Bentrokan Berdarah Terus Terjadi, Warga Marawi Terpaksa Mengungsi

Sabtu, 27 Mei 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, MANILA – Ratusan orang telah meninggalkan kota selatan Filipina, Marawi, saat pasukan militer berjuang untuk mengusir militan Takfiri ke luar kota.

Militan asing dari Indonesia dan Malaysia direkrut oleh sebuah kelompok militan yang terlibat dalam pertempuran dengan tentara Filipina di Maraqi, di Pulau Mindanao, Jaksa Penuntut Umum Manila Jose Calida mengatakan pada hari Jumat, dalam sebuah perseteruan langka antara militan domestik dan asing yang termasuk dalam Kelompok teroris Takfiri ISIS.

Presiden Rodrigo Duterte pada hari Selasa mengumumkan darurat militer di Mindanao, pulau terbesar kedua di negara itu, untuk menghentikan penyebaran militansi Takfiri. Dia baru-baru ini mengungkapkan bahwa ISIS telah merencanakan untuk mendirikan sebuah pangkalan permanen di Filipina selatan dan negara tersebut berisiko terkena “kontaminasi”, terutama ISIS yang beroperasi di Suriah dan Irak.

ISIS rupanya telah berusaha mengeksploitasi kemiskinan dan pelanggaran hukum di Filipina selatan untuk mendirikan basis di Asia Tenggara dengan ideologi ekstrem Wahhabi-nya.

Warga Malaysia dan Indonesia termasuk di antara enam orang yang tewas pada hari Kamis dalam pertempuran antara tentara dan militan di Marawi.

Pasukan Filipina telah mengirim helikopter serbu dan pasukan khusus untuk mengusir militan dari kota selatan yang berpenduduk 200.000 orang. Sebanyak 11 tentara dan 31 gerilyawan dilaporkan tewas dalam pertempuran sejauh ini.

“Pasukan kami melakukan operasi yang di daerah yang kami yakini masih bergejolak atau penuh dengan kehadiran teroris. Saya secara khusus memerintahkan tentara untuk mencari dan menghancurkan para teroris ini sesegera mungkin,” kata Brigadir Jenderal Rolly Bautista, kepala Satuan Tugas Gabungan ZamPeLan.

Komandan militer lainnya, Letnan Jenderal Carlito Galvez Jr., meminta penduduk setempat untuk membantu menemukan militan dan “berkontribusi pada netralisasi dan penghancuran ini.”

Sebuah serangan dilakukan pada hari Selasa untuk menangkap Isnilon Hapilon, seorang pemimpin faksi radikal kelompok militan, Abu Sayyaf. Pemerintah mengatakan bahwa Hapilon telah menjadi orang penting bagi ISIS di Filipina dan telah bekerja sama dengan para pemimpin Maute, sebuah kelompok militan lainnya.

Calida mengatakan ISIS telah memilih Hapilon sebagai “emir, atau pemimpin mereka di Filipina.” [ARN]

About ArrahmahNews (12216 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: