Berita Terbaru

Jonru Kader PKS Sesatkan Aswaja dan Prof Quraish Shihab

Minggu, 08 Oktober 2017.

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Jonru menjadi sosok yang ramai diperbincangkan publik. Bukan karena dirinya pernah memenangkan nominasi Internet Sehat Blog Award pada 2010 lalu, atau karena beberapa bukunya soal motivasi yang beredar luas di pasaran, tetapi karena dilaporkan soal unggahan-unggahannya di media sosial yang kerap kali mengundang “kebencian” publik.

Baca: Jonru Ginting Kader PKS Serang Prof Quraish Shihab

Siapa yang tak kenal Jonru dengan berbagai fitnah dan provokasi pedasnya yang tak hanya nyinyir kepada penguasa, tetapi juga kepada pemuka agama yang tak sesuai “seleranya”. Salah satu unggahan kebencian yang dialamatkan Jonru kepada Quraish Shihab, menyoal ulama tafsir ini yang dianggapnya menyimpang dari akidah Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) sehingga umat muslim tak perlu “berimam” kepadanya, menjadikan satu diantara alasan kepolisian menahan Jonru.

Sebelumnya, saya memang menganggap Jonru biasa saja dalam beberapa postingannya di medsos, karena memang mindset Jonru dibangun atas dasar ketidaksukaan dan kebencian, sehingga postingannya tampak sangat “subjektif” terhadap realitas yang dibenci oleh dirinya. Hanya saja, saya sedikit terkejut, ketika ulama sekaliber Quraish Shihab yang luwes, tak diragukan kapasitasnya sebagai ahli agama Islam, karena selain belajar formal tentang ilmu-ilmu keislaman, Quraish juga menempuh jalur non-formal dididik di berbagai pesantren di Pulau Jawa, justru dituduh sebagai ulama yang menyimpang dari akidah Aswaja oleh Jonru. Tuduhan yang tak berdasar saya kira, karena pendidikan pesantren NU yang digelutinya, justru menguatkan kapasitas dirinya untuk lebih dalam mengenal, bagaimana aspek akidah Aswaja itu diaplikasikan.

Saya tidak tahu, apakah Jonru juga pernah mempelajari ilmu kalam (ilmu-ilmu menyoal kajian teologi Islam), baik secara formal di sekolah ataupun non-formal di pesantren, karena yang saya ketahui dari latar belakang pendidikannya yang sarjana akuntansi Universitas Diponegoro, rasa-rasanya tak mungkin mempelajari atau memahami kajian teologi Aswaja.

Baca: Jokowi: Kebhinekaan Kita Sedang Diuji Dengan Anti-Pancasila dan Berita Bohong

Kajian teologi Aswaja, secara khusus diajarkan di pesantren-pesantren NU dan masuk dalam mata kuliah wajib di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat di berbagai universitas Islam. Lalu, jika Jonru tidak pernah belajar teologi Aswaja, kenapa menuduh Quraish sebagai anti-Aswaja dan menyimpang dari teologi “tengah” tersebut? Lagi-lagi, kekosongan pengetahuan akan lebih mudah mendorong seseorang untuk benci kepada pihak yang tak sepaham dengannya.

Mungkin ada kaitannya, ketika Kementrian Agama merilis sebuah penelitian yang menyebutkan, bahwa radikalisasi di perguruan tinggi lebih banyak terjadi di kalangan mahasiswa dengan latar belakang jurusan eksakta dan ilmu alam, dibanding ilmu sosial atau keagamaan. Ya, bisa jadi melihat pada latar belakang pendidikan Jonru yang memang “eksak”, sehingga wajar kemudian dirinya menjadi sangat “radikal” yang lekat dengan aktivitasnya di medsos yang terlampau reaktif, tidak pernah menerima apapun yang tak sejalan dengan ideologi dirinya atau memposisikan dirinya berhadapan dengan kekuasaan yang dianggapnya sebagai “kekuatan jahat” sehingga apa saja yang berbau kekuasaan selalu distigmatisasi buruk.

Bagi saya, sesat pikir yang terjadi pada seseorang memang lebih banyak didukung oleh ketidaktahuan dirinya terhadap sesuatu yang sedang dibicarakan. Menuduh “anti-Islam” karena seseorang jelas belum tahu mendalam soal Islam, pun tuduhan kepada pihak lain yang dianggap menganut “akidah yang menyimpang” berarti dirinya tak paham secara menyeluruh soal apa itu teologi Islam. Mungkin bagi orang awam ketika membaca tulisan Jonru yang diunggah ke medsos soal himbauan umat muslim agar tidak berimam kepada Quraish Shihab adalah hal yang masuk akal, tetapi bagi yang paham soal Islam lebih dalam, pasti hanya akan menganggap Jonru “gagal paham” soal kepakaran dan keulamaan yang melekat dari seorang ulama NU, Quraish Shihab.

Ungkapan “kebencian” Jonru yang diunggah di medsos, tampak sangat subjektif, “Sholat Idul Fitri tahun ini mari melupakan Istiqlal. Masih banyak masjid lain. Carilah masjid yang Sholat Id-nya, beraqidah lurus, ahlusunnah wal jamaah…”. Sholat Id waktu itu di Masjid Istiqlal memang “diimami” oleh Quraish Shihab, yang dianggap oleh Jonru sebagai ulama yang tidak berakidah lurus.

Sebenarnya, kalimat yang diunggah ini tidak saja menunjukkan “kebencian” pada seorang ulama, tetapi juga mendiskreditkan Masjid Istiqlal, sebagai tempat suci dan masjid kebanggan umat muslim Indonesia. Belum lagi menyoal Aswaja yang disebut sebagai “aqidah lurus”, padahal Aswaja hanyalah sebuah metodologi ilmu kalam (ilmu yang membicarakan soal-soal Ketuhanan) yang memiliki prinsip moderat dalam memandang aspek teologis lainnya yang juga diyakini oleh umat muslim.

Baca: Abu Janda Al-Boliwudi Bongkar Bisnis E-Hate (Kebencian Online) Kader PKS Jonru Ginting

Sejauh ini, Quraish Shihab adalah sosok ulama moderat yang dewasa melalui perpaduan lingkungan tradisionalis pesantren dan corak modernis Islam yang diperolehnya selama berada di Kairo, Mesir. Tak perlu dipertanyakan soal kepiawannya dalam hal ilmu-ilmu keislaman, karena beliau mendapat predikat summa cum laude dalam bidang tafsir Al-Quran di Kairo.

Saya pernah diajar beliau ketika masih kuliah di Fakultas Ushuludin IAIN Jakarta tahun 1995 dan saya mengetahui juga merasakan bagaimana cara pandang beliau yang sangat moderat dalam menyampaikan kajian-kajian keislaman. Tuduhan yang dialamatkan kepada beliau soal penyimpangan aqidah hanya karena pendapatnya yang kontroversial soal jilbab, sungguh sangat tak berdasar dan jauh panggang dari pada api.

Sejauh ini, hubungan antarkelompok Islam seringkali tercederai oleh berbagai unggahan “subjektif” yang mengandung unsur kebencian, fitnah atau kekanak-kanakan, padahal sebuah hal yang wajib untuk membangun harmonisasi hubungan antarmasyarakat, baik dengan non-muslim terlebih sesama muslim, sebagaimana disebutkan Al-Quran: “Berpegang teguhlah kepada ikatan Tuhan (iman) semuanya dan janganlah bercerai-berai..” (QS. Ali Imran: 103). Bahkan, Nabi Syu’aib pernah mengungkapkan ucapannya yang direkam abadi olah Al-Quran: “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) kebaikan selama aku masih berkesanggupan.”

Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Huud: 88). Ini juga salah satu motto yang ditulis dalam sebuah buku bagi jawaban Quraish Shihab yang menuduh dirinya Syiah, dalam bukunya, “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?”. (ARN)

About ArrahmahNews (11819 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

3 Comments on Jonru Kader PKS Sesatkan Aswaja dan Prof Quraish Shihab

  1. Hi saudara saudara ku pelajarilah oleh mu suatu ilmu yg tidak tahu mjd tahu dan pelajarilah oleh mu suatu ilmu yang membuat kamu diam.”ITULAH MENJADI LENTERA HIDUP KITA”

    Suka

  2. bantaiwahabi // Okt 11, 2017 pukul 7:41 pm // Balas

    kenapa gak di dor wae !!!???
    gak mampu ?

    Suka

  3. Netty Arni, SH - Notaris // Okt 14, 2017 pukul 5:28 pm // Balas

    Sesungguhnya perbedaan itu rahmat, …….. Maka memiliki hati yg bersih/suci sangatlah penting supaya segala sesuatu selalu berpikiran positif atau berprasangka yg baik, dan menjauhkan dari berprasangka yg buruk atau negatif thinking, ……. Sebenarnya itulah hikmat, …….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: