Ekonomi

Menteri Susi Tanggapi Sandiaga Uno Soal Impor Garam

Rabu, 2 Juli 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Wakil gubernur terpilih DKI Jakarta Sandiaga Uno mempertanyakan alasan pemerintah membuka keran impor garam. Dia menilai sangat aneh ketika Indonesia harus mengimpor garam, sedangkan dalam kenyataannya memiliki laut yang cukup luas untuk dimanfaatkan.

Sandiaga menduga kelangkaan garam terjadi karena kurangnya pengusaha yang bergerak dalam sektor tersebut.

“Ini garam sangat ironi, bagaimana bisa punya laut yang luas, garis pantai, bisa mengimpor garam. Salahnya di mana?” ujar Sandiaga saat menghadiri acara Pusat Koperasi Pedagang Pasar DKI, di Jakarta Timur, Rabu (2/8/2017).

Pernyataan itu lantas mendapatkan respons dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Melalui akun Twitter pribadinya, Susi menjawab pertanyaan yang disampaikan Wakil gubernur terpilih DKI Jakarta itu.

“Pak Sandi harusnya tanya kawan-kawannya pengusaha atau importir garam yang sudah puluhan tahun berdagang garam. Kenapa bisa begitu?” tulis Susi seperti dikutip dari akun Twitter pribadinya, Jakarta, Rabu (2/8/2017). (Baca juga: Menteri Susi Gandeng Pertamina Kembangkan Potensi Laut RI)

Menurut menteri nyentrik asal Pangandaran Jawa Barat itu, ia baru 2,5 tahun jadi Menteri Kelautan dan Perikanan dan mengetahui fakta lapangan bahwa harga garam di tingkat petani sangat rendah hanya Rp 400 per kg.

Rendahnya harga garam petani itu tutur Susi disebabkan banyak masuknya garam impor murah saat petani garam sedang panen. Akibatnya, harga jual garam di tingkat petani menjadi sangat rendah.

Sejak 2015 lalu, Susi sempat mengungkapkan ada 7 perusahaan yang bukan produsen-importir tapi mengimpor garam industri. Hal ini membuat garam impor industri merembes ke pasar dan memukul harga garam produksi petani.

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli bahkan pernah menyebut 7 pengusaha itu sebagai begal garam. Mereka diduga melakukan praktik kartel garam dengan menetapkan kuota impor garam. Hal ini dinilai membahayakan industri dan petani garam nasional.

Namun saat itu, pemerintah tidak menyebut rinci siapa perusahaan atau pengusaha dibalik 7 begal garam tersebut. (ARN)

Sumber: kompas

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: