Setelah Suriah, Rusia akan Beraksi di Yaman

Rabu, 15 November 2017,

NEW YORK, ARRAHMAHNEWS.COM – Dalam sebuah artikel yang dimuat majalah AS, The National Interest, pada Selasa (14/11), dikatakan bahwa setelah mengokohkan posisinya di kawasan melalui keterlibatannya dalam konflik Suriah, Rusia akan bergerak lebih lanjut dengan beraksi dalam konflik yang terjadi di Yaman.

Baca: Ansharullah Sambut Baik Upaya Rusia Hentikan Agresi Saudi di Yaman

Dalam artikel tersebut dikatakan bahwa sejak dimulainya pembicaraan Astana mengenai Suriah pada bulan Desember 2016, para analis Barat telah banyak memperhatikan peran Rusia yang mulai muncul sebagai mediator konflik di Timur Tengah. Pengamatan seputar usaha arbitrase Rusia di Suriah ini kemudian memicu serangkaian prediksi mengenai di manakah Moskow akan mengambil peran diplomatik dalam krisis keamanan Timur Tengah berikutnya. Dalam hal ini, yang paling sering menjadi perkiraan sebelumnya sebagai ajang kterlibatan diplomatik Rusia berikutnya adalah Libya, krisis Qatar dan kebuntuan Arab Saudi-Iran.

Intervensi Rusia di masing-masing dari tiga krisis regional ini memang memberi kesempatan bagi Rusia untuk memperluas pengaruh geopolitiknya di Timur Tengah, tapi para pembuat kebijakan Barat menjadi lebih sedikit memperhatikan prospek intervensi diplomatik Rusia di Yaman, sementara Konflik Yaman memiliki pertemuan karakteristik unik yang sangat kondusif untuk intervensi diplomatik Rusia ala Suriah, dan memberi Vladimir Putin kesempatan untuk menunjukkan pengaruh Moskow di Timur Tengah tanpa perlu biaya mahal.

Pembuat kebijakan Rusia memandang Yaman sebagai tujuan menarik untuk intervensi diplomatik, karena mereka yakin bahwa Arab Saudi bersedia untuk mengakhiri permusuhan di Yaman jika ditawari persyaratan tertentu. Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir mengkonfirmasi penilaian ini selama kunjungannya baru-baru ini ke Moskow. Menanggapi pertanyaan dari wartawan Rusia, al-Jubeir bersikeras bahwa Arab Saudi menginginkan penyelesaian diplomatik di Yaman yang memaksa semua pihak yang bertikai untuk mematuhi Resolusi 2216 Dewan Keamanan PBB, sebuah resolusi April 2015 yang menyerukan berakhirnya perang saudara Yaman.

Baca: Rusia: Saudi Ciptakan Bencana Mengerikan di Yaman

Meningkatnya sentimen anti perang di dalam pendirian politik Saudi dapat dijelaskan dengan memburuknya kondisi di medan perang Yaman. Gagalnya Saudi meraih kemenangan di Yaman sejak melancarkan agresi di tahun 2015 telah meyakinkan para pembuat kebijakan Saudi bahwa konflik Yaman telah menghadapi jalan buntu yang sulit. Keputus-asaan Arab Saudi di Yaman ini meningkat pesat sejak Qatar mengundurkan diri dari misi Dewan Kerjasama Teluk (GCC) pada bulan Juni dan Uni Emirat Arab (UEA) mulai melancarkan serang an ke al-Islah, sebuah organisasi Persaudaraan Muslim Yaman yang berkantor di Saudi.

Untuk mengakhiri kebuntuannya di Yaman, Riyadh perlu berkoordinasi dengan mediator kekuatan eksternal, karena aktor regional, seperti Kuwait dan Oman, telah gagal melakukannya. Kevakuman mediasi ini memberikan kesempatan yang sangat baik bagi Rusia untuk menampilkan kecakapan diplomatiknya dengan memfasilitasi resolusi konflik Yaman.

Baca: Wakil Menlu Rusia: Bencana Kemanusiaan Yaman Separah Suriah

Rusia memiliki dua keuntungan yang membuat negara itu bisa untuk mengambil peran mediasi di Yaman. Pertama, sejak dimulainya intervensi militer yang dipimpin oleh Saudi pada bulan Maret 2015, Rusia telah mempertahankan hubungan kerja sama dengan semua pemangku kepentingan politik utama di Yaman. Tidak seperti Amerika Serikat yang sejak awal secara terang-terangan memihak ke Arab Saudi, Moskow justru segera mengumumkan dukungannya untuk sebuah resolusi damai terhadap perang sipil Yaman. Pada bulan April 2015, Rusia mengutuk serangan udara Saudi di Yaman, dan menyatakan dukungan untuk embargo senjata PBB yang menyeluruh.

Meskipun intervensi militer Arab Saudi di Yaman telah beralih ke konflik yang berkepanjangan, Rusia berhasil mempertahankan hubungan positif dengan para pemimpin di kedua sisi perang. Untuk menunjukkan komitmennya terhadap dialog diplomatik inklusif untik semua, Rusia mempertahankan sebuah kedutaan di ibukota Sana’a yang dikuasai Houthi dan sebuah konsulat di Aden, ibu kota pemerintah yang diklaim Hadi. Melalui saluran diplomatik ini, Moskow telah berkonsultasi dengan faksi pro-Saudi dan Houthi mengenai tindakan kontraterorisme, dan mengadakan perundingan informal mengenai resolusi konflik di Yaman.

Jika Rusia bertindak sebagai mediator yang efektif di Yaman, Putin akan dapat melawan kritik terhadap kebijakan Moskow di Suriah dan meningkatkan penghormatan kepada Rusia sebagai penengah konflik di dunia Arab. Sebagaimana Moskow telah menyatakan minatnya untuk menengahi krisis politik Libya, dan konflik Arab Saudi-Qatar, intervensi diplomatik Rusia yang berhasil di Yaman akan meningkatkan tujuan Moskow untuk menjadi kekuatan besar yang tak terpisahkan di Timur Tengah.

Pembuat kebijakan Rusia juga percaya bahwa memperluas keterlibatan diplomatik Moskow di Yaman akan membantu Rusia memperbaiki citranya di dunia Arab. Jika Moskow memperluas kehadiran diplomatiknya di Yaman dan membuat kemajuan dalam mengakhiri jalan buntu militer yang tampaknya tidak terkendali ini, peran Rusia sebagai mediator handal di Timur Tengah akan mengakar hingga bertahun-tahun yang akan datang. (ARN)

About ArrahmahNews (12203 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: