Headline News

Hamas: Mossad Gunakan Paspor Bosnia dalam Pembunuhan Ahli Drone Mohamed Zawahri

Jum’at, 17 November 2017,

TUNIS, ARRAHMAHNEWS.COM – Hamas mengatakan bahwa agen mata-mata Israel Mossad, menggunakan paspor Bosnia tahun lalu untuk membunuh Mohamed Zawahri, seorang ahli drone Tunisia yang bekerja untuk gerakan perlawanan Palestina, Hamas.

Baca: Mossad Latih Agen Khusus Untuk Lakukan Teror di Seluruh Dunia

Tokoh senior Hamas Mohamed Nazzal mengatakan di Beirut pada hari Kamis (16/11) bahwa sebuah penyelidikan menemukan sejumlah agen dari Mossad telah beroperasi di Tunisia selama beberapa bulan, berpura-pura menjadi wartawan asing untuk mendekati Zawahri.

“Zawahri berada di bawah pengawasan ketat Mossad selama empat bulan sebelum pembunuhannya pada 15 Desember tahun lalu,” ungkapnyadalam sebuah konferensi pers di ibukota Lebanon tersebut.

Baca: 48 Jam Kunjungan Rahasia Kepala Mossad dan Penasehat Netanyahu ke Riyadh

“Dua pembunuh utama yang masuk ke negara tersebut sebelum membunuh Zawahri menggunakan paspor Bosnia,” jelas Nazzallebih lanjut.

Zawahri, seorang warga Tunisia berusia 49 tahun, ditembak 20 kali saat mengendarai mobil di luar rumahnya di kota pelabuhan Sumba, Afrika Utara.

Prosedur yang digunakan untuk membunuh Zawahri, yang telah bekerja untuk Hamas selama 10 tahun, bukanlah hal yang aneh bagi Mossad yang menggunakan wawancara sebagai umpan untuk melakukan pembunuhan tersebut.

Hamas mengatakan pada saat itu bahwa Israel berada di balik pembunuhan yang mendorong ratusan orang Tunisia untuk turun ke jalanan di ibukota Tunis dan mengutuknya.

Baca: Dua Agen Mossad Ditangkap di Rumania

Kembali di tahun 2012, Israel mengakui pembunuhan Abu Jihad pada tahun 1988, komandan kedua dari Organisasi Pembebasan Palestina, dalam sebuah serangan di markas besar gerakan mereka di Tunis.

Mossad secara luas juga diyakini berada di balik pembunuhan pemimpin Hamas Mahmoud al-Mahbouh pada 2010, di mana mata-mata Israel itu menggunakan paspor Inggris, Irlandia, Australia dan lainnya untuk membunuhnya di Dubai. Penggunaan paspor palsu itu mendorong Inggris, Irlandia dan Australia untuk mengusir beberapa diplomat Israel sebagai protes. (ARN)

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: