News Ticker

TERBONGKAR! Misteri Kematian Ali Abdullah Saleh dan Kudeta Yaman

Kamis, 07 Desember 2017

SANA’A, ARRAHMAHNEWS.COM – Hingga kemarin, sebelum Trump membuat deklarasi tentang Yerussalem sebagai ibukota Israel, Yaman berada di halaman depan dan berita utama di seluruh dunia minggu ini. Bukan karena genosida yang telah berlangsung selama dua setengah tahun terakhir, atau kelaparan, atau meningkatnya jumlah kematian akibat merebaknya wabah Kolera dan Difteri yang disebabkan blokade terus menerus Saudi di negara ini, namun karena halaman lama dalam sejarah Yaman telah ditutup untuk selamanya. Presiden Yaman yang “bersejarah” Ali Abdullah Saleh akhirnya tenggelam dalam darahnya sendiri saat melarikan diri pasca kudeta gagal terhadap sekutunya, Ansarullah.

Baca: Pejabat Houthi: Saleh Diam-diam Berkonspirasi dengan Riyadh

Ali Abdullah Saleh mendominasi kehidupan politik negaranya selama hampir empat dasawarsa. Dia adalah presiden selama 33 tahun dan selamat dari pergolakan tahun 2011 yang mengguncang dunia Arab, mengundurkan diri setelah perundingan politik, sementara para tiran di tempat lain diusir atau terbunuh. Dia kemudian muncul kembali, menyerahkan diri pada perlawanan (Houthi) yang telah berhasil menyingkirkan pemerintah lemah dukungan Saudi menggantikan Saleh (Mansur Hadi), dimana dialah faktor kunci perang menghancurkan Saudi terhadap Yaman selama hampir tiga tahun terakhir.

Banyak pertanyaan dan skenario muncul pasca tewasnya “manusia dari semua fase” ini, mulai dari reaksi partisan dan kesukuan sampai situasi politik dan militer, hingga kekecewaan Riyadh dan Abu Dhabi atas hilangnya”proxy” baru mereka untuk melawan Ansarullah.

Baca: Upaya Saudi-UEA Memecah Belah Koalisi Houthi-Saleh

Kemarin, orang yang pernah menjadi orang paling berpengaruh di arena politik itu, yang telah hafal dengan koridornya dan berpindah dari satu tingkat ke tingkat lainnya dengan cara yang licik, diperlihatkan tergeletak tak bernyawa dengan tubuh bernoda darah dalam selimut.

Itu adalah “Akhirnya”, demikian dikatakan pemimpin Ansarullah Abdul Malik al-Houthi, “sebuah pukulan untuk kekuatan agresi dan rezim Al Saud, serta AS dan Inggris yang berada di belakang mereka”. Di hadapan ribuan bangsa Yaman kemarin, Sayyid Houthi menunjukkan kepada Saudi dan sekutu mereka bahwa “agresi mereka adalah sebuah kegagalan” dan bahwa mereka “tidak akan berhasil di mana saja” di Yaman.

Mantan Presiden Yaman Dibunuh, Rumahnya diledakkan

Presiden yang digulingkan saat berusia 75 tahun itu tampaknya terbunuh pada hari Senin akibat pengkhianatannya terhadap Gerakan Perlawanan Ansarullah. Meskipun keadaan kematiannya tidak jelas, beberapa laporan menyebut bahwa ia disarankan untuk melarikan diri dari ibu kota, Sana’a, namun dihentikan oleh pendukung Ansharullah dan terbunuh di salah satu pos pemeriksaan di luar Sana’a.

Pertanyaan terakhir yang sejauh ini tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti adalah: apa yang mengubah peraturan permainan dan membuat Saleh beralih untuk berpihak pada hal yang kemudian menghantarkannya kepada kematian?

Baca: Abdel Bari Atwan: Saleh Jatuh dalam Perangkap Arab Saudi

Menjawab hal ini, Dr. Mohamed Sadiq al-Husseini, seorang peneliti, kemarin melaporkan bahwa Saleh sebelumnya sedang bersiap untuk memimpin sebuah kudeta terhadap para pendukung Ansarullah. Ini dilakukannya agar bisa kembali ke arena pemerintahan Yaman dan akhirnya mendudukkan anaknya Ahmed, yang saat ini tinggal di UEA, sebagai Presiden Yaman di bawah perlindungan UEA.

Dalam rincian kudeta ini, Husseini melaporkan bahwa kudeta terhadap Ansarullah ini sudah dipersiapkan lama dan dimulai sekitar delapan bulan lalu. Mohammed Ben Zayed, Jenderal Shaul Mofaz, mantan Menteri Perang Israel, Mohammed Dahlan, mantan anggota Komite Fatah, dan Ahmad Ali Abdullah Saleh, putra mantan presiden yang tewas itu, semuanya terlibat dalam perencanaan tersebut.

Baca: BREAKING NEWS! Rudal Terbaru Yaman Sikat Reaktor Nuklir UEA di Abu Dhabi

Perencanaan operasi dimulai di Abu Dhabi, di mana rencana kudeta tersebut ditulis oleh Mohammed bin Zayed. Setelah itu, markas besar pertemuan tersebut dipindahkan ke pulau Socotra, yang dijual oleh abed Rabbu Mansour Hadi kepada Emirat. Sebanyak sembilan pertemuan diadakan di pulau tersebut, melibatkan perwira UEA yang ditempatkan di Yaman selatan dan perwira Israel yang direkomendasikan oleh Shaul Mofaz.

Husseini melanjutkan, bahwa sebagai bagian dari rencana tersebut, diputuskan untuk melatih 1.200 rekan dekat Ali Abdullah Saleh di kamp-kamp pasukan UEA di kota Aden untuk menjadi kekuatan utama bagi mereka yang kemudian direkrut dan dilatih di Sanaa dan lingkungannya, dimana kemudian merekalah yang akan bertanggung jawab untuk melakukan kudeta tersebut.

Dan kemudian dimulai, dana dialokasikan untuk menutupi biaya pelatihan dari total 6.000 orang Saleh di Sanaa dan sekitarnya di bawah payung pelatihan untuk penguatan front. Ruang operasi Mohammed bin Zayed mentransfer total 289 juta dolar Amerika dana dari Aden ke Sanaa melalui perantara kerabat Ali Abdullah Saleh antara bulan Februari dan Juni 2017. Sebagai tambahan, 100 juta dolar Amerika ditransfer ke Saleh antara bulan Agustus 2017 dan akhir Oktober 2017.

Baca: Jubir Pasukan Yaman: Serangan Rudal adalah Peringatan untuk UEA

Kudeta tersebut seharusnya dilakukan pada tanggal 24 Agustus, namun perwira UEA dan Israel menunda operasi tersebut di kemudian hari karena dua alasan: pertama, kurangnya kesiapan pasukan Saleh, dan yang kedua adalah pendukung Ansarullah yang mengetahui rencana kudeta dan mengendalikan semua pintu masuk ke ibu kota dan perimeternya dengan sangat rapat.

Sebuah keputusan baru kemudian diambil oleh perencana kudeta untuk mempersenjatai dan melatih total 8.000 orang di Sanaa dan sekitarnya. Misi tersebut dipercayakan kepada penyelundup lokal, bersama dengan 16 ahli pasokan dari ISIS yang telah dipindahkan dari Irak ke daerah Sheikh Osman di Aden awal tahun ini serta empat mantan perwira Israel yang memasuki wilayah Aden dengan bantuan Uni Emirat Arab.

Menurut pendukung Ansarullah, senjata-senjata itu diam-diam disimpan di 49 titik rahasia yang berbeda di Sanaa, sesuai dengan rencana mobilisasi spesifik yang bergantung pada distribusi senjata ke tiap individu untuk ditempatkan di kota pada jam nol yang ditentukan oleh ruang operasi militer untuk unsur kejutan dan untuk membuat proses kudeta berlangsung dengan sangat cepat. Kecepatan ini sudah direncanakan dimulai dengan serempak bergerak melawan pendukung Ansarullah di ibukota Sanaa. Rencana ini awalnya dianggap pasti berhasil dari sudut pandang teknis militer akhir pekan lalu.

Baca: Houthi atas Kematian Saleh: Kami Berhasil Gagalkan Ancaman Besar atas Yaman

Disinilah Ali Abdullah Saleh mulai percaya diri dan menolak untuk memberikan konsesi/berdamai dengan Ansarullah sampai malam tanggal 3 Desember, karena ia yakin bahwa ia memiliki cukup senjata dan orang bersenjata untuk mengendalikan Sanaa dalam waktu maksimal, enam jam, tapi akhirnya gagal.

Ketika pimpinan gerakan Ansarullah menyadari bahwa negosiasi dengan Saleh tidak akan berjalan, mereka memberi tahu para mediator bahwa mereka dapat menjamin jalan keluar yang aman bagi Ali Abdullah Saleh sebagai imbalan untuk mengakhiri kudeta tersebut, dengan memperingatkan bahwa jika dia tidak setuju, mereka akan menguasai situasi militer serta mengendalikan Sana’a dan sekitarnya dalam waktu tiga jam, yang terjadi antara 2 dan 3 Desember 2017.

Setelah situasi di Sana’a benar-benar dikuasai oleh Ansarullah, Ali Abdullah Saleh memaksa melarikan diri ke luar ibu kota. Hal ini dilakukan dalam koordinasi dengan UEA melalui anaknya, dimana pesawat tempur koalisi mengantar iring-iringan mobilnya, terdiri dari tiga kendaraan lapis baja. Konvoi tersebut juga menyertakan enam kendaraan penggerak empat roda yang dilengkapi dengan senapan mesin 23 mm dan dua pickup Toyota dengan senapan mesin 37 mm.

Saluran televisi Al Mayadeen yang berbasis di Lebanon melaporkan bahwa 11 pos pemeriksaan dibom oleh pesawat tempur koalisi untuk mengamankan jalan bagi Saleh untuk melarikan diri dari Sanaa.

Hal ini menyebabkan terjadinya tembak menembak di salah satu pos pemeriksaan di Sayyan selatan Yaman antara iring-iringan Saleh dengan pendukung Ansarullah. Pesawat koalisi mengebom lokasi bentrokan tersebut untuk mencegah pejuang Ansarullah menahan Ali Abdullah Saleh, agar tidak mengungkapkan rincian siasat busuknya yang dilakukan bekerja sama dengan UEA, Saudi dan Israel.

Oleh karena itu, terlepas tertembak oleh siapa, keputusan untuk membunuh Ali Abdullah Saleh sebenarnya diambil oleh pimpinan koalisi (Saudi Cs) untuk menutupi kerja sama militer dan keamanan langsung antara mereka dengan Israel untuk mengambil alih kendali atas ibukota Sanaa. (ARN)

Sumber: artikel Marwa Osman di ahtribune.com. Marwa Osman adalah kandidat PhD di Beirut, Lebanon. Dosen Universitas di Universitas Internasional Lebanon dan Universitas Maaref dan bekas pembawa acara politik “Siaran Timur Tengah” yang disiarkan di Al-Etejah English Channel. Anggota Jaringan Media Perdamaian Biru dan komentator politik mengenai isu-isu Timur Tengah di beberapa media internasional dan regional.

About ArrahmahNews (12477 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on TERBONGKAR! Misteri Kematian Ali Abdullah Saleh dan Kudeta Yaman

  1. Musuh2 islam atau yg berkolaborasi dengan arab saudi dan israel pada akhirnya akan mati atau musnah. amien

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: