Headline News

Satgas Waspada Investasi: Kasus First Travel Murni Penipuan Untuk Perkaya Diri

Selasa, 22 Agustus 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Dugaan kasus penggelapan dana calon jamaah umrah oleh First Travel terus diusut. Perkembangan terakhir dari kasus ini adalah murni penipuan untuk memperkaya diri sendiri. “Ini adalah penipuan untuk memperkaya diri sendiri,” jelas Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing seperti dilansir oleh Okezone, Jakarta, Selasa (22/8/2017). (Baca juga: Merangkai Fakta Permainan Busuk MOSSAD Dan SAUDI Dibalik Tragedi Mina)

Dengan demikian, tidak ada dugaan penggunaan skema ponzi dalam menghimpun dana calon jamaah umrah First Travel. Sebab, ada dugaan awal First Travel menggunakan skema Ponzi untuk menutupi kekurangan ongkos umrah jemaah lainnya yang belum berangkat.

Skema ponzi sendiri seperti bentuk piramida, yang di mana, anggota terakhir akan menanggung beban lebih besar karena salah satu investasinya  dengan cara gali lubang tutup lubang. Sebelumnya, OJK juga mengajak masyarakat untuk berpikir lebih rasional terhadap investasi apapun itu. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, First Travel itu bukan kasus penggelapan atau penipuan dana konsumen yang pertama kali terjadi. Sudah sekian banyak investasi-investasi bodong yang sudah berhasil menipu banyak masyarakat. (Baca juga: Terpidana Korupsi Al-Quran Obral Permainan Kotor dalam Proyek Haji)

“Masyarakat tertipu daya dengan iklan menggiurkan, dapat refund besar. Mestinya berpikir itu curiga, dan tidak dilakukan,” ujarnya di gedung Fasos Bank Indonesia belum lama ini. Seperti First Travel dalam kasusnya, calon jamaah umrah ditawarkan paket umrah seharga Rp14,3 juta. Padahal harga normal untuk perjalanan ibadah umrah mencapai sekira Rp 20 juta. Guna menindaklanjuti masih mudahnya masyarakat tertipu akan investasi bodong seperti ini, Wimboh mengatakan, pihaknya akan menggencarkan edukasi kepada masyarakat. (Baca juga: Artikel: Saudi dan Ekspansi Wahabisme ke Dunia Islam)

Melalui edukasi ini diharapkan masyarakat bukan hanya tahu manfaatnya tapi paham dengan risikonya. Misalnya, ada orang datang meminta pinjaman Rp 110 juta. Dalam lima hari si peminjam katakan, uang tersebut bisa dipulangkan. “Coba kalau ini, dikasih enggak? Bisa enggak dalam 5 hari uang dikembalikan. Jadi harus paham. Bahwa sesuatu yang tidak rasional jangan diikuti. Ke depan masyarakat harus ditingkatkan edukasinya,” katanya. (ARN)

3 Comments

3 Comments

You must be logged in to post a comment Login

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Berita Terbaru

Arrahmahnews Media Terpercaya

Statistik Blog

  • 56.003.028 hit

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 6.058 pelanggan lain

Copyright © 2021 Arrahmahnews All Rights Reserved

To Top
%d blogger menyukai ini: