Eropa

Pengungsi Suriah jadi Lulusan Terbaik di Sebuah Sekolah di Rusia

Selasa, 04 Juli 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, CHITA – Seorang siswa pengungsi dari Suriah, Imane Hassoun, lulus dari sebuah sekolah menengah di Chita dengan nilai tertinggi. Hal ini disampaikan sekretaris pers Kementerian Pendidikan Rusia di wilayah tersebut, Ekaterina Gorskaya, kepada Sputnik.

Chita sendiri adalah sebuah kota di Rusia dan merupakan pusat administratif Krai Zabaykalsky, Rusia di Siberia bagian timur. Letaknya 500 mil dari Irkutsk.

“Imane adalah satu-satunya murid di antara teman-teman sekelasnya yang lulus dengan penghargaan tahun ini,” kata pejabat tersebut, Senin (03/07).

Dalam percakapan dengan Gorskaya, gadis tersebut mengungkap bahwa Chita adalah kampung halaman ibunya. Ayahnya berasal dari Suriah, dan orang tuanya saling bertemu di Irkutsk, Rusia. Pasangan itu menikah dan kemudian pindah ke Suriah.

Imane sebelumnya tinggal di Idlib, sampai ia, adik perempuannya dan orang tuanya berhasil kembali ke Chita pada musim panas tahun 2015.

“Perang pecah, sangat menakutkan, dan setelah kota kami diserang, kami memutuskan untuk pindah ke kampung halaman ibu saya, Chita,” kata gadis itu.

“Di Suriah, saya memiliki banyak teman, saya berbicara dengan mereka setiap hari. Mereka melanjutkan studi mereka dalam situasi sulit ini, mereka berharap semuanya akan berakhir,” tambahnya.

Ketika Imane pindah ke Rusia dan mulai bersekolah di sekolah Rusia, dia pertama kali mengalami kesulitan dalam menulis kata-kata bahasa Rusia, namun setelah dua tahun belajar, dia berhasil lulus Ujian Bahasa Rusia dengan 91 dari 100 poin.

“Mata pelajaran yang paling sulit bagi saya di sekolah adalah bahasa Rusia, saya belajar menulis dari nol,” kata gadis itu.

Terutama yang sulit baginya adalah pengucapan suara Rusia, dan ia bekerja keras sepanjang musim panas, sampai ia tahu bagaimana melakukannya dengan benar, katanya.

Gadis itu sekarang berbicara bahasa Rusia dengan lancar. Dia mengatakan bahwa dia memiliki dua tanah air, Rusia dan Suriah, dan ia bermimpi untuk kembali ke Idlib pada suatu hari.

Perang saudara di Suriah antara pemerintah dan berbagai kelompok oposisi dan teror dukungan Barat telah berkecamuk sejak 2011. Jutaan orang Suriah telah meninggalkan negara tersebut sejak dimulainya konflik militer dan telah mencari suaka di negara-negara lain di seluruh dunia. Lebih banyak lagi mencari perlindungan di daerah yang dikuasai pemerintah di negara tersebut. (ARN)

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: