arrahmahnews

Nadirsyah Hosen Serukan “Perang” Lawan Takfiri dalam Islam

Arrahmahnews.com, Australia – Apa yang terjadi di Indonesia saat ini adalah pertarungan ideologi di antara mereka yang berusaha melindungi Islam dengan mereka yang berusaha menghancurkan Islam, dengan pendekatan keliru yang mereka jalankan.

Oleh karena itu, Dr Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah, pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru mengatakan bahwa mereka yang mencintai Islam harus turun tangan melawan kelompok Khawarij atau Takfiri.

Gus Nadir, panggilan akrabnya yang juga Dosen di Monash University mengatakan hal tersebut dalam Forum Diskusi berjudul Preventing Radicalisation and Islamophobia in Our Diverse Society (Mencegah Radikalisasi dan Islamiophobia di Masyarakat Kita yang Majemuk) di Melbourne hari Jum’at (1/9/2017). Acara tersebut diselenggarakan oleh sebuah ormas bernama Forum Masyarakat Indonesia di Australia (FMIA), yang juga menampilkan dua pembicara lain yaitu Prof Vedi Hadiz dari Melbourne University dan Prof Greg Barton dari Deakin University.

Baca: Radikalisme Ideologi Politik yang Mengusung Nilai-nilai Intoleran dan Sektarian

Dalam diskusi, yang dimaksudkan dengan Masyarakat Kita adalah masyarakat di Indonesia maupun di Australia. Dalam awal paparannya, Nadirsyah Hosen menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan kelompok Khawarij dan Takfiri.

“Mereka adalah golongan yang merasa paling benar, dan menganggap orang lain sebagai kafir. Mereka adalah golongan yang sebenarnya berbahaya bagi Islam,” kata Nadirsyah di depan sekitar 50 orang peserta diskusi yang dilangsungkan di kampus University of Melbourne

Menurut Nadirsyah di kalangan NU, kelompok ini tidak disebut sebagai kelompok teroris. “Karena mereka sendiri bangga dikatakan teroris, karena mereka mengatakan sedang berjuang melawan teroris yang lebih besar yaitu Amerika Serikat”.

Dalam pandangan Nadirsyah, kelompok ini mudah sekali dipengaruhi oleh orang yang bisa memanfaatkan mereka, termasuk para politisi. Disebutkan olehnya, selama ini sejak Orde Baru pendekatan yang dilakukan pemerintah terhadap kelompok Takfiri tersebut adalah pendekatan kompromi dan pendekatan politik.

Baca: Rais Syuriah NU Australia, Nadirsyah Hosen: Takfiri dan Kekerasan

“Jadi mereka harus dirangkul sebagai sesama bangsa Indonesia. Namun sekarang sudah waktunya kita bersikap tegas terhadap mereka”. “Kita harus melindungi Islam kita, NKRI kita dari mereka, kita harus turun tangan,” kata Nadirsyah, yang terlibat aktif dalam sosial media dengan pesan-pesan mengenai pemahaman terhadap Islam di Indonesia.

Dalam penggambarannya, Nadirsyah menyebutkan adanya tiga medan pertempuran di Indonesia saat ini antara mereka yang menjalankan Islam dengan benar dan mereka yang memiliki pandangan radikal.

Pertama di sekolah. Setiap Minggu hanya ada dua jam pelajaran agama di sekolah. Mereka yang mengajar banyak yang memiliki kualifikasi yang tidak jelas, dan yang diajarkan adalah pandangan Takfiri,” katanya lagi.

Medan laga kedua adalah di masjid. “Di shalat Idul Adha hari ini, saya masih mendapat laporan dari Indonesia mengenai adanya khatib yang berbicara mengenai Pilkada DKI. Padahal gubernurnya sekarang sudah dipenjara. Mereka berbicara karena masih ada pilkada di berbagai daerah di tahun 2018 dan pilpres di tahun 2019,” katanya. Oleh karena itu, Nadirsyah melihat perlunya adanya sertifikasi bagi mereka yang boleh berceramah di masjid.

“Memang banyak yang curiga bahwa masjid akan terkooptasi oleh negara. Namun yang kita lihat sekarang, karena tidak ada sertifikasi, tidak jelas siapa yang bisa berbicara. Hanya kalau mereka berteriak garang, bisa menjadi pembicara,” katanya lagi.

Dan medan laga yang ketiga adalah media sosial. “Media sosial ini luar biasa, karena orang sekarang tidak lagi membaca koran, atau baca buku, sehingga media sosial menjadi sumber informasi bagi mereka,” tambah Dosen Fakultas Hukum Monash University tersebut.

“Saya sering berantem dengan kelompok Takfiri ini. Banyak kawan-kawan yang tidak setuju dengan kelompok ini, namun mereka tidak mau turun tangan, mereka tidak mau tangannya kotor”. “Namun kalau kita tidak turun gunung, siapa lagi. Kalau kita mencintai Islam kita, NKRI kita, kita harus turun tangan, dan berani untuk dimaki-maki, dan itu sudah risiko,” kata Nadirsyah lagi

Tindakan kekerasan ekstrim yang jadi masalah

Sementara itu, Prof Greg Barton, yang dikenal di Australia sebagai pakar mengenai terorisme menjelaskan bahwa yang menjadi persoalan di dunia saat ini bukanlah soal radikaslime, namun tindakan kekerasan yang eskrim yang dilakukan oleh mereka yang berpikiran radikal.

“Kita bisa saja memiliki pandangan radikal mengenai sesuatu, misalnya orang yang tidak makan daging, atau percaya bumi itu datar. Namun yang menjadi masalah adalah kalau pandangan radikal itu digunakan untuk melakukan tindakan kekekerasan ekstrim atau juga menciptakan kebencian,” kata Prof Barton yang sekarang bekerja di Deakin University di Melbourne.

Pembicara lainnya, Prof Vedi Hadiz yang sekarang bekerja di University of Melbourne menjelaskan mengenai siapa sebenarnya yang mengambil manfaat dari adanya kelompok-kelompok seperti FPI di Indonesia. “FPI sebenarnya memiliki pengikuti yang jumlahnya kecil. Mereka berguna untuk menjadi alat yang bisa digunakan untuk kepentingan para elit misalnya menjelang pemilu,” kata Vedi.

Dalam sesi tanya jawab, Prof Vedi memberikan pandangan mengenai kekhawatirannya akan pertarungan yang ada di Indonesia saat ini. “Yang terjadi sekarang ini adalah pertarungan antara ultra Islam dan ultra nasionalis. Ultra nasionalis yang menyebutkan NKRI harga mati, bisa juga mengakibatkan kita kembali ke zaman seperti Orde Baru,” katanya. (ARN)

Sumber: australiaplus.com

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: