NewsTicker

Dewan Agung Militer Turki Copot Panglima Angkatan Darat, Laut dan Udara

Kamis, 03 Agustus 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, ANKARA – Badan tertinggi militer Turki telah memutuskan untuk mengganti komandan Angakatn Darat, Angkatan Udara dan Angkatan Laut dalam guncangan terbaru angkatan bersenjata menyusul kudeta yang gagal tahun lalu, dimana pemerintah Ankara menyalahkan Fethullah Gulen yang berbasis di AS. (Baca juga: Mujtahid: Arab Saudi, UEA Terlibat Kudeta Turki)

Selama pertemuan Dewan Agung Militer (YAS) yang dipimpin oleh Perdana Menteri Binali Yildirim di Istana Cankaya di ibukota Ankara pada hari Rabu (2/8), memutuskan untuk mengganti Panglima Angkatan Darat Jenderal Salih Zeki Colak, Panglima Angkatan Laut Admiral Bulent Bostanoglu dan Panglima Angkatan Udara Abidin Unal.

Komandan Gendarmerie dan mantan wakil kepala staf, Jenderal Yaşar Güler, diangkat sebagai Panglima Aangkatan Darat, sementara Wakil Laksamana Adnan Özbal menggantikan Bostanoglu, sebagai Panglima Angkatan Laut. Jenderal Hasan Küçükakyüz diangkat sebagai Panglima Angkatan Udara yang baru.

Keputusan yang dibuat selama pertemuan YAS dipresentasikan kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan di kemudian hari untuk persetujuan formal. Kantor berita resmi Turki Anadolu melaporkan pada tanggal 23 Juli bahwa sejumlah jenderal dan laksamana di militer Turki telah menurun 40 persen karena pemecatan setelah kudeta yang gagal.

Dikatakan jumlahnya telah menurun dari 326 menjadi 196 setelah usaha kudeta militer.

Turki menyaksikan sebuah usaha kudeta pada 15 Juli 2016, ketika sebuah faksi militer Turki menyatakan bahwa pemerintah Erdogan tidak lagi bertanggung jawab atas negara. Beberapa jam kemudian, kudeta itu ditekan. Hampir 250 orang tewas dan hampir 2.200 lainnya luka-luka dalam kudeta yang gagal tersebut. (Baca juga: Analis; Mengapa Upaya Kudeta Terjadi di Turki?)

Gulen telah mengecam usaha kudeta tersebut dan membantah keras keterlibatan apapun di dalamnya. Turki tetap dalam keadaan darurat militer sejak kudeta tersebut, dan Ankara telah terlibat dalam menekan media dan kelompok oposisi, yang diyakini telah memainkan peran dalam kudeta yang gagal.

Lebih dari 40.000 orang telah ditangkap dan lebih dari 120.000 lainnya dipecat atau diskors dari berbagai profesi, termasuk tentara, polisi, guru, dan pegawai negeri, karena dugaan hubungan dengan kudeta yang gagal tersebut. Banyak kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, telah mengecam keras tindakan Ankara. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: