News Ticker

Dewan Pertimbangan Presiden: Rohingya Butuh Bantuan, Bukan Demo

Senin, 18 September 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA –  Statement Prabowo Subianto pada aksi bela Rohingya 169 di depan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (16/9/2017) yang menyebut pencitraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui bantuan kemanusian Indonesia untuk pengungsi Rohingya, kembali mendapat tanggapan dari Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Sidharto Danusubroto. Dia  menyatakan, bantuan Indonesia yang dilepas Jokowi kepada pengungsi Rohingya tidak bisa disebut sebuah pencitraan.

“Jangan dianggap pencitraan dong. Mereka menunggu bantuan kita, donasi, bukan demo tapi terima kasih,” kata Sidharto di Gedung Wantimpres, Senin (18/9).

Baca: Prabowo: Bantuan Indonesia untuk Rohingya Hanya Pencitraan Jokowi

Sidharto menegaskan, para pengungsi di sana benar-benar mengharapkan dan menanti bantuan. Mereka membutuhkan tempat pengungsian layak, sebab yang sekarang tak memadai. Tenda pengungsi, kata dia, bisa terbang atau rusak apabila tertiup angin dan hujan.

Warga Rohingya juga membutuhkan makanan siap saji, minuman, selimut, bahan pokok seperti beras untuk bertahan hidup. Barang-barang itu yang dikirimkan Indonesia dalam beberapa gelombang sejak pekan lalu. Hal itu lebih berarti dibandingkan menggelar demo seperti yang dilakukan sejumlah pihak beberapa waktu lalu.

Baca: Pro-Jokowi Jawab Pernyataan Prabowo

“Kalau demo bisa bantu apa coba? Kalau urunan misal 10 ribu pedemo masing-masing Rp10 ribu, waduh, welcome, saya hargai,” tutur mantan Ketua MPR ini.

Menurut Sidharto, Aksi demo terhadap Kedutaan Besar Myanmar di Indonesia justru bisa berakibat kontraproduktif berupa tertutupnya akses untuk membantu Rohingya. Dengan sejarah panjang yang membuat Indonesia bisa masuk ke daerah konflik itu. Kata dia, Indonesia sejak era Presiden Soekarno sudah berhubungan baik dengan Perdana Menteri pertama Myanmar U Nu.

Baca: Jokowi Tetap Kirim Bantuan ke Rohingya Meski Disebut Hanya Pencitraan

“Yang diterima Myanmar itu hanya Indonesia dan diakui banyak negara. Kalau kita galak, mereka tutup pintu bagaimana? Repot,” ujar Sidharto yang juga mantan ajudan Presiden Soekarno ini. (ARN)

Sumber: CNNIndonesia

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: