Berita Terbaru

Korupsi Pikiran Publik Sama Jahatnya Dengan Korupsi Uang Negara

Sabtu, 5 Agustus 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – “Mereka yang mengorupsi pikiran publik adalah sama jahatnya dengan mereka yang mencuri dari dompet publik.” (Adlai Stevenson, politisi dan Dubes AS untuk PBB, 1900-1965)

Pada umumnya, jika kita mendengar kata “korupsi” maka yang langsung terlintas dalam pikiran adalah korupsi terkait dengan uang negara atau harta milik publik. Padahal korupsi juga bisa terjadi terhkait dengan pikiran atau opini publik.

Korupsi jenis kedua ini tak kalah berbahaya dan berdampak serius bagi kehidupan masyarakat dan negara. Sebab dengan melakukan korupsi terhadap pikiran opini publik, maka terjadilah sebuah kebangkrutan dalam kehidupan publik yang pada gilirannya akan memberi kesempatan bagi kekuasaan otoriter untuk melakukan berbagai tindakan yang merusak.

Korupsi terhadap pikiran publik terjadi ketika kesempatan dan wahana bagi pengebangan pikiran dan/ atau opini hanya dimiliki dan dikontrol oleh sementara kelompok kepentingan, misalnya penguasa atau pemilik industri media. Mereka kemudian akan menggunakan kekuasaannya untuk merekayasa opini dan bahkan kesepakatan publik mengenai persoalan strategis yang seharusnya dapat didiskusikan di ruang publik. Bahkan para koruptor pikiran ini juga mampu memanfaatkan para pakar, pengamat, pembuat keputusan dan pejabat untuk mendukung proses rekayasa tersebut. Hasilnya, pikiran dan opini publik menjadi hanya sebuah komoditas yang diperjual belikan untuk kepentingan-kepentingan segelintir orang.

Dalam masyarakat deokratis yang terbuka, publik juga harus awas dan wapada terhadap korupsi dan koruptor pikiran tersebut. Di era “post-truth” saat ini, para pemilik industri media sangat sukses dalam membuat setting agenda-agenda politik yang sesuai dengan kepentingan oligarki politik. Apalagi kalau pemilik media tersebut juga pemain politik praktis dan sekaligus memiliki jejaring konglo merasi! Potensi bagi korupsi pikiran yang sangat besar dan dahsyat semakin nyata!

Manusia cenderung menerima sesuatu yang awal, sesuatu yang mencolok dan kadang hanya akhirnya saja. Atau manusia itu lebih menerima sesuatu yang meneguhkan dan sesuai selera dirinya. Disinilah masalah terjadi dan disinilah rekayasa dan mengorupsi pikiran publik berlangsung.

Berikut beberapa contoh kasus:

1) Saat Kasus heboh makna pemimpin dalam al Maidah 51, dan seakan menyudutkan tafsir dari depag. Tiba-tiba MMI (Majlis Mujahidin Indonesia) dan Majiles ad Dzikra pimpinan Arifin Ilham mengatakan, ada 3.229 kesalahan dalam terjemahan Depaq. Dan mereka berencana mengganti semua al Qur’an dari versi depag ke MMI. Heboh didunia Medsos, karena itu viral di WA dan WA Group (WAG). Kkarifikasi depaq datang kemudian, dan setelah melihat penjelasan Depaq, akan sangat terlihat siapa yang salah dan benar. Dan siapa yang sok dan arogan. https://kemenag.go.id/berita/read/504945/penjelasan-tentang-dugaan-kesalahan-terjemah-al-quran-kementerian-agama

2) Kasus bahwa pemerintah bohong, tidak akurat dst tentang penggerebekan PT. IBU (Beras Emak Nyuss). Opini berseliweran di Medsos, seakan-akan sangat ngawur, tidak adil, berbohong dan bodoh pemerintah dan polisi melakukan itu. Tetapi setelah duduk bareng di TV-One, terlihat jelas bagaimana duduk perkaranya.

3) Demikian juga masalah PERPU tentang pembubaran Ormas. Bagaiamana opini awal yang sangat kacau dan seakan pemerintah sangat sewenang-wenang, tetapi saat terjadi dialog di ILC TV-One, yang menghadirkan pakar-pakar seperti Yusril Ihza Mahendra, Rafly Harun dan juga Romli Atmasasmita, akan terlihat itu. https://www.youtube.com/watch?v=hRD4DZHQ008

Disini tidak sedang melihat benar salahnya, tetapi bagaimana opini itu dibangun oleh kelompok tertentu masyarakat, untuk mengarahkan masyarakat mendukung posisi-nya dan mencoba menohok yang lain.

Fatalnya, informasi yang awal adalah yang diterima oleh masyarakat, sebab itu baru, sebab itu meneguhkan dirinya, sebab itu sesuai dengan seleranya. Opini tandingan, penjelasan balik itu tidak banyak artinya. Sebab manusia itu cenderung sulit merubah posisi awalnya, lebih senang meneguhkan daripada merombak.

Lalu apa yang terjadi? Masihkan kita perlu bahkan sibuk mendiskusikan opini-opini mereka? Berapa waktu yang kita buang, dan mereka menggerogoti pihak lain (kelompok awam, lugu ataupun netral), bahkan kita sendiri berpecah. Mengapa tidak lebih baik kita juga sadar dan cerdas dalam bermedsos. Dengan menggali informasi kebenaran buat diri kita atau mengopini, melawan hoax pihak lain, memberikan opini tandingan dan seterusnya. [ARN]

About ArrahmahNews (11800 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: