NewsTicker

Tillerson: Beberapa Tuntutan Saudi Cs ke Qatar Sulit Dipenuhi

Senin, 26 Juni 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, WASHINGTON DC – Sekretaris Negara AS, Rex Tillerson, mengeluarkan sebuah pernyataan pada hari Minggu (25/06)yang menjelaskan bahwa beberapa elemen dari daftar tuntutan negara-negara pimpinan Saudi kepada Qatar sebagai hal yang sangat sulit untuk dipenuhi, namun menambahkan bahwa masih ada beberapa area penting yang memberikan dasar bagi dialog berkelanjutan yang mengarah pada resolusi.

Qatar akan merasa “sangat sulit” untuk mematuhi beberapa tuntutan yang dibuat oleh blok yang dipimpin Saudi untuk mengakhiri krisis diplomatik Teluk, meskipun mereka dapat menjadi dasar bagi perundingan,” kata Sekretaris Negara AS, Rex Tillerson sebagaimana dikutip Bloomberg.

Ucapan Tillerson ini yang terkesan masih membenarkan Saudi dianggap berbanding terbalik dengan pernyataan dari Qatar. Di depan umum, pejabat Qatar telah menolak daftar tersebut dengan menyebut daftra itu tidak realistis dan tidak jujur.

“Daftar tuntutan ini mengkonfirmasikan apa yang Qatar katakan sejak awal, blokade ilegal ini tidak ada hubungannya dengan pemberantasan terorisme, ini tentang pembatasan kedaulatan Qatar,” kata Sheikh Saif bin Ahmed Al Thani, juru bicara Qatar, dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.

Sekutu regional Qatar tampaknya setuju dengan penentangan negara itu. Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh gerai berita milik pemerintah Turki, Anadolu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa “kami menganggap daftar 13 poin itu melawan hukum internasional.” Dan dalam sebuah percakapan dengan emir Qatar, presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa “tekanan, ancaman dan sanksi” tidak akan membantu menyelesaikan krisis, dan menambahkan bahwa “pengepungan Qatar tidak dapat kita terima.”

Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir menyerahkan sebuah ultimatum 13 poin ke Qatar pada hari Jumat, mengatakan untuk mengurangi hubungan dengan Iran, menutup sebuah pangkalan militer Turki dan menutup saluran berita Al Jazeera yang berbasis di Doha.

Keempat negara tersebut, yang dipimpin oleh Arab Saudi, memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada 5 Juni setelah menuduhnya mendanai ekstremisme dan menggoyahkan Timur Tengah. Negara-negara tersebut kemudian menutup semua lalu lintas darat, udara dan darat ke negara tersebut, yang memicu kekurangan pangan di Qatar. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: