Arab Saudi

Bin Salman Bagai Banteng di Toko China

Jum’at, 10 November 2017

RIYADH, ARRAHMAHNEWS.COM – Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri, mengumumkan pengunduran dirinya dalam kunjungan ke ibukota Saudi, Riyadh. Dari sana dia menuding Iran mencampuri urusan negaranya dan negara-negara Arab lainnya seperti Yaman. Dengan kata lain, hal ini menggambarkan sesuatu yang janggal, dimana seorang perdana menteri sebuah negara mengundurkan diri di ibukota negara asing, sambil menunjuk negara lain sebagai target.

Sementara masyarakat dunia tengah berusaha memahami perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah dunia ini, Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman melakukan langkah lain yang juga belum pernah terjadi sebelumnya, dengan membentuk sebuah “komisi antikorupsi,” kemudian menahan 38 petinggi Saudi, termasuk 11 pangeran dan lebih dari 10 mantan menteri dan menteri saat ini , termasuk pemilik ART, MBC dan Rotana.

Baca: TERUNGKAP! Bocoran Dokumen Buktikan Israel-Saudi Dibalik Mundurnya PM Lebanon

Untuk pertama kalinya juga dalam sejarah, Ritz Carlton berubah menjadi penjara dibawah panji anti-korupsi bin Salman. Diumumkan bahwa komisi tersebut diberi wewenang untuk menangkap, menahan, menyita harta benda dan “melakukan prosedur lain yang diperlukan.” Dikatakan bahwa lebih dari 1.700 akun bank telah dibekukan sejauh ini.

Meski target Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Israel dan AS, tampaknya adalah Iran, jelas bahwa poros ini juga akan menargetkan Qatar dan Turki. Pendekatan antara Inggris dan China terhadap Jalan Sutra, klop dengan upaya Rusia untuk mencapai tujuan geopolitiknya, upaya Turki untuk mendapatkan kekuatan dengan melindungi integritas teritorialnya dan upaya Qatar untuk tumbuh tanpa menjadi negara satelit.

Baca: MENGEJUTKAN! Tokoh-tokoh Saudi Disiksa Saat Interogasi

Sementara itu, karena Arab Saudi masih bergulat dengan resesi ekonomi, pihaknya berharap dapat mengkonsolidasikan kekuasaannya di kawasan dengan dukungan dari AS dan Israel.

Di balik dukungan tanpa syarat AS, terdapat fakta bahwa saham Aramco senilai 2 triliun dolar akan terdaftar di New York Stock Exchange, belum lagi kesepakatan senilai 350 juta dolar yang ditandatangani saat kunjungan Donald Trump ke Arab Saudi dalam kunjungan luar negeri pertamanya.

Baca: Guardian: Apakah Tangan Kotor Bin Salman Mampu Perangi Korupsi?

Meski Arab Saudi diklaim telah mulai “mereformasi” Islam dengan memberi wanita hak untuk mengemudi dengan perspektif Islam yang terlalu reaksioner, tidak jelas apakah mungkin negara tersebut membuat perubahan drastis ini tanpa melakukan perang sipil.

Kondisi pemerintahan Saudi yang lebih didominasi Bin Salman daripada ayahnya Raja Salman,  saat ini adalah  “seperti seekor banteng di toko China. Ditengah kebingungannya, seekor banteng ditoko China hanya akan semakin merusak semua yang berada disekitarnya. Kita akan melihat apakah dan bagaimana ia dapat mengumpulkan fragmen-fragmen itu, dan apakah AS akan terus menepuk punggung banteng tersebut sementara mengetahui ketidakmampuannya untuk mengumpulkan fragmen-fragmen yang berserakan. (ARN/Daily Sabah)

 

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: