Berita Terbaru

Propaganda Bin Salman Dibalik Cerita “Bin Nayef Kecanduan Narkoba”

KONFLIK KERAJAAN SAUDI MEMANAS

Selasa, 25 Juli 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, RIYADH – Ada satu rincian yang tidak disebutkan Reuters, Wall Street Journal dan New York Times ketika mereka menerbitkan cerita yang mengklaim bahwa Mohammed bin Nayef telah digulingkan sebagai putra mahkota Arab Saudi karena kecanduan obat penghilang rasa sakit. Dan itu adalah sumber dari klaim ini.

Berita yang diangkat Reuters hanya mengutip sebuah “sumber yang dekat dengan MbN” untuk percakapan yang diduga Raja Salman dengan bin Nayef, di mana sang raja konon berkata: “Saya ingin kamu mengundurkan diri, kamu tidak mendengarkan saran untuk mendapatkan perawatan bagi kecanduanmu, padahal itu sangat mempengaruhi keputusanmu”. (Baca juga: New York Times: Kronologi Kudeta Bin Nayef oleh Mohammed bin Salman)

Dua sumber terpercaya mengatakan kepada saya bahwa ini tidak benar. Mereka mengatakan bahwa tidak mungkin teman bin Nayef mengatakan hal semacam ini ke media asing. Mereka kemudian menunjuk seorang pria dengan penilaian buruk, seseorang yang kualitasnya pernah diremehkan oleh mantan pangeran mahkota. Kedua sumber tersebut menuding dalang yang menebar cerita Bin Nayef kecanduan Narkoba adalah Saud Al-Qahtani. Saya diberi tahu bahwa dialah yang mengatur pertemuan dengan pers.

Saud al-Qahtani

Al-Qahtani telah menjadi lebih dari mata dan telinga bagi Mohammed bin Salman, pangeran mahkota saat ini, di pengadilan Kerajaan. Al-Qahtani mulai menjabat saat bin Salman mengundurkan diri sebagai sekretaris Pengadilan Kerajaan untuk menjadi wakil putra mahkota.

Dialah yang menghubungi wartawan Saudi untuk memberi tahu mereka apa yang tidak boleh mereka tulis atau tweet. Seni gelap yang pernah dipraktikkan oleh Khaled Tuwaijri, mantan sekretaris Pengadilan Kerajaan di bawah Raja Abdullah, sekarang dipraktikkan oleh al-Qahtani. (Baca juga: Saudi Kampanye Media Untuk Normalisasi Hubungan dengan Zionis)

Hal ini jelas membuat perbedaan terkait kevalidan laporan berita itu sendiri. Laporan-laporan itu bukan lagi deskripsi tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik tirai emas Saudi yang terkenal itu. Laporan tersebut, tanpa disadari, mungkin merupakan bagian dari kampanye untuk menghabisi korban.

Karena, bin Nayef bukan saja ditendang dari posisinya untuk memberi jalan bagi putra muda raja yang sedang sakit itu, bukan hanya Pengawal, penasehat, dan telepon genggamnya saja yang diambil darinya sampai dia dipaksa untuk mengundurkan diri dan difilmkan memberikan sumpah setia kepada sepupunya yang lebih muda tersebut, tapi sebuah penghinaan juga ditambahkan melalui kampanye media yang mencemarkan namanya sebagai pecandu morfin. (Baca juga: TERUNGKAP! Putra Mahkota Saudi “Bin Nayef” Kecanduan Narkoba)

Ironisnya, ini adalah taktik yang sama dengan yang dilakukan pengadilan Raja Abdullah untuk mencoba dan menghentikan Pangeran Salman, pangeran mahkota saat itu, untuk mewarisi tahta. Tuwaijri mencoba menggunakan demensia Salman sebagai cara untuk mengangkat Pangeran Meteb ke posisi terdepan. Siasat itu kemudian gagal akibat kematian raja yang terlalu cepat. Anak Salman, kini beroperasi dari buku pedoman yang sama.

Rumah Tangga Kerajaan Saudi Pecah

Namun, taktik ini menyebabkan reaksi balik di dalam House of Saud (Rumah Tangga Kerajaan Saudi). Saya diberi tahu bahwa ada kemarahan dan kegeraman terhadap cara kotor yang menyeret nama bin Nayef .

Seorang pangeran mengatakan dengan marah bahwa ini bukan Arab Saudi yang dia kenal. Ia membandingkan perseteruan pahit hari ini antara bin Salman dan bin Nayef dengan perebutan kekuasaan yang berlarut-larut yang pernah terjadi antara Pangeran Faisal dan Raja Saud. (Baca juga: Mantan Putra Mahkota Arab Saudi Berada Dalam Tahanan Rumah)

Pernah kala itu Faisal memerintahkan Garda Nasional untuk mengelilingi istana Raja, namun ia tidak pernah membiarkan salah seorang dalam istananya untuk mencemarkan nama baik raja yang pada akhirnya diasingkan. Martabat dan privasi dijaga meski semua itu terjadi. Namun ini tidak terjadi hari ini, dan mungkininilah alasan mengapa orang-orang dalam Saudi merasa bahwa Bin Salman tengah membawa mereka ke perairan yang tak dikenal.

Perang media sosial kini telah dimulai di kerajaan di mana sebuah cuitan twitter yang anda posting bisa memberi Anda hukuman lima tahun penjara. Putra Raja Fahd, Abdulaziz bin Fahd, telah memulainya dengan mentweet di bawah hashtag “Tidak untuk melukai Muhammad bin Nayef”.

Dua pangeran juga telah muncul secara terang-terangan untuk menentang bin Salman. Salah satunya adalah Pangeran Meteb bin Abdullah yang mempertahankan posisinya sebagai menteri dan merupakan kepala Garda Nasional dimana rencana sebelumnya untuk menyingkirkannya mengalami kegagalan. Yang lainnya adalah Pangeran Ahmad Abdulaziz, saudara termuda Raja Salman.

Sebuah video ponsel dari ruang tamu untuk menerima ucapan belasungkawa setelah pemakaman Abdulrahman bin Abdulaziz, saudara laki-laki Ahmad dan Raja Salman, menjadi viral. Alasannya karena hanya dua potret yang dipajang di ruang upacara itu. Kedua foto tersebut adalah foto Raja Abdulaziz, pendiri negara Saudi, dan foto Raja Salman, raja Saudi saat ini. Dinding kosong dalam ruangan itu memiliki tempat untuk tiga lagi gambar besar, tapi mengapa hanya ada dua potret yang tergantung? Inilah cara mengirim pesan perlawanan di kerajaan hari ini.

G20 dan reformasi militer Saudi

Ada indikasi lain mengenai gejolak di dalam Keluarga Kerajaan. Baik raja maupun calon raja tidak hadir dalam pertemuan G20 baru-baru ini dimana Kerajaan tersebut adalah salah satu anggotanya. Masalah apa yang cukup kuat untuk membuat bin Salman tetap berada di kerajaan, dan menghentikannya dari melangkah ke pentas internasional sebagai pangeran yang akan menjadi raja? G20 merupakan kesempatan emas untuknya menjadi sorotan. Sesuatu yang besar pasti telah menghentikan bin Salman untuk pergi. (Baca juga: Raja Salman dan Pangeran Mahkota Tak Hadiri KTT G20 Karena Ancaman Kudeta)

Isu selanjutnya adalah mereformasi angkatan bersenjata. Ada alasan bagus untuk mengkonsolidasikan kekuatan militer kerajaan. Meskipun tidak ada pusat kekuatan saingan di kerajaan, ada sebuah kasus untuk menciptakan sebuah struktur pertahanan terpadu yang menggabungkan ketiga kekuatan kerajaan.

Garda Nasional pada awalnya dibentuk untuk memberikan pekerjaan bagi para sukarelawan yang bertempur dengan pendiri negara. Di tangan bin Salman, bagaimanapun, kekuatan ini tidak bisa dibiarkan. Ia dilaporkan tidak mempercayai Garda Nasional atau kekuatan Kementerian Dalam Negeri, yang masih setia kepada Nayef yang digulingkan. Oleh karena itu dia berencana untuk memperluas Garda Kerajaan, dengan menggunakan mantan tentara AS untuk membangun kembali kekuatan tersebut.

Kecerobohan Muhammad bin Salman

Dalam kasus bin Salman, bukan lagi saatnya untuk bertanya apa yang bisa menjadi kesalahan bagi pemuda yang disepuh emas itu, tapi lebih tepat untuk bertanya apa yang bisa ia lakukan dengan benar? Ini dikarenakan reputasi ceroboh yang telah ia bangun selama ini. (Baca juga: Memanasnya Konflik Bin Salman Versus Bin Nayef)

Kampanye yang diluncurkannya melawan Qatar ternyata dimaksudkan untuk menghasilkan sebuah kudeta. Ada laporan yang kredibel bahwa bin Salman menerima anggota al-Thani, Keluarga Kerajaan Qatar, sebelum melakukan hacking di situs resmi Doha. Bom media yang dijatuhkannya ke Qatar seharusnya didahului oleh sebuah invasi, namun karena suatu alasan, tank-tank tersebut tidak pernah berguling dan kudeta itu sendiri tidak pernah terjadi. (Baca juga: Arab Saudi vs Qatar: Negara-negara GCC Akan Runtuh)

Tidak ada yang ragu sekarang bahwa bin Salman sekarang akan menjadi raja. Dia telah memperoleh semua kekuatan. Namun Pangeran yang impulsive ini, bagaimanapun, tidak akan menikmati perlindungan sebagai raja sebagaimana yang dimiliki ayahnya yang berusia 81 tahun. Tidak ada yang berteriak-teriak untuk pemecatannya, meski sang raja menunjukkan gejala demensia. Salah satu pertanda ini adalah kebingungan dan rentang perhatiannya yang pendek dalam percakapan, serta disorientasi pada perjalanan ke luar negeri. Untuk mengatasi hal ini, ia selalu ditemani oleh perabot dari istananya kemanapun ia pergi, untuk membuatnya merasa betah. (Baca juga: Penyakit Pikun Raja Salman Makin Parah, Situasi Internal Kerajaan Memanas)

Meskipun demikian, raja dilindungi oleh statusnya sebagai penatua keluarga. Ini adalah polis asuransi yang tidak bisa didapat oleh putra kesayangannya. Posisi bin Salman di negeri itu akan lebih mirip dengan perdana menteri yang dinilai berdasarkan penampilannya ketimbang pangkatnya.

Hal ini berarti bahwa nantinya bin Salman akan dipersalahkan untuk kesalahan pertama yang ia lakukan (setelah jadi raja). Dan karena selama (kekuasaan Raja Salman) kerajaan ini telah dijalankan secara ngawur, maka semakin banyak barisan musuh pangeran di dalam dan di luar Keluarga Kerajaan yang berpikir bahwa mereka tidak akan menunggu terlalu lama. (ARN/David Hearst)

David Hearst adalah pimpinan redaksi Middle East Eye. Ia adalah kepala penulis asing The Guardian, mantan Associate Foreign Editor, European Editor, Kepala Biro Moskow, Koresponden Eropa, dan Koresponden Irlandia. Ia bergabung dengan The Guardian dari The Scotsman, diamana ia menjadi koresponden pendidikan.

About ArrahmahNews (11782 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: