Berita Terbaru

Trump Tolak Sertifikasi Kesepakatan Nuklir Iran

Sabtu, 14 Oktober 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, WASHINGTON DC – Presiden AS Donald Trump menolak untuk menyertifikasi perjanjian nuklir internasional dengan Iran dan memperingatkan bahwa ia bisa saja menghentikannya. Sebuah tindakan yang bertentangan dengan kekuatan dunia lainnya dan meruntuhkan kemenangan penting diplomasi multilateral.

Berbicara dari Gedung Putih pada hari Jumat, Trump mengatakan bahwa dia akan memilih untuk tidak menyatakan bahwa Teheran mematuhi perjanjian nuklir 2015 yang dikenal dengan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action / JCPOA).

Pidato Trump memberi isyarat perubahan besar dalam kebijakan AS dan menunjukkan sikap yang lebih konfrontatif terhadap Iran mengenai program rudal nuklir dan rudal balistiknya. Trump juga mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk memastikan Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir.

Baca: Analis: Donald Trump Pencipta Kekacauan bukan Sebaliknya

Baca: Moskow: Akan ada Konsekuensi Negatif Jika AS Mundur dari Kesepakatan Nuklir

“Kami tidak akan terus menyusuri jalan yang akhirnya mungkin adalah lebih banyak kekerasan, lebih banyak teror dan ancaman nyata pelarian nuklir Iran,” kata Trump.

Trump mengeluarkan pernyataan ini meski Badan Energi Atom Internasional (IAEA) baru-baru ini melaporkan bahwa Iran telah sepenuhnya mematuhi kesepakatan tersebut.

Trump diwajibkan oleh hukum untuk melakukan sertifikasi setiap 90 hari mengenai apakah Iran mematuhi kesepakatan nuklir atau tidak. Jika dia berpendapat bahwa Iran tidak sesuai, itu bisa menyebabkan penarikan mundur Amerika dari perjanjian internasional.

Meski Trump tidak menarik Washington keluar dari kesepakatan nuklir, dia memberikan Kongres AS 60 hari untuk memutuskan apakah akan mengajukan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran yang dicabut di bawah pakta tersebut.

Sanksi tambahan akan membuat AS bertentangan dengan penandatangan lain kesepakatan tersebut seperti Inggris, Prancis, China, Rusia dan Jerman, serta Uni Eropa.

Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pada hari Jumat sebelumnya bahwa Teheran memiliki opsi “sangat luas” untuk pelanggaran JCPOA dan akan “mengakhiri semua komitmennya dalam hal ini jika dianggap perlu.”

Trump juga mengumumkan sanksi terhadap Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), yang dia tuduh menggoyahkan Timur Tengah dan mengancam kepentingan Amerika di wilayah tersebut.

“Saya memberi wewenang kepada Departemen Keuangan untuk memberi sanksi lebih lanjut untuk seluruh Korps Garda Revolusioner Islam atas dukungannya terhadap terorisme dan untuk menerapkan sanksi kepada pejabat, agen dan afiliasinya,” katanya.

Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Angkatan Bersenjata Iran, termasuk IRGC, adalah simbol kekuatan dan pembela keamanan dan didukung oleh pemerintah dan negara Iran.

Pernyataan tersebut, yang muncul beberapa jam sebelum pidato Trump, menekankan bahwa kebijakan inti Iran adalah untuk mendukung perdamaian dan stabilitas regional dan menghadapi tindakan yang tidak stabil dan memecah belah yang bertujuan menciptakan ketegangan dan konflik di kawasan.

Menurut pernyataan tersebut, dukungan AS untuk Israel dan rezim “represif” lainnya di kawasan dalam beberapa dekade terakhir telah menyebabkan perang dan konflik di satu sisi dan menciptakan “fenomena terorisme yang tidak menyenangkan” di sisi lain.

Dalam sambutannya, presiden AS tersebut juga menuduh Iran mendukung “kekejaman” Presiden Suriah Bashar al-Assad dan mengatakan bahwa Teheran “memaafkan” penggunaan senjata kimia Assad terhadap rakyatnya sendiri sementara Damaskus telah berulang kali dengan tegas menyatakan sebelumnya bahwa serangan kimia yang baru-baru ini yang dilaporkan di kota Khan Shaykhun, Suriah, adalah bagian dari skenario Barat untuk menjelekkan citra pemerintah Damaskus.

Dalam perang melawan teror di Suriah, Iran telah memberikan penasihat militer atas permintaan pemerintah Suriah, serta membantu meraih kemenangan atas kelompok teror ISIS serta kelompok teror lainnya dalam pertempuran yang telah berlangsung selama lebih dari enam tahun ini.

Ancaman Trump untuk mengakhiri kesepakatan nuklir dengan Iran ini, sekali lagi menempatkan AS sebagai negara yang secara “seenaknya” menghentikan pakta dan organisasi internasional.

Ini bukan pertama kalinya masyarakat internasional menyaksikan upaya administrasi Trump untuk mengingkari kesepakatan multilateral.

Trump menarik AS dari Paris Climate Agreement pada bulan Juni dan telah memerintahkan AS untuk menarik diri dari UNESCO tahun depan.

Keputusan AS untuk membatalkan kesepakatan multilateral tidak terbatas pada administrasi Trump saja. Pada tahun 2002, pemerintahan mantan Presiden AS George W. Bush mengundurkan diri dari Perjanjian Rudal Antibalistik (ABM), yang ditandatangani dengan Uni Soviet pada tahun 1972. (ARN)

 

About ArrahmahNews (11753 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on Trump Tolak Sertifikasi Kesepakatan Nuklir Iran

  1. bantaiwahabi // Okt 14, 2017 pukul 5:30 pm // Balas

    Begini saja…
    segerakan perang dunia III.
    kami rakyat Indonesia adalah Soekarnois.
    Anda mengerti maksud saya?

    Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Tampar Trump, Rouhani Tegaskan Kesepakatan Nuklir Tak Akan Direvisi | Viralizer Network Blog | Viralizer Network Blog
  2. Zarif: Seluruh Rakyat Iran adalah Pasukan Garda Revolusi | Viralizer Network Blog | Viralizer Network Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: