NewsTicker

Pemimpin Kurdistan Sebut Referendum Tidak Akan Sia-sia

Rabu, 18 Oktober 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, KURDISTAN – Presiden Kurdistan Irak mengatakan bahwa pemungutan suara kemerdekaan yang baru-baru ini diadakan di seluruh wilayah Kurdistan tidak akan sia-sia.

Masoud Barzani, pada hari Selasa (17/10/2017),  bersumpah akan mempertahankan prestasi orang-orang Kurdi meskipun mereka kalah di Kirkuk.

BacaPemimpin Kurdistan adalah Boneka Zionis untuk Agenda Pecah Belah.

Dia kemudian menyalahkan keputusan sepihak politisi Kurdi. “Apa yang terjadi di kota Kirkuk adalah karena keputusan sepihak dari beberapa pejabat tertentu di internal partai politik di Kurdistan, yang akhirnya menyebabkan penarikan Peshmerga.”

Pasukan Kurdi telah memegang bagian-bagian wilayah Irak sejak tahun 2014, ketika ISIS mulai melakukan serangan di Irak dan orang Kurdi mulai melawannya dan menguasai wilayah tersebut.

Pemerintah Baghdad telah lama bersikeras bahwa orang-orang Kurdi harus mundur dari wilayah yang mereka kendalikan, namun militan Kurdi menolak. Sejak referendum kontroversial tentang pemisahan diri Kurdistan dari Irak pada 25 September, pemerintah Irak telah kehilangan kesabaran, dengan mengirim pasukan keamanan untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Kurdi.

Sementara itu, rezim Israel muncul sebagai pendukung setia pemisahan wilayah ini, karena “dunia Arab akan terbelah,” menurut Ian Williams, seorang analis senior Foreign Policy in Focus.

BacaPasukan Irak Usir Pashmerga dari Kirkuk.

“Setiap saat mereka memilihnya, mereka akan mengganggu sekutu. Mereka tidak mampu meruntuhkan pemerintahan Irak … mereka membutuhkannya untuk melawan ISIL,” kata Williams.

“Tapi jika mereka mendukung orang-orang Kurdi, mereka secara internal mengasingkan Turki,” tambahnya.

Baghdad juga memerintahkan wilayah Kurdistan untuk segera menyerahkan penyeberangan dan bandara di perbatasannya. Wilayah tersebut menolak, kemudian mengirim ribuan Peshmerga dan militan lainnya ke provinsi Kirkuk, yang telah lama diklaimnya secara keseluruhan.

Sementara itu, Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengatakan bahwa suara kemerdekaan Kurdi “adalah masa lalu” dan bahwa perundingan sekarang harus dimulai sesuai dengan konstitusi.

“Saya meminta dialog berdasarkan kemitraan di satu negara dan di bawah konstitusi, referendum telah selesai dan menjadi sesuatu dari masa lalu, hal itu terjadi di masa lalu dan hasilnya telah selesai,” kata Abadi dalam sebuah konferensi pers di Baghdad pada hari Selasa.

“Kami berharap mereka membatalkannya, tapi kami telah menyelesaikannya di lapangan. Referendum telah selesai dan kita perlu memulai dialog di bawah konstitusi dan atas dasar saling menghargai dan kemitraan nasional. Saya yakin bahwa kita adalah mitra di satu negara,” perdana menteri Irak menambahkan.

BacaAS dan Israel Desak Kurdistan untuk Melepaskan Diri dari Irak.

Sebelumnya, Presiden Irak Fuad Masum meminta Erbil dan Baghdad untuk melakukan negosiasi guna menyelesaikan masalah mereka, dan menekankan bahwa referendum kemerdekaan Kurdi sebab intervensi militer Baghdad. [ARN]

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: