Berita Terbaru

Eksploitasi Anak Dibalik Propaganda Busuk Media Barat untuk Serang Assad

"Ini adalah bentuk eksploitasi terhadap anak untuk menciptakan propaganda yang mempromosikan para teroris di Aleppo Timur dan digunakan untuk menghancurkan Suriah" ~ Khaled Iskef

Senin, 17 Juli 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, ALEPPO – Sekarang Bana dalam keadaan aman di Turki, dan harapan tulus saya untuknya adalah ia bisa menjalani kehidupan yang damai dan bahagia. Saya harap orang tuanya bisa mewujudkannya. Dalam tulisan ini saya tidak akan mengacu pada seorang gadis kecil Suriah yang sekarang berusia 8 tahun dan menetap di negara barunya itu. Saya tidak menginginkan apapun selain hal-hal yang baik untuknya.

Saya akan berbicara tentang fenomena internet @AlabedBana dan orang dewasa yang bertanggung jawab untuk menciptakannya. Dan membicarakan tentang anggota keluarga Bana jelas tidak bisa dihindari.

Kita bisa mulai dengan fakta yang sederhana dan sangat jelas: akun Twitter @AlabedBana tidak diinisiasi atau dijalankan oleh seorang gadis berusia 7 tahun dari Aleppo, meskipun seseorang (Bana) digunakan sebagai avatar hidup didalamnya. Kalian yang bingung atau meragukan poin ini, sejujurnya perlu sedikit berpikir lebih keras. Saya menulis untuk orang dewasa, dan saya berharap ditanggapi secara dewasa.

Apa yang sebelumnya terlihat secara intuitif tentang kepalsuan kisah ini, yang dipaksakan sebagai ‘teori konspirasi yang tidak masuk akal’ oleh media-media mainstream, sekarang juga dapat ditunjukkan secara empiris.

Sejak pertempuran berhenti di Aleppo, kebenaran tentang orang-orang, tempat dan kejadian di sana pada masa pendudukan dan pengepungan terjadi, mulai dapat diverifikasi. Dan kemudian terlihat bahwa kenyataan sebenarnya ternyata berbeda dari apa yang dipaksakan untuk kita percaya oleh media-media mainstream selama ini. Akun twitter @AlabedBana adalah salah satu contoh paling mencolok. Yang lainnya adalah foto bocah laki-laki Omran, yang juga akan kita singgung secara singkat pada akhir tulisan ini.

Apa yang akan saya tulis di sini sekarang tidak melibatkan penelitian mendalam atau analisis dari pihak saya. Itu telah dilakukan oleh Khaled Iskef, seorang jurnalis dari Aleppo. (Saya memuji videonya tentang @AlabedBana dan video lainnya yang mencakup berbagai aspek situasi yang sebelumnya tidak tercatat dalam situasi di Aleppo. Ia secara teratur menambahkan video ke saluran Youtube-nya).

Khaled tinggal di bagian barat kota yang dilindungi oleh pemerintah saat bagian Timur dibawah kendali teroris. Setelah dibebaskan, Khaled melihat dan melacak berbagai lokasi yang sebelumnya sudah akrab kita lihat dari berbagai laporan video yang sebelumnya dikirimkan melalui Pusat Media Aleppo (di Turki) dan seterusnya melalui media-media mainstream dunia (yang rata-rata berada dalam kendali Barat dan sekutu Arab mereka).

Dalam video terbarunya, Khaled mengajak kita berjalan-jalan sebentar di sekitar rumah Alabed dan sekitarnya, didampingi oleh Nour Al Ali dalam pembuatan film dan fotografi, mereka menunjukkan kepada kita dimana sebenarnya lokasi rumah Bana Alabed, yang ternyata bersebelahan dengan markas Al Nusra.

Khaled menunjukkan sedekat apa rumah Bana dengan markas Al Nusra yang hanya beberapa meter dari sudut jalan yang sama. Ini menjelaskan mengapa dalam akun twitternya Bana seolah menunjukkan sekitar rumahnya itu berada di area yang sedang dibom. Menurut seorang saksi setempat yang diwawancara, sekitar 100 teroris bermarkas di ruang bawah tanah di gedung yang berdekatan tersebut.

Sekarang mari mengenali keluarga Bana, keluarga Alabed. Kakek dari pihak ayah Bana ternyata pemilik toko senjata dan menyuplai senjata untuk Al Nusra dan kelompok-kelompok militan lainnya. Anak-anaknya (yang adalah saudara ayah Bana), bekerja di sana. Salah satunya telah menjalani hukuman pidana bahkan sebelum perang, atas tindak kriminal penyelundupan senjata.

Kita juga diperlihatkan foto cucu Alabed yang sekarang terkenal itu ( Bana) saat berusia sekitar 3 tahun sedang berpose dengan senjata yang lebih besar darinya dengan pandangan garang (sangat berbeda dengan penampilannya yang diperlihatkan memelas di twitter).

Ayah Bana, Ghassan, bekerja sebagai pengacara, sebelum bergabung dengan teroris bersenjata. Kita diperlihatkan foto Ghassan, bersenjata, dengan faksi militan Al Nusra dan Brigade Safwat Islam. Kita juga diperlihatkan dokumen-dokumen yang menunjukkan bahwa dia bertugas di Pengadilan Syariah yang bermarkas di ‘Rumah Sakit Mata’. Di tengah-tengah surat-surat lain yang bertebaran di rumah yang ditinggalkan itu ada dokumen-dokumen yang mengindikasikan bahwa dia adalah ‘asisten direktur Catatan Sipil Dewan Aleppo’ – sebuah organisasi “pemberontak” yang memiliki hubungan dengan negara-negara asing dan kelompok bersenjata di provinsi itu.

Dokumen lain menunjukkan bahwa Ghassan bekerja sebagai pelatih militer dan hakim investigasi untuk brigade Safwa Islam. Sebelum tahun 2015 ia juga bekerja dengan ISIS di pengadilan Syariah di Rumah Sakit Mata tersebut. Kita bisa melihat foto Ghassan sedang mengacungkan AK47 di bawah bendera ISIS. Dan satu lagi fotonya di antara kelompok Asafwa yang bersenjata. Kita juga bisa melihatnya bersama keempat saudaranya, yang masing-masing memegang senjata di luar took mereka.

Di lantai yang berserakan, juga terlihat selembar kertas berisi salah satu pesan #StandWithAleppo yang terkenal yang disampaikan ‘Bana’ lewat twitter.

Dalam video, di luar, dan hanya beberapa langkah kemudian, kita diperlihatkan sebuah ruang bawah tanah. Kita diperlihatkan kondisi di dalam markas besar Al Nusra. Di sana kita bisa melihat bendera-bendera militan, pasokan dari Turki, dan sebuah penjara.

Dalam video ini dan video lainnya, masih banyak yang bisa kita lihat. Jadi saya merekomendasikannya. Video-video ini berbeda dengan yang ditayangkan Channel 4 dan media korporasi lainnya. Apa yang mereka tawarkan adalah kesaksian yang jujur dan tidak memihak. Atau hanya merupakan sumbangsih dari seorang relawan pengamat yang berada langsung di tempat kejadian perkara .

Sebagai penduduk Aleppo, Khaled terlihat terpengaruh oleh keseluruhan situasi. Ia mengekspresikan kekecewaan besar tentang “eksploitasi anak-anak dalam usaha bermotif politik untuk menghancurkan citra pemerintahannya.” Rekan sesama warga di bagian kota tersebut mengkonfirmasi dalam videonya bahwa mereka telah dijadikan perisai manusia oleh para militan.

Khaled juga menjelaskan soal bocah laki-laki Omran yang, yang dipotret di ambulans di kursi oranye, yang merupakan sensasi media utama lainnya di Barat. Kita juga bisa melihat Omran di video Khaled. Diakini berada di Aleppo, kembali ke rumah asalnya, bukan Turki. Ia juga dijadikan umpan sorotan media dunia namun bedanya hal itu melawan keinginan keluarganya. Keluarganya senang Aleppo dibebaskan dari orang-orang seperti yang menciptakan propaganda untuk #Bana. (ARN/ Tim Hayward– 21st Century)

Tim Hayward adalah Guru Besar Teori Politik Lingkungan, Direktur pendiri Just World Institute and the Ethics Forum, dan pendiri Britain and Ireland Association for Political Thought.

About ArrahmahNews (10449 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Eksploitasi Anak Dibalik Propaganda Busuk Media Barat untuk Serang Assad – ARRAHMAHNEWS – MUSLIM CYBER KREMI [MCK TEAM]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: