Berita Terbaru

Kontroversi Program Sekolah Delapan Jam Per Hari

Selasa, 13 Juni 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Program sekolah lima hari dan pulang sore yang akan diterapkan beberapa SD sampai SMA di Indonesia mulai tahun ajaran baru bulan Juli mendatang, kebijakan baru yang banyak dipertanyakan terkait anak-anak yang harus kerja untuk membantu orang tua.

“Jam sekolah selama 40 jam selama lima hari untuk semua sekolah akan diterapkan secara nasional secara bertahap pada tahun ajaran baru 2017/2018, untuk ‘penguatan karakter anak’”, kata Chatarina Girsang, staff ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Chatarina mengatakan sekolah selama lima hari seminggu tidak akan menambah jam belajar anak.

“(Ini untuk) penguatan karakter anak, jadi bukan menambah jam belajar dan kurikulumnya… bahkan kurikulum akan dimodifikasi… Kegiatan-kegiatan positif akan kita maksimalkan dalam lima hari,” kata Chatarina.

“Jamnya (jam mulai) terserah, yang penting 40 jam satu minggu, per hari delapan jam dengan istirahat setengah jam,” tambahnya.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan Kamis (08/06) lalu, bahwa pihaknya sedang menggodok Permendikbud sebagai dasar kebijakan sekolah lima hari dalam satu minggu ini. Namun banyak pertanyaan yang muncul di seputar penerapan kebijakan ini, terutama terkait anak-anak di pedesaan yang harus membantu orang tua bekerja sejak usia dini.

Di daerah transmigrasi dan banyak daerah pedesaan lain, anak-anak banyak yang membantu orang tua mereka setelah sekolah. Jam sekolah sekolah dasar di Indonesia pada umumnya selesai pada tengah hari.

Banyak netizen, termasuk guru, menyatakan keberatan terkait rencana penerapan sekolah lima hari ini melalui media sosial.

Akun atas nama Djoko Poernomo misalnya, menulis melalui Facebook, “Pak Mentri !!!! muridku 35% anak-anak Transmigrasi, biasanya setelah pulang sekolah membantu pekerjaan orang tua di sawah atau ngarit cari rumput, dan banyak muridku sudah pandai menjual tenaga sebagai penyabit rumput di perkebunan sawit, nah kalau mereka pulang jam 4 sore pasti mereka tidak akan melakukan kegiatan pendidikan karakter yang nyata, saya takut mereka akan rontok dengan sistem pulang sore.”

“Salah satu muridku baru kelas 7, anak transmigrasi namun bapaknya sakit sdh nggak (sudah tidak) bisa kerja, jadi dia pulang sekolah sekolah harus berjalan kaki 5 km menuju bekas galian timah, nyari ampas timah, dari sinilah dia membiaya makan keluarganya, dari sekolah sdh (sudah) menggratiskan semua termasuk baju seragam, untuk makan jelas diluar kemampuan sekolah… sedih saya tanya sama dia tiap hari hanya makan 2x cuma lauk tempe tanpa sayur sama sekali… sedih rasanya lihat anak sekecil itu sdh menanggung orangtua dan adik-adiknya,” tambahnya.

Pengguna lain atas nama Yosef Agung Prawiro menulis dari sisi kesiapan sekolah, “Fullday Sch (hari penuh sekolah) belum saatnya diberlakukan di seluruh Indonesia (Nasional), hal yang perlu diperhatikan, sarana prasarana tiap sekolah apa mencukupi?”

Chatarina Girsang mengatakan akan ada perkecualian menyangkut sekolah lima hari ini.

“Apabila sekolah belum siap akses transportasi tentu akan kita kecualikan… Kita juga lagi menginventarisir mana daerah kabupaten yang siap… sarana prasarana, fasilitas sekolah dan akses transportasi,” kata Chatharina.

“Yang kita utamakan adalah hak anak mendapatkan pendidikan,” tambahnya.

Retno Listyarti, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) , mengatakan tidak menyepakati kebijakan ini karena kondisi masyarakat yang berbeda-beda.

“Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan semua kota besar, tipologi dan kondisi masyarkat berbeda-beda, maka perlu persiapan,” kata Retno.

Ia mengatakan survei yang dilakukan FSGI terkait sekolah di Jakarta yang menerapkan kebijakan sekolah lima hari menunjukkan banyaknya anak yang mengalami gangguan pencernaan karena jam makan yang terganggu.

“Dalam tiga tahun penerapan (di DKI Jakarta) sakit pencernaan terjadi, karena mereka terlambat makan. Misalnya masuk jam 0630 di kelas, belum sempat sarapan dan mereka sarapan pada istirahat pertama jam 10:00, pada jam makan siang tak makan karena masih kenyang akhirnya makan siang jam 03:00. Ini sebenarnya pelanggaran hak anak,” kata Retno.

Ditambahkannya bahwa anggota FSGI yang tersebar di 29 kabupaten dan banyak murid mereka yang membantu orang tuanya berlandang, berkebun, jualan, nelayan… sehingga kalau sekolah sampai sore dampaknya akan ke ekonomi keluarga juga.

Retno juga mengatakan dengan prasarana terbatas dengan situasi sekolah di Indonesia yang halamannya cuma sedikit, sempit maka akan sulit membuat anak betah dan nyaman di sekolah dan di ruang kelas. Tetapi staff ahli Mendikbud, Catharina Girsang mengatakan penambahan jam di sekolah ini mencakup kegiatan di luar kelas.

“Bukan berarti di kelas selama delapan jam, bisa juga kegiatan di luar seperti mengamati pasar, diberi tugas apa, jadi pelajaran bukan di kelas semua, ada kegiatan kurikuler dan ekstra kurikulernya,” kata Chatarina.(ARN)

Sumber: bbcindonesia

About ArrahmahNews (11781 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: