Arab Saudi dan Dongeng Kebebasan Baru Para Wanitanya

Kamis, 05 Oktober 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, RIYADH – Saat aktivis hak asasi perempuan Saudi, Manal al-Sharif dibawa ke penjara wanita di Arab Saudi, para tahanan di dalamnya berkerumun di sekitarnya karena syok. Mereka bukannya terkejut melihat seorang wanita disana, lagi pula, penjara itu memang untuk wanita. Tapi mereka terkejut melihat seorang wanita Saudi disana. Menurut aktivis, jumlah wanita asli Saudi yang pernah dipenjara sangat sedikit, hanya sekitar delapan atau sembilan, di fasilitas tersebut.

Baca: Saudi Negeri Dongeng, Tapi Nyata

Selebihnya, wanita-wanita yang dilemparkan ke penjara Saudi selalu adalah orang India, Sri Lanka, Filipina, dan semua wanita yang dianggap dari “kasta” rendah, yang seringkali dijebloskan hanya berdasarkan tuduhan belaka. Mereka terpaksa menjalani hukuman penjara untuk waktu yang lama. Terkadang mereka merana di sana selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun sebelum keluarga mereka mengetahui di mana mereka berada.

Saat itu tahun 2011 ketika Al Sharif, seorang karyawan Aramco, menantang pemerintah Saudi dengan mengemudikan mobilnya di jalanan Kerajaan. Di tengah malam berikutnya, segerombolan polisi rahasia Saudi yang kesal muncul di depan pintu apartemen yang dihuninya dalam kompleks Aramco.

Saudara yang bersamanya saat mengemudi mengatakan kepada polisi itu bahwa mereka tidak dapat menahannya karena saat itu tengah malam. Tapi gerombolan itu tidak mendengarkan; Tak lama kemudian Al Sharif harus pergi bersama mereka. Dia dipenjara selama sembilan hari dan kejahatannya adalah mengemudi. Nasibnya masih agak lebih baik dari wanita lain yang ditemui dalam tahanan.

Dekrit kerajaan hari Selasa lalu datang dalam bentuk penangguhan hukuman kepada wanita seperti Al Sharif dan aktivis wanita Saudi lainnya yang telah berusaha memperjuangkan kebebasan untuk berkendara di Kerajaan sejak mereka melakukan demonstrasi pertama pada tahun 1990. Sesuai dengan dekrit raja yang diumumkan di televisi Saudi dan juga bahkan melalui siaran langsung di Washington DC, pembatasan ini tidak akan ada lagi. Wanita Saudi bisa mengendarai mobil tanpa kehadiran salah satu wali mereka di dalam kendaraan.

Baca: Kerasnya Ideologi Wahabi Sebabkan 1000 Wanita Saudi Tinggalkan Kerajaan PerTahun

Dengan dekrit raja ini, kritik para ulama kerajaan, yang sebelumnya sangat keras bahkan hingga menyebut organ reproduksi wanita akan rusak gara-gara mengemudi, dibuang begitu saja. Jadi, semua alasan “Islami” yang selama ini digembar-gemborkan oleh para ulama Saudi yang katanya adalah dasar “agama” bagi larangan wanita mengemudi, seketika berubah setelah keputusan raja Arab Saudi yang baru. Mereka berbalik menyatakan bahwa mengemudi bagi wanita tidak bertentangan dengan Islam.

Tentu saja, cerita yang muncul adalah semacam dongeng gembira tentang kemajuan di Saudi yang sangat ingin dijual kerajaan ini kepada dunia, setidaknya ke dunia Barat yang semakin skeptis terhadap niat mereka terhadap kawasan. Selain Presiden AS dan penasihatnya (beberapa di antaranya telah dipecat), yang lainnya di AS tidak begitu terpesona oleh tindakan pemerintah kerajaan baru-baru ini.

Laporan tentang meningkatnya korban Yaman secara rutin dilaporkan di Barat, dan penjualan senjata skala besar yang dilakukan secara konsisten, dipenuhi dengan kemarahan kelompok-kelompok pengawas HAM. Mereka berargumen bahwa jika Saudi tidak bisa dihentikan, setidaknya penjualan senjata kepada mereka harus dihentikan. Jika orang tak berdosa harus dibunuh, biarkan Saudi membeli amunisi dari negara lain untuk melakukannya.

Salah satu kebijakan dalam Visi 2030 Arab Saudi adalah tidak dibolehkannya lagi pekerja asing bekerja disana per 2020. Realitas internal kedua ini, tidak begitu dikenal di kalangan analis Barat. Dalam ucapan selamat yang berlebihan yang dituangkan untuk pengangkatan larangan mengemudi di Kerajaan, hampir tidak ada satupun analis yang mempertimbangkan bagaimana peraturan tersebut sesuai dengan peraturan baru Arab Saudi mengenai dihapuskannya larangan mengemudi.

Baca: Saudi Persilahkan Wanita Kaya Berhaji Tanpa Kenakan Hijab

Wanita Saudi, yang menurut definisi Kerajaan hanya mereka yang lahir dari ayah Saudi, merupakan bagian integral dari negara Arab Saudi baru yang tengah berusaha mengusir semua orang asing dari pemerintahannya. Seakan menekankan hal ini, sehari setelah larangan mengemudi berakhir, seorang wanita, Eman al-Ghamdi, ditunjuk menjadi asisten walikota gubernur Al Khobar. Pesan dari penguasa negara jelas: dengan diusirnya ekspatriat, wanita Saudi, atau setidaknya mereka yang tertarik untuk bekerja di luar rumah, akan segera dipekerjakan untuk posisi-posisi penting. Jika mereka memutuskan untuk bekerja, mereka mungkin juga ingin menyetir. Jika mereka ingin mengemudi, mereka harus bisa mendapatkan surat izin mengemudi.

Kemenangan untuk wanita Saudi ini datang seiring dengan meningkatnya rasisme Saudi dan bahkan xenophobia. Kebijakan imigrasi Kerajaan selalu berbanding terbalik dengan retorika Saudi yang menyebut diri sebagai kerajaan Islam, yang seharusnya , adalah satu pemerintahan yang terikat dalam kesatuan dan kesetaraan. Pejabat Saudi selalu melihat kewarganegaraan untuk menentukan gaji atau upah. Begitu juga dengan wanita-wanita Saudi, saudari-saudari kita yang memperjuangkan keinginan berkendara, terutama jika pembantu atau pengasuh non-Saudi mereka mengikuti dengan patuh di belakang. (ARN/ Rafia Zakaria, The Asian Age)

Arrahmahnews

Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

https://arrahmahnews.com/

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: