News Ticker

Dua Tahun Kampanye Udara Rusia Ubah Situasi Perang Suriah Secara Dramatis

Minggu, 01 Oktober 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, ANKARA – Operasi militer yang diluncurkan oleh Angkatan Udara Rusia pada 30 September 2015, menjadi semacam penyelamat bagi pasukan pemerintah Suriah, yang memberi mereka “kesempatan”kedua dalam perang melawan terorisme. Pakar militer Turki, Dr. Celalettin Yavuz, mantan penasihat kebijakan luar negeri dan keamanan untuk ketua Gerakan Nasionalis (MHP), mengatakan hal ini kepada Sputnik.

Dalam perjalanan dua tahun kampanye udara Rusia di Suriah, sekitar 87,4 persen wilayah Suriah telah dibebaskan dengan 2.237 daerah pemukiman kemudian bergabung dengan gencatan senjata rezim. Angkatan Udara Rusia melakukan 30.000 serangan tempur di Suriah yang menghancurkan 96.000 target teroris.

Baca: Assad Temui Putin Bahas Suriah di Moskow

“Sebelum operasi antiteroris Rusia, pasukan pemerintah Suriah secara harfiah ditekan ke garis pantai antara Latakia dan Damaskus, sementara pemerintah Assad hanya mengendalikan Damaskus,” ujar Yavuz kepada Sputnik Turki. “Pada saat itu ancaman terhadap negara Suriah datang dari 4 arah angin sekaligus, dengan hanya wilayah Damaskus dan wilayah pesisir yang masih berada di bawah kendali pemerintah,” tambahnya.

Ahli tersebut menyatakan bahwa bantuan Iran serta masuknya militer Rusia untuk memulai operasi Angkatan Udara dan Angkatan Laut mereka, telah membuat situasi di Suriah berubah secara dramatis. Angkatan Arab Suriah (SAA) mulai secara bertahap memperkuat posisinya dan membuat kemajuan di medan perang.

Baca: Assad Temui Putin Bahas Suriah di Moskow

“Bantuan militer Rusia ke Suriah, serta kedatangan penasihat, ahli militer yang berkualitas, dan bantuan militer kepada pemerintah Suriah dari Iran, memainkan peran penting dalam proses ini,” jelas Yavuz, menambahkan, “Hal ini telah mengobarkan semangat pasukan pemerintah Suriah.”

“Integritas teritorial Suriah adalah faktor fundamental,” katanya, menyoroti bahwa Rusia memainkan peran yang sangat penting dan menentukan dalam melindungi persatuan dan kedaulatan negara tersebut.

Pakar tersebut juga menekankan upaya diplomatik Rusia yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik secara damai. Menurut Yavuz, format Astana, yang dimulai pada bulan Desember 2016 di ibu kota Kazakhstan oleh Rusia, Turki dan Iran, mempertemukan pihak-pihak yang bertikai dengan meja perundingan, adalah salah satu platform utama untuk penyelesaian konflik.(ARN)

 

About ArrahmahNews (12571 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: