News Ticker

Setali Tiga Uang, Saudi-Israel Puji Putusan Trump soal Kesepakatan Nuklir Iran

Sabtu, 14 Oktober 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, TEL AVIV – Pemerintah Israel dan Arab Saudi menyambut baik keputusan baru-baru ini oleh Presiden AS Donald Trump untuk tidak mnyertifikasi kesepakatan nuklir Iran 2015, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action / JCPOA), yang ditandatangani bersama lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman.

Pada hari Jumat (13/10) malam, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji “keputusan berani” Trump terhadap Iran, menggambarkannya sebagai sebuah kesempatan untuk mengubah kesepakatan dan tatanan Republik Islam di wilayah Timur Tengah.

“Dia (Trump) dengan berani menghadapi Iran … (dan) menciptakan sebuah kesempatan untuk memperbaiki kesepakatan buruk ini, dan untuk memukul mundur agresi Iran,” ujar ketua partai Likud dalam sebuah video yang diposkan di halaman Facebook-nya.

Baca: Trump Tolak Sertifikasi Kesepakatan Nuklir Iran

Baca: Uni Eropa, Rusia, China Dukung Iran Lawan AS

Menteri Intelijen Israel, Yisrael Katz, juga menyebut retorika anti-Iran Trump itu sebagai “sangat penting,” menekankan bahwa ucapan semacam itu dapat berujung pada konfrontasi militer mengingat tanggapan yang tepat yang telah dijanjikan oleh Teheran.

“Pastinya ya. Saya pikir pidato itu sangat penting. Iran adalah Korea Utara yang baru. Kami melihat ke mana segala sesuatunya berjalan, ” ujar Katz kepada jaringan televisi Channel 2 Israel berbahasa Ibrani, ketika ditanya apakah dia melihat adanya risiko perang antara Amerika Serikat dan Iran.

Sementara itu, badan resmi Saudi Press Agency (SPA) melaporkan bahwa rezim Riyadh mendukung “strategi tegas” Trump terhadap Iran.

“Kerajaan mendukung dan menyambut baik strategi tegas terhadap Iran dan kebijakan agresifnya yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump,” ungkap kantor berita itu dalam sebuah pernyataan.

Trump mengumumkan sebuah perubahan yang bermusuhan dalam kebijakan AS terhadap Iran pada hari Jumat, menuduh bahwa Republik Islam telah kurang melaksanakan kewajiban berdasarkan kesepakatan nuklir internasional itu.

Selain itu, Presiden AS mengatakan bahwa dia akan memerintahkan Departemen Keuangan untuk menetapkan sanksi baru terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara keseluruhan, dan menyatakan bahwa dia tidak dapat menyertifikasi tindakan Iran berdasarkan kesepakatan nuklir.

Kongres AS sekarang akan membuka kembali perdebatan mengenai pro dan kontra kesepakatan nuklir.

Ada laporan bahwa Gedung Putih saat ini bekerja sama dengan pimpinan kongres Partai Republik, dengan harapan bisa memaksakan perundingan baru dengan Iran dan kekuatan dunia lainnya. (ARN)

 

About ArrahmahNews (12571 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: