Akhirnya Blokir Telegram Dibuka Kominfo

Kamis, 10 Agustus 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika mengumumkan bahwa pihaknya telah membuka 11 situs Telegram yang sebelumnya diblokir, Kamis (10/8).

Sebanyak 166 channel konten negatif terorisme dan radikalisme yang dilaporkan Kominfo dan lembaga terkait lainnya telah ditutup Telegram. Proses normalisasi dimulai sejak pukul 10.46 WIB pada Kamis (10/8).

“Jadi setelah progress yang sama-sama dikerjakan Telegram dengan Kominfo, hari ini Telegram sepenuhnya dibuka sehingga masyarakat bisa sepenuhnya menggunakan dan memanfaatkan Telegram website,” terang Rudiantara.

Proses yang dimaksud adalah pembahasan kesepakatan antara pemerintah dengan Telegram beberapa waktu lalu. Pria yang kerap disapa Chief RA itu menerangkan bahwa pihaknya dan CEO Pavel Durov setuju untuk menjalankan beberapa kesepakatan.

Pertama, Telegram akan menugaskan perwakilan khusus di Indonesia yang akan berhubungan langsung dengan pemerintah jika dibutuhkan komunikasi lanjutan. Secara sistem, perusahaan aplikasi chat asal Rusia tersebut juga berjanji akan membuat script, peranti lunak kecil untuk melakukan filtering di Telegram sendiri. (Baca juga: Kominfo Buka Blokir Telegram Pekan Depan)

“Jika kita sedang cari konten yang berisi ISIS misalnya, ketik ISIS nanti konten-konten yang ada di Telegram akan muncul sehingga by sistem Telegram akan melakukan penutupan (channel/grup). Kemarin sudah setiap hari mereka melakukan suspend terhadap 10 channel atau grup yang bisa diakses di Indonesia,” terang Ully Taruli selaku Koordinator Trust Positif Kominfo.

Kemudian, Kominfo dan Telegram juga sepakat mengenai standar operasional procedure (SOP) jika masih ada konten-konten negatif khususnya yang berkaitan dengan radikalisme dan terorisme. Pemerintah dan Telegram mengusahakan laporan yang masuk akan diproses dan ditindaklanjuti dalam 1×24 jam.

“Jadi (SOP) kepada siapa menghubungi, bagaimana caranya, komunikasi seperti apa dengan service level pada hari yang sama diselesaikan. Mudah-mudahan kalau ada yang mengadukan konten ke kami, kita proses agar bisa ditindaklanjuti di hari yang sama untuk diturunkan jika kontennya memang negatif; terutama yang berhubungan dengan terorisme dan radikalisme,” terang Rudi.

Selain itu, Kominfo juga mendapatkan jalur khusus “report button” untuk menanggapi isu-isu atau konten-konten radikalisme dan terorisme di Telegram. Jalur ini juga akan digunakan Kominfo untuk menanggapi laporan secara cepat jika mendapat laporan dari lembaga atau kementerian lainnya.

Akan tetapi saat dicoba mengakses, hanya enam situs Telegram yang bisa diakses hingga pukul 14.44 WIB. Keenam situs tersebut antara lain adalah telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, dan web.telegram.org.

Lima situs lain termasuk pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, flora-1.web.telegram.org, t.me, dan venus.web.telegram.org belum bisa diakses.

 “Proses normalisasi itu kan melibatkan ISP, itu kan kadang-kadang seberapa cepat mereka menanggapi… kan ada operator yang cepat. Ketentuannya 1×24 jam, besok pasti sudah bisa. Paling lama besok (sudah bisa mengakses),” jawab Dirjen APTIKA Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan di kesempatan yang sama.

Sekadar informasi, Kominfo menutup 11 DNS Telegram pada 14 Juli silam karena menemukan konten bersifat radikal dan terorisme dalam channel aplikasi chat tersebut. Kominfo telah melakukan pertemuan dengan CEO Pavel Durov di Jakarta pada 1 Agustus lalu untuk membahas teknis penanganan konten negatif, terutama terkait terorisme.

Langkah normalisasi ini sesuai dengan janji Semuel yang berniat menormalisasi seluruh DNS Telegram di pekan kedua Agustus. (ARN)

Sumber: cnnindonesia

About ArrahmahNews (12202 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: