Berita Terbaru

Analis: Tak Lagi Tuntut Assad Mundur, Barat Mulai Sadar Rusia Benar

Minggu, 16 Juli 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, MOSKOW – Berbicara kepada wartawan dalam konferensi pers bersama di Paris setelah pertemuannya dengan presiden AS Donald Trump, Presiden Macron mengkonfirmasi bahwa Prancis tidak lagi mendesak pengusiran Presiden Suriah Bashar Assad, dan melihat perang melawan terorisme menjadi prioritas yang lebih penting. (Baca juga: Rusia; Barat Dukung Teroris Untuk Gulingkan Bashar Assad)

Sergei Fedorov, seorang peneliti senior di Institut Studi Eropa Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, mengatakan kepada surat kabar online Svobodnaya Pressa Rusia, bahwa sejauh menyangkut Presiden Macron, ucapannya pada hari Kamis itu merupakan kelanjutan dari tren positif yang lebih luas.

Bagaimanapun, analis tersebut mencatat bahwa “ini bukan sensasi, karena Macron sebelumnya telah mengatakan bahwa Prancis tidak akan menuntut kepergian Assad. Pada hari Kamis, dia hanya mengkonfirmasi posisi ini.” (Baca juga: Bashar Assad: Rakyat dan Pemerintah Suriah Bukan Budak Barat)

“Fakta bahwa kepemimpinan negara itu (Perancis) lebih realistis dalam memahami situasi di Timur Tengah sangat menggembirakan,” ungkap Fedorov sebagaimana dikutip Sputnik, Sabtu (15/07). “Secara khusus, Macron baru-baru ini mengecam intervensi di Libya, yang telah dilakukan Prancis bersama Inggris. Ini adalah poin positif, yang menunjukkan bahwa prospek perjuangan bersama antara Rusia-Barat melawan terorisme internasional dalam segala bentuknya telah terbuka. “

Pada gilirannya, Stanislav Tarasov, seorang ahli terkenal Rusia dalam studi Timur Tengah, menjelaskan langkah Macron merupakan indikasi bahwa presiden baru tersebut menginginkan Paris untuk memainkan peran yang lebih menonjol dan independen di arena geopolitik global.

“Kami melihat bahwa Prancis Macron, tidak seperti Prancis pendahulunya, mulai mengembangkan paradigma baru untuk kebijakan luar negeri Paris di Timur Tengah. [Mantan Presiden Francois] Hollande praktis tidak memiliki sebuah kebijakan, malah memilih untuk meneruskan garis Amerika, dalam posisi seram. Paris bahkan tidak memiliki posisi yang jelas mengenai Assad,” tambah Tarasov membandingkan Macron dengan pendahulunya. (Baca juga: Bashar Assad: AS dan Sekutu Baratnya Gunakan Topeng Kemanusiaan untuk Campuri Urusan Suriah)

Untuk saat ini, Tarasov mengakui, pernyataan presiden Prancis itu masih sekedar kata-kata, dan hanya waktu yang akan mengatakan bagaimana situasi akan berubah. Namun, jika Prancis dan negara-negara Barat lainnya, serta Turki, mengakui hak Assad untuk memerintah, maka hal itu akan memberi Damaskus legitimasi baru, yang memungkinkan, misalnya, untuk negosiasi langsung antara kepala negara, dan memberi pemerintah Suriah sejumlah peluang untuk manuver diplomatiknya sendiri.

Sedangkan menurut seorang pengamat politik Rusia sekaligus seorang pakar Timur Tengah di Institut Studi Strategis Rusia, Elena Suponina, “dalam beberapa bulan kedepan akan terlihat” apakah Barat serius tentang gagasan untuk bekerja sama dengan Rusia, dan mengakui hak Bashar Assad sebagai pemerintah Suriah yang sah untuk menjalankan pemerintahan di negaranya.

Pakar tersebut mengingatkan bahwa Presiden Trump juga pernah membuat janji serupa mengenai kerja sama dengan Rusia melawan Daesh selama kampanye pemilihan 2016, namun justru berbalik dan membom sebuah pangkalan udara Suriah atas tuduhan tak berdasar bahwa pemerintah Suriah telah melancarkan serangan kimia kembali pada bulan April. (ARN)

About ArrahmahNews (11407 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: