itu, kata Calida, maka Maute sudah tidak bisa lagi disebut organisasi teroris lokal.

“Sebelumnya Maute hanya kelompok teroris lokal. Tapi sekarang mereka sudah menganut ideologi ISIS. Mereka ingin menjadikan Mindanao bagian dari kekhalifahan.”

Juru bicara militer Brigadir Jenderal Restituto Padilla dalam jumpa pers itu membenarkan ada 31 anggota Maute tewas terbunuh dalam bentrokan dengan pasukan Filipina, enam di antaranya jihadis asal Malaysia, Indonesia, dan militan asing lainnya.

Meski demikian, sebanyak 13 pasukan Filipina yakni tentara dan petugas polisi tewas dalam pertempuran di Marawi sejak hari Selasa.

“Pasukan kami melakukan operasi yang disengaja di daerah yang kami yakini masih sibuk atau penuh dengan kehadiran teroris. Saya secara khusus memerintahkan tentara kita untuk mencari dan menghancurkan para teroris ini sesegera mungkin,” kata Brigadir Jenderal Rolly Bautista, Kepala Satuan Tugas Gabungan ZamPeLan, Filipina.

Militer Filipina menemukan paspor WNI yang diduga bergabung dengan kelompok Maute dalam bentrokan di Marawi. Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan belum bisa memastikan kabar itu.

“Kami sudah mendengar adanya penemuan paspor WNI atas nama Al Amin di Marawi, namun kabar ini masih belum dikonfirmasi oleh pihak berwenang,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir yang ditemui usai menggelar jumpa pers di Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Jumat (26/5).

Selasa malam Presiden Rodrigo Duterte menyatakan keseluruhan Pulau Mindanao dalam keadaan darurat militer selama 60 hari setelah pertempuran terjadi antara militer dan militan Maute. [ARN]

About ArrahmahNews (12188 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: