News Ticker

Mengenal Pangeran Mahkota Baru Saudi, Mohammed bin Salman

Rabu, 21 Juni 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, RIYADH – Raja Salman, penguasa Arab Saudi berusia 81 tahun, mengangkat anaknya, Mohammed bin Salman, menjadi pangeran mahkota pada hari Rabu (21/06), yang berarti bahwa putra berusia 31 tahun itu sekarang berada di urutan berikutnya tahta kerajaan Saudi.

Salman, yang sering disebut dengan inisial namanya ‘MBS’, telah melompati keponakan raja, Mohammed bin Nayef, yang secara tiba-tiba diturunkan dari jabatannya sebagai putra mahkota. Ketika nantinya MBS mengambil alih tahta dari ayahnya, maka ini akan menjadi yang pertama kalinya dalam sejarah kerajaan bahwa jabatan tertinggi dipegang oleh seseorang selain seorang putra pendiri Arab Saudi, Ibn Saud. (Baca juga: Raja Salman Copot bin Nayef dan Angkat Putranya Sebagai Putra Mahkota yang Baru)

Langkah tersebut menandai langkah baru dalam kebangkitan pangeran muda kontroversial yang posisinya terus meroket semenjak ayahnya menjadi raja tersebut. Menjadi menteri pertahanan termuda di dunia hingga inisiator perombakan ekonomi negara tersebut, Mohammed bin Salman juga mengawasi perusahaan minyak negara, yang sangat penting bagi ekonomi kerajaan Teluk.

Sebagai putra tertua dari istri Salman yang ketiga dan terakhir, Mohammed bin Salman telah mengalahkan tiga saudara tuanya dari istri pertama raja tersebut. Secara luas ia dipandang sebagai penasihat terdekat ayahnya.

Lahir di Jeddah pada tahun 1985, Mohammed bin Salman meraih gelar sarjana hukum dari Universitas King Saud dan, tidak seperti banyak bangsawan Saudi, ia tidak pernah belajar di luar negeri. Ia masuk politik pada tahun 2009, bertugas sebagai penasihat khusus untuk ayahnya, saat Salman menjadi gubernur Provinsi Riyadh. Sejak saat itu, dia telah mendapatkan banyak status-status baru. (Baca juga: Emir Kuwait Ucapkan Selamat atas Pengangkatan Bin Salman)

Tapi tidak semua ambisi kekuasaan dapat mulus dicapai oleh pangeran muda itu. Sebagai menteri pertahanan, Mohammed bin Salman telah memimpin perang paling berdarah Arab Saudi di negara tetangganya Yaman sejak Maret 2015, di mana Riyadh berusaha mengembalikan kursi pemerintahan sekutu dekatnya, mantan Presiden yang melarikan diri, Abed Rabbo Mansour Hadi.

Kelompok-kelompok HAM telah mengutuk Arab Saudi karena menggunakan munisi tandan/bom cluster yang dilarang oleh hukum internasional, dalam kampanye pengebomannya, dan karena agresi brutal Saudi telah menimbulkan krisis kemanusiaan besar di Yaman hingga menyebabkan 14,1 juta orang membutuhkan bantuan pangan mendesak. (Baca juga: MEMANAS! Dua Pangeran Saudi Bersitegang Terkait Qatar)

Tak peduli kritik tersebut, Riyadh terus membombardir seluruh wilayah Yaman dan bahkan meminta Washington untuk memberi bantuan militer tambahan.

Di bawah kepemimpinan Mohammed bin Salman, Arab Saudi juga terus memainkan peran kunci dalam perang di Suriah, yang mempersenjatai pemberontak anti-pemerintah, beberapa di antaranya memiliki hubungan dengan Al-Qaeda. Pangeran muda tersebut juga mempelopori pembentukan koalisi puluhan negara yang digunakan untuk melawan negara yang dianggap membahayakan kepentingan Saudi.

Dia juga dikabarkan menjadi aktor utama pemutusan hubungan antara Arab Saudi dan Qatar saat ini, di mana Riyadh dan sekutunya UEA dan Mesir telah memberlakukan blokade di negara pulau kecil tersebut setelah menuduhnya mendukung kelompok teroris.

Mohammed bin Salman juga muncul sebagai utusan terpercaya untuk ayahnya. Pada bulan Maret, wakil pangeran mahkotalah yang dikirim ke Washington untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump yang kemudian diikuti kunjungan Trump ke kerajaan pada bulan Mei. Pangeran Saudi itu “menyatakan kepuasannya” setelah pertemuan tersebut dan memuji Trump karena mengklarifikasi “pandangannya tentang Islam,” terlepas dari berbagai pernyataan dan tindakan kontroversial yang diambil oleh Trump terhadap umat Islam pada saat kampanye dan bahkan saat bertugas. (Baca juga: HEBOH.. Menhan Saudi ‘Muhammad bin Salman’ Seorang Pecandu dan Pedagang Narkoba)

Promosi sang pangeran adalah tanda lain bahwa raja Saudi saat ini sedang menolak tradisi lama di negara Teluk itu. Secara tradisional, garis suksesi di Arab Saudi telah berpindah dari saudara ke saudara laki-laki: Raja Salman naik tahta pada tahun 2015 setelah kematian saudara tirinya, Abdullah, dan awalnya menunjuk saudara tirinya sendiri, Muqrin bin Abdulaziz, sebagai mahkota pangeran.

Tapi setelah masa jabatan hanya tiga bulan, Salman menggantikan Muqrin dengan Mohammed bin Nayef, keponakannya, untuk peran tersebut. Sekarang, dengan penunjukan Mohammed bin Salman, raja sekali lagi mengubah bagaimana kekuasaan akan diturunkan di kerajaan wahabi tersebut. (ARN)

About ArrahmahNews (16710 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Trump Dibalik Suksesi Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman – ArrahmahNews

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: