Berita Terbaru

Analis: Perang Yaman Blunder Terbesar Kerajaan Saudi Sepanjang Abad

Selasa, 08 Agustus 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, LONDON – Ditengah epidemi kolera mematikan merupakan bencana kemanusiaan hasil agresi Saudi di Yaman, situasi militer dan politik di negara tersebut juga mengalami keadaan buntu. Selain serangan rudal Houthi sesekali ke wilayah Saudi dan pertempuran sporadis di perbatasan Saudi-Yaman yang telah menjadi rutinitas, medan perang tampak lebih tenang akhir-akhir ini daripada sebelumnya, sementara proses negosiasi/politik dalam keadaan lumpuh. (Baca juga: Analis: Saudi dan Negara-negara Koalisi Cemas atas Kemajuan Unit Rudal Yaman)

Satu-satunya kepastian adalah bahwa koalisi Saudi telah gagal dalam mengatasi perang yang mereka luncurkan dua setengah tahun lalu. Agresi terhadap Yaman itu kini telah berubah menjadi beban keuangan, sumber daya manusia dan politik pada aliansi ini serta negara-negara anggotanya, selain bencana bagi Yaman dan masyarakatnya.

Sebuah laporan yang muncul di AS minggu ini menyebut bahwa ditengah keputusasaannya, koalisi Saudi ini diam-diam mengadakan negoisasi dengan pihak Yaman untuk mengakhiri perang dalam beberapa bulan kedepan.

Menurut situs web Just Security, pejabat Saudi dan UEA bertemu dengan perwakilan dari dua bekas sayap partai Kongres Rakyat Umum (GPC) yang sebelumnya berkuasa di Yaman, yaitu faksi yang mendukung presiden yang diasingkan di Saudi, Abdu Rabbo Mansour Hadi, dan faksi yang dipimpin oleh mantan presiden Ali Abdallah Saleh. (Baca juga: GAME OVER! Perang Yaman Takdir Kehancuran Kerajaan Saudi)

Sebuah ‘tawaran besar’ dilaporkan disepakati dimana Khaled Bahhah (mantan wakil yang dipecat Hadi tapi disukai oleh UEA) akan menjadi perdana menteri untuk masa interim sebelum memegang jabatan presiden, sementara putra Saleh, Ahmad, akan ditunjuk sebagai menteri pertahanan sebagai bagian dari Koalisi baru

Tapi seorang tokoh GPC terkemuka yang dihubungi oleh Raialyoum membantah bahwa pertemuan semacam itu telah terjadi, mereka menekankan bahwa faksi Saleh tidak akan pernah masuk ke dalam pembicaraan mengenai kesepakatan politik tanpa partisipasi sekutu mereka Houthi.

Ia mengatakan bahwa laporan ini adalah informasi palsu yang ditujukan untuk menabur kecurigaan di antara kedua belah pihak. Pejabat tersebut mengakui bahwa telah terjadi pertemuan antara perwakilan GPC dan UEA. Tapi ia mengatakan bahwa pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan apapun, dan bersikeras bahwa tidak ada pertemuan dengan orang Saudi. (Baca juga: Mohammed Bin Salman dan Khayalan Kemenangan Saudi dalam Perang Yaman)

Perwakilan PBB, Ismail Ould Cheikh Ahmed, juga telah kembali ke wilayah tersebut untuk kunjungan singkat setelah absen dalam waktu lama karena kegagalan upaya mediasi dan tuntutan oleh beberapa partai bahwa dia harus diganti. Houthi, khususnya, telah menuduhnya bersikap bias terhadap pihak Saudi dan memberikan veto pada pertemuan lebih lanjut dengannya. Itu berarti proses perdamaian yang disponsori PBB telah berakhir, atau menunggu resusitasi.

Perkembangan baru yang lebih signifikan adalah usaha Hadi saat ini untuk mengumpulkan parlemen Yaman di kota Aden, yang berada di bawah kendali pasukan bayaran Saudi dan/atau Emirat. Ia telah terlibat dalam kontak intensif dengan anggota parlemen dengan tujuan untuk mengamankan kuorum dan memastikan bahwa anggota yang hadir cukup untuk membuat sidang yang diusulkan menjadi legal. Namun usahanya belum berhasil sejauh ini, dengan banyak anggota menolak untuk ambil bagian meski ditawari uang dalam jumlah besar. (Baca juga: Analis: Negara-negara Arab adalah Boneka Washington)

Sedangkan Saudi, dalam kebingungannya menemukan cara mengakhiri perang Yaman, telah sampai pada tahap menjangkau apa yang mereka pikir sebagai para pemimpin komunal dan politik Syiah di Irak, yang sampai kemarin, selalu dikecam oleh kerajaan dan secara rutin difitnah dan dicela oleh media-media mereka.

Saudi dengan melakukan hal ini, tampaknya sedang berusaha untuk menetapkan panggung guna membuka saluran komunikasi dengan Houthi dan kemudian menemukan cara untuk melepaskan diri dari perang di Yaman.

Intervensi kerajaan (di Yaman) telah menjadi bencana kesalahan, dan kerajaan saat ini sedang mencari kesepakatan yang akan memberikan jalan keluar untuk menyelamatkan wajah mereka. Tapi tetap saja mereka menolak untuk mengakui bahwa merekalah yang memulai perang, yang bertanggung jawab atas kerugian material dan manusia, atau memberikan kompensasi financial untuk itu.

Kami meragukan bahwa solusi untuk krisis Yaman sudah dekat, baik melalui mediator PBB atau melalui pembicaraan rahasia. Houthi akan terus meluncurkan serangan rudal dan serangan rudal lintas batas mereka, sementara Saudi dan sekutu mereka terpaksa menyaksikan tagihan atas kesialan mereka yang terus meningkat. (ARN)

Sumber: tulisan Abdel Bari Atwan, pimpinan redaksi Raialyoum

About ArrahmahNews (10975 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: