NewsTicker

Mantan Jihadis: Rasisme di Inggris Mendorongnya Bergabung dengan ISIS

Selasa, 7 November 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, LONDON – Seorang wanita Inggris yang menikah dengan ISIS asal Amerika mengungkapkan bagaimana rasisme di Inggris meradikalisasinya. Tania Georgelas mengatakan sehari-harinya sebagai remaja di Harrow, barat laut London, mendorongnya untuk menjadi seorang jihadis.

Georgelas, 33, keturunan Bangladesh, mengatakan kepada The Atlantic dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Jumat: “Kami memiliki tetangga yang buruk, mereka biasanya menghancurkan jendela kami. Tapi umumnya, saya hanya merasa seperti orang asing.”

Dia menambahkan: “Saya sedang mencari cara untuk membalas, dan saya ingin kehormatan.”

Dia mengklaim titik baliknya terjadi setelah serangan teroris 9/11 di tahun 2001.

“Saya berusia 17 tahun, saya melihat menara-menara itu menabrak dan saya pergi ke sekolah keesokan harinya,” kata mantan wanita jihadis tersebut.

“Saya berkata kepada teman saya: ‘Oh, bukankah apa yang terjadi itu mengerikan?’ Dan dia menatap saya dan berkata: ‘Benarkah?'”

“Pada saat itu saya menjadi benar-benar orang yang keras.” Itu terjadi saat sebuah demonstrasi menentang perang Irak, dia bertemu dengan sekelompok wanita yang membagikan selebaran yang mempromosikan situs kencan Muslim.

Di sana ia bertemu dengan John Georgelas, seorang Kristen yang pindah dari Texas yang merupakan putra dokter militer AS Kolonel Timothy Georgelas dan istrinya, Martha. Georgelas menikahi dia di Inggris pada tahun 2004 hanya sebulan setelah pertemuan mereka, dan dia terbang kembali ke AS bersamanya.

Saat dia mengandung anak keempatnya, suaminya memintanya bergabung dengan ISIS di Suriah. “John ingin pergi ke Suriah, dan saya bilang saya belum siap, karena anak-anak masih kecil,” katanya.

“Saya ingin para pemberontak menang, tapi saya tidak perlu berada di dalam wilayah Suriah.”

Pria berusia 33 tahun itu mengatakan bahwa dia telah melahirkan anak-anak karena satu-satunya alasan bahwa mereka bisa “melayani tuhan sebagai Muslim, sebagai mujahidin.”

Dia juga menambahkan ingin anak-anaknya menjadi tentara khilafah, dia berkata: “Kami melatih mereka sebagai pembunuh dan mendandani mereka sebagai jihadis.”

Setelah beberapa bulan tinggal di Suriah, Georgelas mendapati kondisinya tak tertahankan dan setelah mendorong anak-anaknya ke kereta melalui ladang ranjau, dia kembali ke AS. Dia menceraikan suaminya, yang ditinggalkannya di Suriah.

Anak-anak Georgelas sekarang dirawat oleh kakek dan nenek mereka, meskipun dia masih berhak melihat mereka.

Dia mengatakan bahwa dia menghadiri Gereja Unionist dengan pacar barunya, Craig, seorang pekerja IT, dan tujuannya adalah untuk mengambil bagian dalam program de-radikalisasi untuk mantan teroris. [ARN]

Sumber: RT.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: