Berita Terbaru

Muhyar Fanani: Beragama di Zaman Kacau

Minggu, 15 Juli 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, SEMARANG – Muhyar Fanani Dekan FISIP UIN Walisongo Semarang meresensi sebuah buku dengan judul “Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau” yang ditulis oleh Haidar Bagir dan diterbitkan oleh Mizan telah dimuat di harian Kompas 15 Juli 2017. (Baca juga: Kritik Satir: Tuhankanlah Tuhan, Tuhan Tidak Butuh Pembela)

Beragama di zaman kacau seperti sekarang perlu menyerap esensi agama. Mengapa? Salah satu pemicu zaman kacau adalah pemahaman agama yang tidak komprehensif.

Jebakan kulit agama telah mengantarkan manusia hanya menangkap yang dangkal dari agama. Jebakan itu membuat manusia saling membenci. Perasaan saling membenci itu kemudian dikokohkan menjadi ideologi kebencian (ideologi takfiri). Ideologi inilah yang mendorong sebagian umat beragama menjadi radikal dan melakukan teror. (Baca juga: Ideologi Ekstrimis yang Dipromosikan oleh Saudi Akar Terorisme)

Spiritualisme

Untuk menangkal ideologi takfiri, umat beragama harus menghidupkan spiritualisme (hal 229). Spiritualisme itulah esensi agama. Mengapa spiritualisme bisa menangkal ideologi takfiri dengan segala eksesnya yang berupa terorisme dan radikalisme? Sebab, spiritualisme menawarkan tiga hal, yakni cinta, damai, dan kerja sama. Jika ingin menghentikan kekacauan, kembalilah pada agama. Tetapi, jangan pilih bagian kulitnya. Pilihlah spiritualnya. Semua agama beresensikan spiritualitas yang sama, yakni cinta, damai, dan kerja sama. Para pendiri bangsa memiliki jalan pikiran yang mementingkan spiritualitas itu. Bung Hatta, misalnya, menyatakan ”…jika orang ingin memperjuangkan ajaran Islam di Indonesia, pakailah ’ilmu garam, tidak ilmu gincu’,” (A Syafii Maarif, Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara, 2017: xi). Agama lain juga selayaknya demikian. (Baca juga: Radikalisme Ideologi Politik yang Mengusung Nilai-nilai Intoleran dan Sektarian)

Semua pemeluknya sebaiknya lebih mementingkan isi agama yang berupa nilai keluhuran bukan kulit agama. Pandangan Bung Hatta itu relevan dengan ide dasar buku ini. Gagasan semacam ini sesungguhnya berakar kuat pada pe- mahaman para Walisongo atas Islam yang secara turun-temurun dilanjutkan oleh para ulama dan tokoh-tokoh pejuang termasuk Pangeran Diponegoro. Jika dirunut ke belakang lagi, pandangan Islam Walisongo itu berakar pada ajaran Panteisme Ibnu Arabi yang mengakui irfan (gnosticism) sebagai jalan ilmu pengetahuan (hal 218). Panteisme yang mengajarkan wahdatul wujud (monism) itu mengajarkan harmoni semua makhluk mengingat semua makhluk adalah pancaran cahaya Allah (emanasi). Semua makhluk bersumber dari satu titik tunggal. Oleh karena itu tidak mungkin saling bertentangan. Inilah akar yang pernah disampaikan Gus Dur dan sering dikutip berbagai media, bahwa: ”…Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca Al Quran, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Al Quran.

Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan lainnya. Dan, pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah.” Dengan kata lain, Gus Dur mendorong manusia berperilaku sebagaimana Allah berperilaku terhadap makhluk-makhluk-Nya. Dalam diri manusia dan perilakunya hendaknya bisa ditemukan sifat-sifat Allah dengan segala kemuliaan dan keluhuran-Nya terutama dalam hal kasih sayang pada semua makhluk. (Baca juga: Saudi Ekspor Ekstrimisme ke Banyak Negara, Termasuk Indonesia)

Moderat

Akar harmoni yang kuat pada bangsa Indonesia sejak dahulu kala itu mestinya menurun pada seluruh anak bangsa untuk bersikap moderat. Islam Indonesia pada dasarnya adalah Islam moderat sebagaimana Islam Andalusia tempo doeloe yang mampu meramu spiritualisme, local culture, dan ilmu pengetahuan (hal 222). Bangsa ini tidak mengenal dikotomi dalam semua aspek kehidupan. Semua hal harus dibangun secara utuh baik jiwa maupun raga, baik urusan dunia maupun akhirat. Itu sebabnya, lagu ”Indonesia Raya” berbunyi: ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”. Secara tidak langsung, buku ini mengungkapkan bahwa terdapat pergeseran paradigma pemikiran keagamaan di Indonesia kontemporer. Paradigma pemikiran agama yang lebih mengedepankan harmoni itu kini sedang digantikan oleh paradigma takfiri. Penulis buku ini memperingatkan pembaca untuk tidak tergiur dengan paradigma baru itu. Paradigma ini bersumbu pada ideologi takfiri yang suka mempropagandakan kebencian (hal 168-169). Ideologi ini mengancam ideologi Pancasila dan NKRI (hal 172). Selain untuk bersikap moderat, buku ini juga mengajak pembaca untuk tidak gegabah dalam melihat masalah. Fenomena agama di Indonesia kontemporer cukup rumit. Banyak hal yang harus dipahami secara cermat. Relasi Sunni-Syi’ah, misalnya, yang beberapa waktu lalu mengeras sesungguhnya bukanlah berakar dari esensi, bukan pula berakar dari keindonesiaan kita. Esensi relasi keduanya adalah relasi penuh perdamaian. Kekacauan relasi keduanya di Tanah Air sesungguhnya lebih dipicu oleh faktor eksternal, yakni mengerasnya relasi Arab Saudi dan Iran (hal 159-175). (Baca juga: Presiden Jokowi: Islam Radikal Bukan Islam Indonesia)

Jika kita tidak kembali pada Pancasila, maka apa yang terjadi di Suriah dan beberapa negeri Timur Tengah lainnya bisa menular di sini. Ajakan untuk tidak gegabah ini pernah pula disampaikan oleh pemikir muslim lain seperti Khaled Aboe el-Fadhl (Atas Nama Tuhan: Dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif, 2001:210). Sebagai kumpulan tulisan, buku ini menunjukkan ke-lihai-an penyuntingnya. Walaupun tulisan yang disajikan membahas topik yang luas dan beragam, masih bisa ditangkap struktur kemasuk-akalannya (plausibility structure). Ide-ide penulisnya bisa diramu secara padu. Kesinambangunan pikiran bisa disajikan secara logis dan nyaris tanpa lompatan. Walaupun memberikan bacaan yang penuh gizi, buku ini masih memiliki kelemahan. Banyak topik yang mestinya dibahas secara lebih mendalam hanya dibicarakan dalam beberapa halaman saja. Klaim Arab Saudi yang mendaulat dirinya sebagai imam kalangan Sunni, misalnya, merupakan topik yang membutuhkan penjelasan mendalam, tetapi buku ini hanya membahasnya sambil lalu (hal 160-168).

Ketidaktuntasan pembahasan ini menuntut pembaca untuk membaca buku lain, misalnya buku Khaled Aboe el-Fadhl (The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists, 2005). Kelemahan lain dari buku ini adalah rentang topik yang amat luas dan beragam yang meliputi bidang filsafat/pemikiran Islam/agama, tafsir, hukum/fikih, ideologi, politik, sosial, dan budaya, membuat pembaca merasa berat untuk memahami keseluruhan topik. Pembaca yang belum pernah bersentuhan dengan topik-topik itu akan merasa klieng-klieng (pusing). Namun, kelemahan itu adalah wajar untuk sebuah buku pemikiran yang berkualitas. Kelemahan itu tidak akan mengurangi kandungan gizinya. (ARN)

Sumber: harian Kompas

About ArrahmahNews (10479 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Muhyar Fanani: Beragama di Zaman Kacau – ARRAHMAHNEWS – MUSLIM CYBER KREMI [MCK TEAM]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: