Berita Terbaru

Tiga Syarat Amerika untuk Pengangkatan Mohammed bin Salman Sebagai Raja

Pemukiman Warga Gaza di Sinai, Penghapusan Ikhwanul Muslimin dan Hamas, serta Pulau Tiran

Jum’at, 23 Juni 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JERMAN – Pangeran Saudi yang tinggal di Jerman, Khalid Bin Farhan Al-Saud, mengungkap rincian baru tentang pengangkatan Pangeran Mohammed bin Salman sebagai putra mahkota, yang menggantikan sepupunya Mohammed bin Nayef.

Ibn al-Farhan dalam rangkaian tweet-nya, menurut surat kabar “Watan Serb” bahwa apa yang akan saya tulis adalah bocoran dari orang dalam keluarga kerajaan, yang mengungkap persetujuan khusus dari Amerika Serikat dan dukungannya terhadap putra Raja Salman, dimana Amerika memberika syarat untuk masa depan Mohemmed bin Salman dalam mengambil alih kekuasaan di kerajaan.

3 Syarat Amerika Untuk Naik Tahta

Dan yang terpenting dari syarat itu adalah taat mutlak pada Amerika dan Israel serta merealisasikan apapun yang diminta, dan mendesak untuk menyelesaikan segera mungkin pemindahan penduduk Jalur Gaza ke utara Sinai, Mesir, sebagai tanah bagi mereka, yang pelaksanaannya akan dibiayai dan dilakukan oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Syarat itu juga termasuk penghapusan gerakan perlawanan Hamas, Izz al-Din al-Qassam dan para pendukung mereka.

Selain itu, Arab Saudi juga harus bekerja dengan serius untuk mendapatkan pulau Tiran, untuk proyek pembuatan Selat Tiran di Teluk Aqaba, yang tidak masuk ke dalam perairan Mesir, tapi mengikuti perairan internasional yang memungkinkan kebebasan navigasi angkatan laut Israel dan pekerjaan proyek yang sejajar dengan Terusan Suez di Teluk Aqaba.

Pangeran Khalid Bin Farhan Al-Saud menegaskan kepada keluarga kerajaan bahwa “syarat ini adalah pengkhianatan terhadap bangsa Arab dan Islam, bahkan yang dilakukan Ibn Salman telah dirintis ayahnya yang mengambil alih kekuasaan di kerajaan sebelum kematian Raja Abdullah. Dimana Raja Salman bin Abdulaziz (yang saat itu menjabat sebagai putra mahkota) mengeluarkan perintah perubahan yang mengartikulasikan struktur negara untuk melenyapkan dampak politik dari Raja Abdullah dan anggota keluarga kerajaan yang berpengaruh, demi memonopoli karir politik anaknya Mohammed di kancah nasional dan internasional”.

Pangeran yang Sembrono

Pengeran Khalid bin Farhan Al-Saud lebih lanjut mengkritisi putra mahkota baru kerajaan Saudi dengan mengatakan “Yang pertama adalah petualangan sembrononya yang terlibat dalam perang tidak adil, tidak manusiawi dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam terhadap Yaman, yang mengakibatkan wilayah selatan Saudi dibom dan menyebabkan kematian sejumlah tentara kami di perbatasan. Sebagaimana menyebabkan kematian ribuan anak-anak tak berdosa Yaman, wanita dan orang tua serta kehancuran infrastruktur dan menyebabkan penyebaran epidemi kolera yang sangat membahayakan, alih-alih mengajak Yaman bergabung ke Dewan Kerjasama Teluk Persia, justru mengambil agresi militer”.

Menurut Ibnu Farhan, “kegagalan berkali-kali datang untuk menunjukkan wajah asli dan tidak bermoral Mohammed bin Salman, yang tergambar jelas pada saat Mesir memberikan dukungan pada rancangan resolusi Rusia terkait Suriah di DK PBB. Dimana Ibn Salman menyatakan perang media terhadap Mesir, dengan memfitnah pemerintah Mesir dan rakyatnya. Bahkan ia juga mengklaim kepemilikan pulau Tiran dan Sanafir untuk memenuhi syarat yang diajukan Amerika dan untuk meningkatkan kemarahan rakyat Mesir terhadap Arab Saudi”.

Ibn Zayed Agen Zionis di Timur Tengah

Pengeran Ibn Farhan juga menegaskan bahwa Mohammed bin Salman bekerja sama dengan Mohammed bin Zayed Al Nahyan untuk mewujudkan tuntutan AS. Khalid bin Farhan Al-Saud juga menggambarkan Ibn Zayed sebagai agen resmi Zionis di Timur Tengah berkat intervensinya di Libya dan Tunisa dalam memberangus Ikhwanul Muslimin, serta upaya kudeta yang gagal di Turki dan memutus hubungan diplomatik dengan Qatar yang mendukung Hamas dan Ikhwanul Muslimin.

Oleh karena itu, sudah selazimnya Bin Salman dan Bin Zayed mengambil sikap permusuhan yang kuat terhadap mereka demi menjalankan rencana Zionis. Ibn Farhan juga mengisyaratkan bahwa krisis ini telah mengklarifikasi sejauh mana sisi moral, kemanusiaan dan Islam putra mahkota Saudi yang baru, yang memutus hubungan antara dua negara Arab, muslim dan bersaudara di bulan suci Ramadan, dengan pemberlakuan blokade laut, darat dan udara, termasuk melarang warga Qatar melakukan ibadah Umroh dan Haji. Blokade ini sama saja dengan deklarasi perang.

Pangeran Saudi yang tinggal di Jerman juga menegaskan bahwa Mohammed bin Salman yang kini telah menjadi putra mahkota baru kerajaan Arab Saudi terus berusaha keras memenuhi syarat Amerika untuk memuluskan jalannya menjadi Raja, terutama setelah membayar upeti sebagai mahar perjanjian dengan Presiden AS selama kunjungannya ke Arab Saudi.

Khalid Bin Farhan Al Saud juga mengungkapkan bahwa Ibn Salman telah menangkap sejumlah besar keluarga kerajaan yang berkuasa dan berpengaruh, yang keberatan dan menolak atas pengangkatan diri menjadi putra mahkota, sebelum mereka mengirim pesan ke Ibn Salman, yang berbunyi “Jika Anda rela menjadi budak seorang Zionis “Amerika Serikat dan Israel”, maka kami tidak akan menerima Anda menjadi pemimpin kami, dan jika Anda menerima diri anda dan ayahmu dilemparkan ke dalam tong sampah sejarah, maka kami tidak terima negara kami berdiri bersama kalian berdua”. [ARN]

Sumber: Watan Serb.

 

About ArrahmahNews (10479 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: