News Ticker

Rakyat Tidak Percaya Jokowi Komunis

Sabtu, 30 September 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Semenjak maju pada Pilpres 2014, isu besar yang dikemukakan untuk menjatuhkan Jokowi ialah tuduhan bahwa ia seorang komunis atau sekurang kurangnya dituduh, keluarganya berbau kiri. Kita tidak mendapat gambaran yang jelas dari mana asal muasal pemberitaan ini karena suami Iriana ini sudah memenangkan dua kali pertarungan demokrasi di Solo. Kalaulah ia ada kaitannya dengan ideologi kiri sudah barang tentu tidak akan terpilih sebagai pimpinan di Kota Solo.

Begitu juga halnya ketika bertarung di DKI tahun 2012, isu komunis ini belum diungkapkan secara masif. Kalaulah Jokowi ada hubungannya dengan ideologi kiri tentu aparat keamanan atau lawan politik Jokowi sudah mengungkapkan hal ini secara terbuka. Walaupun tidak ada bukti bukti yang signifikan tentang keterlibatannya dengan PKI tetapi sebahagian masyarakat masih ada yang percaya tentang issu ini.

Berbagai info di medsos selalu menggoreng isu tentang kaitan mantan Walikota Solo ini dengan PKI. Bahkan beberapa waktu yang lalu beredar buku yang memfitnahnya dengan judul “Jokowi Undercover”. Walaupun Jokowi sudah beberapa kali membantah tuduhan ini tetapi kelihatannya issu tentang komunis ini masih terus dimainkan.

Jokowi sendiri sudah mengatakan kalau PKI bangkit kembali maka ia akan menggebuknya karena ajaran komunis oleh TAP MPRS XXV tahun 1966 telah dinyatakan terlarang di negeri ini.

Oleh karena kaitan PKI dengan Jokowi selalu dihembuskan maka isu komunis ini selalu digunakan sebagai sudut bidik kepada suami Iriana itu. Karenanyalah tidak mengherankan selama kepemimpinan Jokowi, isu kebangkitan komunis selalu didengung dengungkan oleh banyak kalangan. Ditimbulkan kesan, oleh karena Jokowi erat kaitannya dengan komunis maka pada masa kepemimpinannya inilah PKI akan bangkit kembali.

Hal ini sangat terlihat dari berbagai komentar yang berkaitan dengan kebangkitan PKI ini. Banyak tokoh-tokoh yang menyebutkan sekarang ini PKI telah bangkit kembali dan secara tidak langsung dilukiskan bahwa kebangkitan PKI bisa terjadi karena yang memimpin negeri ini sekarang adalah simpatisan komunis. Berbagai fitnah semakin marak diungkapkan termasuk tuduhan keji bahwa ayah dan ibu yang diakui oleh Jokowi sebagai orang tuanya bukanlah orang tuanya yang asli. Fitnah itu mengatakan orang tua Jokowi yang sebenarnya adalah orang lain dan orang lain itu adalah pengikut PKI.

Di tengah munculnya anggapan yang demikian maka kita tentu ingin mengetahui apakah masyarakat percaya bahwa Jokowi adalah seorang komunis? Untuk menjawab pertanyaan seperti itu kita mendapat jawaban yang diberikan oleh Syaiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Kompas.com,29/9/2017 memberitakan bahwa SMRC telah melaksanakan survei yang berhubungan dengan pendapat masyarakat terhadap Jokowi yang sering dikatakan sebahagian orang sebagai seorang komunis. Ternyata hasil survei SMRC menunjukkan bahwa mayoritas responden ( 75,1 persen) tidak setuju dengan isu bahwa Presiden RI, Jokowi terlibat PKI.

Begitu juga halnya dengan issu kebangkitan PKI ternyata 86,8 persen menyatakan tidak setuju. Sedangkan yang mengatakan setuju bahwa sekarang ini sedang terjadi kebangkitan PKI hanya 12,6 persen. Walaupun jumlah yang setuju menyatakan sekarang ini sedang terjadi kebangkitan PKI hanya 12,6 persen tetapi ada hal hal yang perlu diperhatikan.

Peneliti SRMC, Sirojudin menguraikan bahwa 36,6 persen yang setuju dengan kebangkitan PKI itu menganggap kebangkitan PKI sudah merupakan ancaman. Jadi menurut Sirojudin 39,9 persen dari 12,6 persen itu nilainya 5 persen dari total populasi penduduk sehingga dengan jumlah penduduk Indonesia sekarang ini ada sekitar 10 juta orang yang percaya bahwa kebangkitan PKI itu sudah merupakan ancaman bagi negara. Jumlah 10 juta tentu harus juga diwaspadai apalagi kalau mereka terdiri dari massa militan dan terorganisir.

Hasil survei tersebut juga mengindikasikan dua hal: Pertama, Isu komunis tidak memberi pengaruh signifikan terhadap tingkat elektabilitas Jokowi. Kedua, Sekitar 5 persen dari populasi penduduk akan terus digunakan oleh siapapun yang ingin menggerus popularitas dan elektabilitas Jokowi. Kegiatan yang dilakukan bisa melalui berbagai cara seperti unjuk rasa, seminar maupun pemberian informasi melalui media.

Dalam konteks sebagai Kepala Negara dan sebagai Kepala Pemerintahan, Jokowi beserta aparat Pemerintah selayaknya lebih tanggap secara dini untuk menghadapi berbagai manuver politik dan hukum terkait isu kebangkitan komunis tersebut. Walaupun jumlah responden yang meyakini kebangkitan PKI sebagai ancaman buat negara hanya sekitar 5 persen tetapi isu tersebut masih tetap punya daya tarik untuk diungkapkan.

Dan kita percaya aparat Pemerintah sudah bersiap untuk itu. [ARN]

Sumber: Kompasiana.

About ArrahmahNews (12571 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: