Mohammed bin Salman Tiru Vladimir Putin?

Senin, 13 November 2017

RIYADH, ARRAHMAHNEWS.COM – Jika kejadian yang berlangsung di Riyadh adalah indikasi bahwa Pangeran Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), berambisi segera menjadi raja, maka kita akan berada dalam perjalanan yang penuh gelombang selama bertahun-tahun ke depan.

Perombakan konsensus kekuasaan yang telah berlangsung puluhan tahun di Saudi, dan juga pengunduran diri Saad Hariri di Riyadh yang diduga terjadi atas paksaan Arab Saudi, semuanya menunjukkan bahwa MBS sedang mencari pengakuan atas kewibawaannya baik di dalam maupun di luar negeri.

Baca: Atwan: Operasi Sapu Bersih Bin Salman Awal Perang Besar Timur Tengah

Beberapa komentator telah menjulukinya “Vladimir Putin dari Timur Tengah” mengacu pada langkah beraninya dalam mengubah keseimbangan kekuatan di Kerajaan dan menjatuhkan “oligarki” Saudi.

Sejak mendapat akses di kekuasaan pasca ayahnya diangkat jadi raja pada 2015, Politik Luar Negeri Arab Saudi terlihat seperti meniru transformasi di Rusia. Perang Yaman, blokade Qatar dan, dugaan keterlibatan Arab Saudi dalam perkembangan Lebanon baru-baru ini tampaknya meminjam dari buku pedoman Putin.

Presiden Rusia boleh dibilang politisi yang membawa politik nyata kembali ke mode lama. Maka di kawasan, di mana keseimbangan kekuatan semakin berubah, Arab Saudi melihat kebutuhan untuk tetap waspada dan proaktif, itulah sebabnya kebijakan revisionis Putin dianggap sesuai dengan kepemimpinan di Riyadh.

Baca: Bin Salman Bagai Banteng di Toko China

Tapi jika MBS menggunakan strategi Putin sebagai buku panduannya, maka dia melakukannya dengan salah, sepenuhnya.

Meski Putin dan MBS memiliki pendekatan yang sama terhadap kebijakan luar negeri, mereka memiliki titik awal yang berbeda. Dengan kepemimpinannya yang tidak menghadapi penantang serius dalam negeri, Putin dapat membeli strategi “wortel dan tongkat” untuk jangka panjang, sedang bagi Mohammed bin Salman, kebijakan luar negerinya sebagian besar dilakukan demi kebutuhan untuk memperkuat kekuatannya di dalam negeri sesegera mungkin.

Putin menghabiskan bertahun-tahun dengan hati-hati membangun citra publiknya (sampai pada titik di mana rating persetujuannya telah di atas 80 persen selama bertahun-tahun hingga sekarang). Kebijakan luar negerinya yang tegas, apakah orang suka atau tidak, membuat Rusia menjadi sebuah negara yang pendapatnya tidak dapat diabaikan begitu saja, dan saat ini semakin terlihat bahwa MBS berusaha untuk menetapkan pijakan serupa bagi pemerintahannya.

Baca: Bandar Bin Sultan Ikut Jadi Target Bin Salman, Mengapa?

Tidak ada keraguan bahwa baik Putin dan MBS adalah produk dari sistem kekuasaan yang mereka coba kendalikan. Putin bangkit dari kekuatan vertikal Rusia yang sulit diatur pada tahun 1990an. Iia berusaha mengendalikannya sepanjang tahun 2000an, melawan oligarki bisnis yang tidak dapat diatur, dan berhasil. Demikian juga, MBS telah menjadi penerima keuntungan dari sistem konsensus kerajaan. Ayahnya, Raja Salman, akhirnya menerima tahta kerajaan Saudi, setelah sekian lama menunggu giliran.

Namun, jika MBS menggunakan strategi Putin sebagai buku panduan, dia melakukan semuanya dengan salah. Dengan secara paksa menghilangkan anggota keluarga yang berpengaruh dari kekuatan yang sejajar. Pangeran muda tersebut membongkar sistem peraturan konsensus, sesuatu yang memungkinkan Arab Saudi untuk menjaga keseimbangan dan menjaga kelangsungan Kerajaan selama bertahun-tahun. Apa yang sebenarnya dilakukan MBS adalah memasang sistem pemerintahan berdasarkan kekuasaannya saja, yang merupakan halaman dari buku pedoman Putin, namun, tidak seperti presiden Rusia, pangeran mahkota Saudi itu menghancurkan sebuah ekuilibrium yang membantu Kerajaan menjaga stabilitas.

Baca: Mohammed Bin Salman Siapkan Upacara Pelantikannya Sebagai Raja Saudi

Alih-alih menciptakan kelompok elit kerajaan yang setia tanpa syarat kepada raja, MBS justru menyingkirkan orang-orang yang menganggap dirinya memiliki hak sah atas potongan kue yang sama dari kekuasaan di Kerajaan. Pangeran mahkota ini, seorang patriark yang berambisi tinggi hingga tidak lagi memandang keturunan Ibn Saud sebagai sama, sebenarnya telah menciptakan sekelompok besar elit bangsawan kerajaan yang merasa akan sangat dirugikan oleh kekuasaan Bin Salman, dan karenanya akan bersatu dalam penolakan terhadap status quo yang baru (Mohammed bin Salman).

Penolakan ini, bagaimanapun, sudah menyebar jauh di dalam para elit dan tidak akan muncul sampai berubah menjadi perbedaan pendapat. Ini menjelaskan mengapa guncangan operasi sapu bersih yang dipimpin MBS di Riyadh tidak pandang bulu terhadap siapa yang menjadi targetnya karena mungkin lebih ditujukan untuk mencegah timbulnya perbedaan pendapat, daripada menuding pembangkang secara spesifik.

Ini menandai perbedaan utama antara MBS dan Putin. Presiden Rusia itu memiliki insting yang baik tentang dinamika kekuatan domestik yang mendasar dan dengan mudah menguasainya. Ia menciptakan sebuah sistem politik di mana cabang-cabang “kekuasaan” saling berhadapan dan ia bertindak sebagai wasit di antara mereka.

Baca: Bin Salman Tangkap Sejumlah Pangeran dan Menteri Dengan Tuduhan Korupsi

Dalam struktur kekuatan ini, semua klan individu politik kemudian mencari kedekatan dengan pemimpinnya dan bersaing untuk mendapat perhatian Putin. Dengan demikian, para aktor politik ini akan tetap fokus pada pertengkaran mereka dan tidak akan menentang puncak kekuasaan, karena begitu kekuatan piramida ini hancur, akan menjatuhkan semua orang, termasuk para pembangkang.

MBS ingin membangun sistem yang sangat berbeda, dengan dasarnya sama-sama melemahkan semua cabang lain dari House of Saud untuk mempertahankan kekuasaannya atas mereka. Cara ini, bagaimanapun, tidak menjamin tingkat stabilitas yang sama dan mungkin cara ini tidak akan mampu mempertahankan rezim ini lebih lama. (ARN/Yury Barmin/Al-Jazeera)

 

About ArrahmahNews (12172 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: