Berita Terbaru

Analis: Setelah Qatar, Turki Target Berikutnya

Jum’at, 16 Juni 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, ANKARA – Pada hari Rabu, 14 Juni, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu tiba di Doha untuk bertemu dengan rekan Qatarnya, Mohammed bin Abdulrahman al Thani dan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, di tengah krisis diplomatik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Sputnik Turki duduk dengan analis politik dan penulis Turki, Samer Saleha, untuk membahas sikap Ankara mengenai krisis Qatar dan peran negara-negara asing dalam konflik diplomatik ini. (Baca juga:Turki Segera Kerahkan Pasukan ke Qatar)

Pada tanggal 5 Juni, Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dan memblokir semua lalu lintas darat, laut dan udara ke negara tersebut, dengan menuduh Doha mendukung para teroris dan menggoyahkan Timur Tengah. Beberapa negara lainnya juga mengurangi hubungan diplomatik dengan negara tersebut.

Namun, Turki dan sejumlah negara Timur Tengah menolak untuk mendukung langkah ini dan mulai melakukan upaya untuk membantu Qatar memecahkan isolasi tersebut.

Menurut Saleha, bahkan sebelum kunjungan Cavusoglu, Turki sudah jelas menunjukkan posisinya. Dan kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa Ankara ada di pihak Qatar. (Baca juga:Takut Terjadi Kudeta, Emir Qatar Gagal ke Turki)

Pada tanggal 6 Juni, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Turki akan terus mengembangkan hubungan dengan Qatar dan akan melakukan upaya untuk menyelesaikan krisis melalui dialog.

“Saya pikir salah satu alasannya adalah perlunya mempertahankan kepentingan politik dan ekonomi yang sama. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan antara Ankara dan Doha semakin berkembang. Selain itu, Qatar telah berulang kali memberi Turki dukungan politik, termasuk setelah sebuah usaha kudeta militer di Turki, khususnya, perkembangan hubungan bilateral menghasilkan pendirian pangkalan militer Turki di Qatar, ” jelas Saleha. (Baca juga:Qatar Borong 36 Jet F-15 di Tengah Krisis Dengan Saudi dan UEA)

Sementara itu, pada tanggal 9 Juni, Erdogan menyetujui undang-undang yang mengizinkan pengerahan pasukan Turki ke Qatar. Menurut Duta Besar Turki untuk Qatar, Ahmet Demirok, sekitar 3.000 tentara pasukan darat, tentara angkatan udara dan angkatan laut negara tersebut, serta instruktur dan pasukan khusus, akan ditempatkan di markas Turki di Qatar.

Pada saat yang sama, Saleha menekankan bahwa sangat penting bagi Ankara untuk juga melestarikan kontak yang telah mapan dengan Arab Saudi dan UEA. Namun, setelah menunjukkan dukungan kepada Qatar dalam krisis ini, maka ini akan menjadi masalah.

“Ankara bisa menjaga kontak-kontak tersebut jika bekerja dengan Arab Saudi secara jujur dan adil, saya rasa menteri luar negeri Turki harus segera mengunjungi Riyadh. Sejak krisis meletus, upaya Ankara untuk membangun dialog dengan negara-negara Teluk telah menjadi tidak cukup, mereka harus diintensifkan, “kata analis tersebut.

Dia menggarisbawahi bahwa dalam situasi saat ini, krisis Qatar tidak dapat dipecahkan tanpa partisipasi kekuatan regional seperti Turki dan Iran. Menurut Saleha, Turki adalah salah satu negara yang berkontribusi dalam mencegah krisis meningkat.

“Krisis harus dicegah agar tidak berubah menjadi konfrontasi militer yang terbuka, Turki memutuskan untuk mengirim pasokan makanan ke Qatar, Ankara juga memutuskan untuk mengerahkan sebuah kontingen militer ke negara tersebut Keputusan ini sangat penting.Tetapi ada negara lain yang membantu, termasuk Iran, Prancis dan Jerman, “kata Saleha.

Berbicara lebih jauh, analis itu juga menyampaikan pemikirannya tentang kemungkinan konsekuensi dari krisis Qatar ini bagi Ankara.

“Dalam situasi ini, Turki percaya bahwa pihaknya bisa menjadi target berikutnya [setelah Qatar]. Pemimpin dan para pakar di Turki percaya bahwa serangan terhadap Turki akan datang berikutnya, akan dilancarkan baik oleh negara-negara Teluk maupun Amerika Serikat. Ini menjadi jelas setelah kunjungan Presiden Donald Trump ke Riyadh, inilah mengapa Turki bereaksi dengan cepat dan dengan cara seperti itu. Ini mungkin merupakan bagian dari rencana Amerika di kawasan, “kata Saleha.

Menurut analis tersebut, jalan untuk pelaksanaan rencana ini dimuluskan oleh kunjungan Trump ke Arab Saudi.

“Turki dan Iran menentang rencana ini, Mereka ingin mempertimbangkan krisis Qatar dari sudut yang berbeda, pada gilirannya, Washington mengabaikan proposal mereka dan ingin memaksakan pandangannya sendiri tentang situasi tersebut. AS ingin memperoleh keuntungan dari krisis ini karena krisis ini melayani Kepentingan nasionalnya, “katanya.

Saleha menekankan bahwa krisis Qatar hanya bisa diselesaikan melalui dialog antara negara-negara Teluk yang terlibat.

“Saya pikir krisis akan makin dalam sebagai reaksi terhadap keterlibatan Turki dan Iran. Inilah sebabnya mengapa menteri luar negeri Turki harus mengunjungi Riyadh dan Dubai sesegera mungkin,” pungkasnya. (ARN)

 

About ArrahmahNews (10884 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: