Berita Terbaru

Iran Akan Berikan Tanggapan Menentukan atas Sanksi Baru AS

Rabu, 26 Juli 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, TEHERAN – Seorang pejabat senior Iran telah mengecam persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat AS untuk sebuah rancangan undang-undang untuk mengenakan sanksi baru terhadap Republik Islam Iran, dengan memberikan sebuah “tanggapan yang menentukan” terhadap langkah “bermusuhan” tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Abbas Araqchi membuat pernyataan di sela-sela KTT untuk mencegah kejahatan dunia maya di Teheran pada hari Rabu (26/07).

“Tindakan yang diambil oleh Kongres AS dan undang-undang baru yang disahkan untuk melawan Iran, Rusia dan Korea Utara adalah tindakan bermusuhan yang terang-terangan terhadap Republik Islam Iran, yang akan mendapat tanggapan yang menentukan,” katanya.

Ucapan tersebut muncul sehari setelah DPR memberikan suara 419-3 untuk sebuah undang-undang yang akan menetapkan sanksi baru terhadap Iran, Rusia dan Korea Utara.

RUU tersebut harus melewati Senat AS sebelum dikirim ke Gedung Putih, Presiden Donald Trump, untuk memveto atau menandatangani undang-undang tersebut.

Ini menargetkan Korea Utara dan Iran mengenai program rudal balistik mereka serta Rusia mengenai dugaan campur tangan dalam pemilihan 2016 AS dan reintegrasi Semenanjung Crimea Laut Hitam.

Ketua DPR Paul Ryan mengatakan sanksi “memperketat sekrup musuh paling berbahaya kita agar orang Amerika aman.”

Araqchi lebih lanjut mengatakan bahwa Iran selama beberapa tahun terakhir menghadapi “gerakan bermusuhan” serupa oleh Kongres AS dan pemerintah, bahwa pendekatan semacam itu “tidak khusus bagi pemerintah sekarang atau sebelumnya” di Washington.

RUU baru tersebut sebenarnya adalah sebuah “kesimpulan dari sanksi AS sebelumnya di bidang non-nuklir,” katanya, dan menambahkan bahwa hal itu “dapat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan” kesepakatan nuklir 2015, yang secara resmi disebut Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Akibatnya, Araqchi mengatakan rancangan undang-undang sanksi “tidak sesuai dengan klausul JCPOA, di mana AS berkomitmen untuk melaksanakan kesepakatan dengan niat baik dan dalam suasana yang konstruktif.”

Administrasi Trump baru-baru ini menjamin ke Kongres untuk kedua kalinya sejak menjabat pada bulan Januari bahwa Iran mematuhi kesepakatan nuklir tersebut.

Araqchi mengatakan bahwa Washington tidak memiliki pilihan lain, mengingat bahwa Badan Energi Atom Internasional telah mengkonfirmasi kepatuhan Iran terhadap kesepakatan tersebut.

Dia menekankan bahwa Iran “akan tetap sabar dan membuat keputusan praktis sesuai dengan tindakan AS.”

JCPOA ditandatangani antara Iran dan negara-negara P5 + 1 – yaitu Amerika Serikat, Rusia, China, Prancis, Inggris, dan Jerman – pada bulan Juli 2015 dan mulai berlaku pada bulan Januari 2016.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, yang kemudian disahkan oleh sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB, batas-batas diterapkan pada kegiatan nuklir Iran dengan imbalan penghapusan semua larangan terkait nuklir yang diberlakukan pada Republik Islam Iran.

Administrasi Trump, yang mengambil alih pada bulan Januari 2017, satu tahun setelah JCPOA mulai berlaku, namun bagaimanapun menampar sanksi terhadap Iran yang melanggar kesepakatan nuklir. [ARN]

About ArrahmahNews (10973 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: