News Ticker

Gagal Singkirkan Hizbullah dan Houthi, Media Israel Olok-olok Bin Salman

Jum’at, 08 Desember 2017

RIYADH, ARRAHMAHNEWS.COM – Di media Israel, Haaretz, sebuah artikel yang diterbitkan pada hari Jum’at (08/12) mengolok-olok Bin Salman yang selama ini dipercaya menjalin kerjasama dengan Israel, atas kegagalan pangeran Mahkota itu dalam berbagai manuver kontroversialnya di kawasan.

Meski dalam beberapa laporan,  Israel disebut-sebut sebagai otak dibelakang beberapa langkah “aneh” bin Salman, tanpa menyebutkan keterlibatan negara Zionist itu, Haaretz mengatakan bahwa diantara dua kegagalan konyol dan menimbulkan kerugian berat lebih lanjut bagi Arab Saudi beserta koalisinya adalah rencana mengacaukan situasi dalam negeri Lebanon untuk melemahkan Hizbullah, dan rencana mengacaukan koalisi Houthi-Saleh untuk menggembosi gerakan perlawanan Yaman itu dari dalam, dimana dua rencana itu gagal total.

Baca:Jenderal Soleimani: Wakil Putra Mahkota Saudi “Mohammed bin Salman” Bisa Membunuh Raja demi Merebut Takhta

Pertama mengenai Hizbullah, Pangeran mahkota Mohammed Bin Salman yang memaksa Hariri untuk mengundurkan diri dari kursi Perdana Menteri menganggap pengunduran diri Hariri akan melumpuhkan pemerintah dan menyebabkan kekacauan politik. Tapi menurut Haaretz, seperti di Yaman, Saudi tidak memiliki rencana yang rapi. Mereka salah dalam berpikir bahwa masyarakat Lebanon akan memaksa agar menyerah pada tuntutan Saudi, yaitu dengan penarikan Hizbullah dari Suriah, Irak dan Yaman.

Pengumuman Hariri yang batal mengundurkan diri kemarin menunjukkan bahwa Arab Saudi belum mencapai apapun. Kesepakatan semua anggota pemerintah untuk mendukung kebijakan nonintervensi dalam urusan negara lain tidak mencegah Hizbullah untuk terus beroperasi. Deklarasi tersebut mengacu pada pemerintah, bukan organisasi. Dengan kata lain, satu-satunya perubahan politik di Lebanon adalah kegembiraan Iran dan tamparan di wajah Arab Saudi.

Baca: Saad Hariri Resmi Cabut Pengunduran Diri Pasca Sidang Kabinet

Masalah yang tak kalah memalukan bagi Arab Saudi kedua adalah kematian Ali Abdullah Saleh. Setelah menginvestasikan miliaran dolar dalam perang, Mohammed bin Salman, pencetus agresi ini menyadari bahwa biaya tinggi tidak menjamin kemenangan dan bahwa tergantung pada Hadi tidak ada gunanya. Sampai saat ini ia justru harus mengasuh mantan Presiden yang kini tinggal di kerajaannya itu karena tidak bisa dan tidak mau pulang ke rumah (Yaman). Kehadiran Hadi digantikan oleh komandan pasukan militer Saudi yang terus melakukan serangan udara ke Yaman, yang efektivitasnya terbatas di daerah perkotaan dan perbukitan.

Baca: TERBONGKAR! Misteri Kematian Ali Abdullah Saleh dan Kudeta Yaman

Maka Arab Saudi berusaha mencari jalan keluar dari perang ini yang setidaknya tidak membuat mereka malu melalui beberapa jalur diplomatik, dengan tetap membuat mereka bisa mengendalikan Yaman.

Adalah Pangeran Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed Al Nahyan, penguasa Uni Emirat Arab, yang mengusulkan sebuah rencana yang akan memungkinkan UEA dan Arab Saudi bisa terus mengendalikan pergerakan di Yaman. Dia dikatakan telah menyarankan kepada Mohammed bin Salman untuk melakukan “revolusi internal,” yang akan menyebabkan Saleh yang pernah digulingkan itu berubah arah dan bergabung dengan koalisi Saudi kemudian beralih memerangi Houthi.

Saleh, yang memang ingin kembali berkuasa dan yang selama masa jabatannya di masa lalu melakukan pertempuran keras melawan Houthi, memberikan empat syarat kepada Arab Saudi dan UEA.

Keempat syarat itu adalah, melepaskan namanya dari daftar sanksi internasional, janji posisi politik di Yaman yang baru (tanpa Houthi), janji bahwa dia dan keluarganya akan tetap aman, dan janji sejumlah dana finansial.

Baca: Abdel Bari Atwan: Saleh Jatuh dalam Perangkap Arab Saudi

Rupanya Arab Saudi dan UEA menyetujui syarat Saleh tersebut, termasuk penolakan terhadap Hadi yang hingga saat ini masih meringkuk di Hotel Saudinya.

Seandainya dia tidak mati di tangan Houthi, Arab Saudi dan UEA mungkin telah memiliki “presiden” Yaman mereka sendiri dengan tentara yang setia kepadanya, proxi baru mereka yang bisa menghadapi Houthi.

Rencana yang sudah disiapkan berbulan-bulan ini gagal total. Houthi, yang sudah mengetahui rencana ini, mencoba sampai saat terakhir untuk meyakinkan Saleh agar tetap setia, tapi setelah Saleh mengeluarkan pidato revolusionernya dan menunjukkan keberpihakan pada Saudi, nasibnya berakhir.

Baca: Houthi Gagalkan Konspirasi Saudi dan Mantan Presiden Saleh

Menurut Haaretz, Arab Saudi dibawah putra mahkotanya telah gagal dalam upaya untuk melakukan perubahan rezim di Yaman, dan ia tidak dapat mendikte tindakan yang akan menghentikan Iran dan Hizbullah bahkan di Lebanon, yang padahal disana Saudi dianggap memiliki pengaruh langsung dan kepentingan secara langsung. (ARN)

About ArrahmahNews (12471 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Militer Israel Bunuh 2 Warga Palestina dalam Demo Tolak Keputusan Trump – ArrahmahNews
  2. VIDEO: Dikhianati Saudi, Warga Palestina Bakar Poster Raja Salman di Gaza – ArrahmahNews

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: