Berita Terbaru

22 Tahun Pembantaian Muslim Bosnia

Kamis, 13 Juli 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, SREBRENICA – Ribuan orang berkumpul di Srebrenica pada hari Selasa (12/07)untuk memperingati pembantaian terhadap sekitar 8.000 Muslim Bosnia di tahun 1995. Sebuah kekejaman terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II.

Beberapa kerabat korban akhirnya bisa memberi sebuah upacara pemakaman yang tepat untuk pertama kalinya terhadap orang-orang yang mereka cintai yang tulang belulang sisa dari jasad mereka berhasil ditemukan.

Sisa-sisa 71 korban pertumpahan darah, yang telah dinyatakan sebagai sebuah genosida oleh pengadilan internasional itu dibaringkan di pemakaman umum di sebuah pemakaman di Potocari, dekat Srebrenica.

Mereka termasuk seorang wanita berusia 33 tahun dan tujuh orang berusia di bawah 18 tahun ketika mereka terbunuh.

Adela Efendic mengatakan bahwa ia datang untuk “akhirnya mengucapkan selamat tinggal” kepada ayahnya Senaid, yang berusia 35 tahun saat terbunuh.

“Jenazahnya ditemukan sembilan tahun yang lalu di sebuah kuburan umum, tapi hanya beberapa tulang saja,” kata petenis berusia 22 tahun itu, kepalanya ditutupi dengan kerudung dan air mata mengalir di pipinya.

“Kami menunggu, berharap bisa menemukan lebih banyak lagi, tapi tidak ada yang ditemukan… Kami memutuskan untuk menguburnya sekarang sehingga tulang-belulangnya menemukan kedamaian,” kata Efendic, yang baru berusia 20 hari saat ayahnya meninggal.

“Saya hanya punya satu foto darinya, yang kecil, seperti untuk kartu identitas. Tapi ibu saya bercerita banyak tentang dia … ini memungkinkan saya untuk membayangkannya.”

Pasukan Serbia merebut kota Bosnia bagian timur, sebuah daerah kantong yang dilindungi PBB pada saat itu, pada tanggal 11 Juli 1995, lima bulan sebelum berakhirnya perang antar etnis Bosnia. Pada waktu tersebut, terjadi upaya pembersihan etnis, yang dilakukan pasukan Serbia terhadap ribuan warga Muslim di Srebrenica, Bosnia.

Di bawah komando Jenderal Serbia, Ratko Mladic, sekitar 1.500 pasukan mengepung Kota Srebrenica yang saat itu berstatus zona aman yang dihuni umat Muslim. Pada waktu itu, zona tersebut dijaga oleh 400 anggota pasukan perdamaian PBB dari Belanda.

Alih-alih mengadang, tentara Belanda memilih untuk mundur karena jumlah prajurit yang kalah jauh dibanding pasukan Serbia. Mereka ditarik dari zona serangan ke Kota Potocari. Begitu juga dengan pengungsi setempat, yang memilih untuk mengungsi ke Kota Potocari untuk menyelamatkan diri, meski sebagian banyak yang tertangkap pasukan Serbia.

“Dengan kondisi tersebut, Kota Srebenica dikuasai tentara Serbia,” ujar juru bicara PBB Alexander Ivanko.

Jenderal Mladic mengatakan bahwa pasukan perdamaian PBB gagal menetralisir zona aman dengan baik, karena kawasan tersebut dianggap pihak Serbia dipenuhi ‘teroris’. Akhirnya Serbia melancarkan serangan dengan dalih untuk “membersihkan teroris”.

Pasukan Serbia menangkap ribuan warga, termasuk 30 tentara Belanda yang bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB. Tentara perdamaian PBB sebenarnya disokong pasukan tempur NATO yang sempat melancarkan serangan udara ke Serbia. Namun karena mendapat ancaman keras dari Serbia, Perdana Menteri Belanda Joris Voorhoeve Belanda memerintahkan penarikan mundur pasukannya.

Dengan kondisi tersebut, sikap PBB dipertanyakan Pemerintah Amerika Serikat. Menteri Pertahanan AS William Perry mempertanyakan “apakah sebenarnya bisa menjalankan misi kemanusiaan dengan menjaga stabilitas kawasan yang dirundung konflik.”

Beberapa hari kemudian merupakan salah satu hari paling mencekam di Eropa. Menurut saksi mata, Jenderal Serbia, Mladic mengancam kepada para tahanan Muslim bahwa jika ada satu warga dari kubunya yang mati, maka harus dibayar dengan 1.000 nyawa mereka.

Sekitar 2.700 Warga Muslim yang tertangkap mulai dibantai dengan ditembak mati. Jumlah korban terus bertambah hingga mencapai 8.000 orang selama 11 Juli hingga 22 Juli 1995 di Srebrenica dan sekitarnya.

Para korban dieksekusi massal dengan disuruh menggali lubang beramai-ramai, kemudian ditembaki hingga mati. Konflik ini berangsur mereda hingga berdamai.

Jenderal Mladic dan Presiden Serbia Radovan Karadzic pada akhirnya ditangkap pada 2008 atas kejahatan perang dengan melakukan genosida atau pembantaian. Selain itu, salah satu pejabat senior Serbia, Radislav Krstic juga diadili.

Otoritas Mahkamah Internasional juga melakukan investigasi terhadap pemerintah dan tentara Belanda yang dianggap gagal menghadang pembantaian. Namun para pejabat pemerintah Belanda saat itu kemudian mengundurkan diri untuk menghindari penyelidikan. (ARN)

About ArrahmahNews (10492 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. 22 Tahun Pembantaian Muslim Bosnia – ARRAHMAHNEWS – MUSLIM CYBER KREMI [MCK TEAM]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: