NewsTicker

Analis: Krisis Qatar Memungkinkan Terbentuknya Koalisi Baru Timur Tengah

Senin, 03 Juli 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, TIMUR-TENGAH – Abdel Bari Atwan, pemimpin redaksi surat kabar Rai al-Youm, mengatakan bahwa perkembangan di Timur Tengah telah meningkatkan kemungkinan pembentukan koalisi baru antara Iran, Turki, Irak, Suriah, Rusia dan bahkan Qatar.

Atwan menggarisbawahi bahwa makin buruknya krisis antara negara-negara Arab dan Qatar dan turunnya kemungkinan adanya kesepakatan untuk mengakhiri ketegangan saat ini, belum lagi campur tangan langsung Ankara dan pengiriman pasukan militer ke Doha, semuanya dapat memberi dampak positif pada krisis tersebut, khususnya setelah Kekalahan ISIS baru-baru ini di Mosul dan Raqqa. (Baca juga: Saudi Bersikeras Tak Mau Negoisasi Soal Tuntutan ke Qatar)

Atwan menambahkan bahwa pihak-pihak yang terkait dengan krisis di Suriah telah memusatkan perhatian pada Qatar dan krisis ini dalam hubungannya dengan negara-negara Arab tertentu, khususnya Arab Saudi.

“Turki dan Iran berdiri di pihak Qatar, Teheran membuka wilayah udara dan pelabuhannya untuk pesawat dan kapal Qatar, namun Ankara telah melangkah lebih jauh dan mengirim pasukan militer dan tank-tank ke negara Arab Teluk kecil itu”. (Baca juga: Qatar: Tuntutan Saudi Cs Tidak Realistis)

Atwan mengatakan bahwa Turki sekarang, setelah penyelesaian damai dari krisis di Suriah, setelah menyadari bahwa solusi militer tidak mungkin, dan setelah AS meningkatkan dukungan untuk orang Kurdi, telah memahami bahwa menghadapi ancaman ini tidak mungkin dilakukan tanpa bersekutu dengan Suriah, Irak dan Iran apalagi negara itu sudah kehilangan dukungan AS dan Saudi.

Memperhatikan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin bertindak seperti sebuah pintu gerbang bagi Erdogan untuk memasuki koalisi Iran-Irak-Suriah, dan bahwa Qatar juga dapat bergabung dalam koalisi ini pada tahap selanjutnya, Atwan mengatakan bahwa sekarang kepentingan Erdogan dan Bashar al-Assad telah berubah di bawah pengaruh krisis di Qatar, dan oleh karena itu, ada kemungkinan untuk pendekatan mereka setelah 7 tahun perbedaan. (Baca juga: Mediator Turki: Erdogan Akan Cium Tangan yang Semula Ingin Ia Patahkan di Suriah)

Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar awal Juni, dan menghentikan komunikasi udara dan laut satu minggu setelah KTT Arab Islam Amerika di Riyadh, menuduh Doha mendukung organisasi teroris dan mendestabilisasi situasi di Tengah Timur.

Setelah lebih dari dua minggu, blok yang dipimpin Saudi memberi Qatar waktu 10 hari untuk memenuhi 13 tuntutan, termasuk menutup Jaringan Al-Jazeera, menutup sebuah pangkalan militer Turki dan mengurangi hubungan dengan Iran.

Sementara itu, Qatar mengumumkan bahwa Doha tidak akan memenuhi salah satu dari 13 tuntutan yang dibuat oleh Arab Saudi dan sekutunya, dan lebih menawarkan “kondisi yang tepat untuk sebuah dialog” untuk menyelesaikan krisis Teluk Persia, namun Riyadh menegaskan kembali bahwa tuntutannya kepada Qatar untuk mengakhiri krisis di Teluk [Persia] adalah “tidak dapat dinegosiasikan”.

Perpecahan di antara negara-negara Arab ini meletus setelah Presiden AS Donald Trump mengunjungi Riyadh di mana dia menuduh Iran “melakukan intervensi mendestabilkan” tanah Arab. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: