Berita Terbaru

Analis: Demi Dukungan AS, Arab Saudi Rela jadi Budak Israel

Kamis, 27 Juli 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, LONDON – Seorang analis sosial-politik ternama dari Inggris, Dr. Daud Abdullah, mengatakan bahwa demi mendapatkan dukungan Amerika Serikat terhadap kerajaannya, Arab Saudi rela menjadi pelayan bagi kepentingan Israel termasuk mempelopori dorongan regional untuk normalisasi hubungan dengan negara yang secara illegal telah menduduki tanah bangsa Palestina tersebut.

Dalam ulasannya di palestinechronicle.com pada hari Kamis pekan lalu (20/07), Abdullah menyatakan bahwa selain membungkam majelis agama dari kecaman terhadap kekejaman Israel di Palestina, Pemerintahan Arab Saudi juga telah memprakarsai upaya untuk mendorong negara-negara Arab regional menormalisasi hubungan dengan Israel. (Baca juga: Arab Saudi dan Mesir Bungkam Menyaksikan Kejahatan Israel di Masjid Al-Aqsa)

“Keyakinan dan penalaran mereka adalah bahwa persahabatan dengan Israel merupakan jaminan terbaik dari dukungan AS untuk diri mereka sendiri,” tulis direktur Middle East Monitor dan juga penulis A History of Palestinian Resistance tersebut. (Baca juga: Inilah 10 Kesamaan Antara Israel dan Saudi)

Menunjuk pada apa yang disebut Arab Islamic American Summit, yang diadakan di ibukota Saudi, Riyadh, Abdullah mengatakan bahwa pertemuan tersebut telah melanjutkan agenda Israel di kawasan.

“Dengan latar belakang ini, KTT negara-negara Muslim di Riyadh pada bulan Mei lalu memberi Arab Saudi apa yang oleh Amerika dipandang sebagai kesempatan terakhir untuk memetakan arah perjalanan yang baru. Donald Trump memilih Arab Saudi sebagai negara pertama yang dikunjungi karena Presiden menekankan pentingnya mengeratkan hubungan dengan Kerajaan. “ (Baca juga: Whistle Blower Ungkap Dimensi Baru Hubungan Rahasia Saudi-Israel)

“Meskipun tidak diwakili secara resmi di KTT itu, Israel muncul sebagai penerima keuntungan yang sesungguhnya. Demi kesenangan dan kepuasannya, negara Zionis itu disuguhi aksi presiden AS yang berdiri untuk berpidato di sebuah ibukota negara Arab, dan seenaknya menyamakan Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, dengan ISIS (Daesh) dan Al-Qaeda. “

Abdullah juga mengatakan tidak ada akhir untuk tuntutan Washington dari beberapa negara Arab. “Semuanya datang dengan harga yang harus dibayar, dan daftar tuntutan dari AS seperti tidak ada habisnya.” (Baca juga: Catherine Shakdam: PBB Terlibat Kejahatan Perang Kotor Saudi di Yaman)

Seperti yang sering dikatakan orang Amerika, “tidak ada makan siang gratis,” kata Abdullah.

Di tempat lain dalam artikel tersebut, analis itu juga mengolok-olok hasil KTT yang isinya berupa kerja sama antara Amerika Serikat dan Arab Saudi untuk melawan terorisme. Mengomentari ironisnya kerjasama itu, Abdullah mengatakan bahwa rezim di Riyadh telah lama menyebarkan ideologi ekstremis dan mensponsori kelompok teror.

“Arab Saudi telah lama terlihat di Barat sebagai eksportir utama dan sponsor Salafisme di seluruh dunia,” kata Abdullah. “Rezim di Riyadh saat ini terlibat dalam pertarungan hukum untuk menghindari pembayaran kompensasi kepada korban serangan 9/11 di New York di bawah Undang-Undang Pelanggaran terhadap Terorisme (JASTA).” (ARN)

About ArrahmahNews (10895 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: