News Ticker

Para Ahli AS Cemooh Presentasi Haley soal Bukti Rudal Yaman dari Iran

Sabtu, 16 Desember 2017,

WASHINGTON DC, ARRAHMAHNEWS.COM – Presentasi duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengenai bukti “tak terbantahkan” bahwa rudal Yaman yang diarahkan ke bandara Riyadh awal November lalu adalah berasal dari Iran, tak berhenti menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk dari para ahli dalam negeri Amerika Serikat itu sendiri karena dianggap memalukan.

Baca: Anggota PBB Ragukan Bukti AS soal Rudal Yaman dari Iran

Dalam sebuah artikel yang dimuat beberapa media AS termasuk WJLA dan News Cahnnel ABC20 pada Sabtu (16/12), para ahli negeri Trump yang membahas presentasi Nikki Haley di DK PBB itu secara seragam menyatakan tindakan tersebut telah menurunkan kredibilitas dan mempermalukan Amerika Serikat.

Mary Kaszynski, wakil direktur kebijakan pada Ploughman’s Fund mengingatkan bahwa presentasi tersebut bisa terbukti kontraproduktif. Ia menyebut bahwa dengan gagalnya Haley menyajikan bukti konkret, presentasinya di hadapan anggota DK PBB itu justru menunjukkan sikap bias anti Iran, dan ketidak mampuan AS untuk mengkoordinasikan masyarakat Internasional agar memusuhi Iran.

“Dengan gagal menyajikan bukti konkret, pemerintah (AS) menunjukkan bias anti-Iran yang menjatuhkan kepercayaan atas kemampuannya untuk mengkoordinasikan respons internasional terhadap perilaku buruk Iran,” katanya.

Sementara itu, Doga Eralp, seorang ilmuwan praktisi resolusi konflik internasional di Universitas Amerika, menilai pidato Haley itu hanya menunjukkan satu lagi upaya oleh administrasi Trump untuk merongrong perjanjian nuklir, mencoba menghubung-hubungkannya dengan jangkauan hegemonik Iran.

“Iran selalu berhasil memperlihatkan bahwa kesepakatan tersebut tidak ada kaitannya dengan politik regional,” katanya.

Barbara Slavin, direktur Inisiatif Masa Depan Iran di Dewan Atlantik, memiliki kata-kata yang lebih keras, yang menyebut presentasi Haley “membingungkan.”

Baca: Houthi Tak Terima AS Tuduh Rudal Yaman dari Iran

“Rupanya tidak ada bukti bahwa barang ini benar-benar ditransfer setelah resolusinya, jadi agak sulit untuk mencapai kesepakatan tertentu,” katanya.

Menurut Slavin, serangan konstan terhadap JCPOA oleh pemerintah Trump tidak akan menyatukan masyarakat internasional di balik tindakan terkait aktivitas berbahaya dan tidak stabil lainnya di Iran. Ia juga merasa keberatan dengan perkataan Haley yang meminta mereka yang hadir disana membayangkan bagaimana jika rudal Iran itu menyerang bandara AS.

“Ini hanya penghinaan yang tidak bertanggung jawab,” katanya. “Dia mencoba membuat orang di negara ini takut pada Iran dan membangun sebuah kasus untuk tindakan militer.”

Sementara itu, seorang ahli lainnya, Behnam Ben Taleblu, analis senior mengenai Iran di Foundation for Defense of Democracies AS, menyinggung mengenai ketidakpastian yang tidak bisa dijawab dalam presentasi Haley, tentang kapan rudal dibawa atau dipindahkan ke Yaman, jika benar itu adalah dari Iran. Ia mencatat bisa jadi jika penjualan atau pengiriman senjata itu berasal dari Iran sebelum 2015, maka itu berarti tidak melanggar resolusi yang berlaku saat itu.

“Fokus (presentasi) mengenai pra-atau pasca-2015 terlalu legalistik dan tidak strategis,” katanya

Taleblu meratapi pushback yang dipolitisir Haley. Menurutnya Haley justru menggiring opini yang memperbandingan apa yang dilakukan AS saat ini ke Iran, dengan apa yang pernah AS lakukan dimasa lalu melalui Collin Powell ke Irak.

“Ini tidak produktif karena perdebatan akan dirusak oleh pidato Colin Powell,” katanya.

Para ahli lain juga berpendapat bahwa presentasi yang diklaim merupakan bukti pelanggaran Iran itu meragukan dan membawa dunia ke dalam perang lebih sulit di Timur Tengah.

Baca: PBB Tak Bisa Konfirmasi Rudal Yaman Berasal dari Iran

“Pemerintah Trump telah mengambil sejumlah langkah terhadap Iran yang sangat mirip dengan yang dilakukan dalam perang Irak,” kata Kaszynski, menunjuk pada klaim para pejabat administrasi Trump tentang kepatuhan Iran terhadap JCPOA dan bagaimana Presiden Trump dilaporkan menolak laporan intelijen yang bertentangan dengan kesimpulan yang diinginkannya.

Kaszynski yang menyayangkan kecerobohan Haley, menyebut bahwa seharusnya AS lebih berhati-hati setelah apa yang terjadi dengan Irak, karena membesar-besarkan ancaman Iran tanpa bukti nyata hanya akan merendahkan kredibilitas AS dan mengasingkan sekutu negara ini.

Sedang Slavin melihat gema Powell dalam pidato Haley, tapi ia mengatakan mantan gubernur Carolina Selatan itu tidak memiliki perawakan Powell di panggung internasional

Menurut Slavin, beberapa tindakan yang diambil presiden, seperti mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, telah memperkuat Iran. Sementara itu, permusuhan terbuka pemerintah AS mungkin meyakinkan Iran bahwa tidak ada keuntungan dalam negosiasi dengan Trump.

“Ini hanya sebuah panduan tentang bagaimana tidak membuat seseorang melakukan apa yang Anda inginkan,” katanya. “Ini tidak kompeten, benar-benar tidak kompeten,” ujarnya menyayangkan.

Masa depan kesepakatan nuklir tetap agak limbo. Kongres memilih tidak bertindak minggu ini sampai batas waktu 60 hari untuk mengeluarkan sebuah resolusi yang memberlakukan sanksi berakhir. Trump sekarang menghadapi ultimatum lain untuk memberi sertifikasi atau disertifikasi kepatuhan Iran terhadap kesepakatan tersebut pada bulan Januari.

“Karena ia mendeklarasikannya pada bulan Oktober, saya akan mengatakan kemungkinan ia akan mengembalikannya lagi,” kata Taleblu. Itu akan mengirim masalah ini kembali ke Kongres.

Trump juga harus memutuskan pada bulan Januari apakah akan melanjutkan pengabaian pengangkatan sanksi atas Iran sebagai bagian dari kesepakatan.

“Jika dia tidak menandatangani keringanan ini, maka AS berarti melanggar perjanjian dan Iran juga bisa melakukan hal yang sama,” kata Slavin. “Kita akan mengalami yang terburuk dari semua kemungkinan dunia karena tidak jelas apa yang akan dilakukan masyarakat internasional.”

Jeffrey menyimpulkan bahwa presentasi Haley hanya menunjukkan bagaimana pemerintahan Trump sedang berusaha menyerang kesepakatan nuklir (JCPOA) tanpa adanya strategi jelas. (ARN)

About ArrahmahNews (16668 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. KONYOL! Dikerjai Komedian Rusia, Dubes AS di PBB Ternyata Tak Paham Geografi – ArrahmahNews

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: