News Ticker

Ancaman Trump Akankah Gagalkan Resolusi PPB Terkait Jerusalem?

Kamis, 21 Desember 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, NEW YORK – Dalam wawancara TV yang baru saja berlangsung Trump secara jelas mengatakan “kita akan mengamati dengan seksama, negara negara mana saja yang berpartisipasi mengambil suara menentang Amerika di Majelis Umum PBB. Saya akan memberikan hukuman bagi negara tersebut dengan memotong bantuan Amerika. Dengan melakukan hal ini kami akan menghemat dana jutaan bahkan milyaran dollar ….biarlah mereka menentang kita….kita akan menghemat banyak uang….saya akan lakukan hal tersebut…lihat saja nanti….saya tidak perduli”.

Ucapan Donald Trump ini didukung oleh langkah sebelumnya yang dilakukan oleh Duta Besar Amerika untuk PBB Nikki Haley yang memberikan peringatan kepada negara yang akan melawan Amerika di Majelis umum PBB pada hari Kamis ini.

Rencananya hari kamis ini Majelis Umum PBB melakukan voting untuk menentang keputusan Amerika mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel. Walaupun draft resolusi ini tidak mencantumkan nama Amerika, namun sangat jelas resolusi ini menyatakan bahwa keputusan terkait Jerrusalem harus dibatalkan.

Sebanyak 193 anggota Majelis Umum PBB akan mengadakan pertemuan khusus pada hari Kamis ini atas permintaan negara Arab dan negara muslim lainnya untuk menentang keputusan Trump terkait Jerusalem awal bulan ini.

Sebelumnya di Dewan keamanan PPB telah mengangkat isu yang didukung 14 negara ini, namun diveto oleh Amerika. Setelah kegagalan di Dewan Keamanan, Draft resolusi yang tidak mengikat ini akhirnya dibawa oleh Turki dan Yaman ke Majelis Umum untuk dilakukan voting.

Terkait dengan langkah ini, secara gamblang Duta Besar Amerika untuk PBB Haley mengirimkan surat peringatan kepada 180 negara yang akan melakukan voting di Majelis Umum yang berisikan ancaman bahwa Amerika akan memberikan sangsi bagi negara yang menentang meloloskan resolusi ini di Mejelis Keamanan PBB. Disamping itu, surat ini yang dikirim sehari sebelum sidang di Majelis umum ini berisikan permintaan kepada negara negara yang akan menghadiri pertemuan ini untuk kembali mengingat akan sejarah persahabatan untuk menghargai keputusan Amerika.

Ada dua skenario terkait apa yang terjadi nantinya setelah pertemuan di Majelis Umum. Pertama resolusi menentang keputusan Amerika akan Jerrusalem ini akan lolos dan dengan cara ini dunia secara moral akan mengucilkan Amerika. Skenario kedua resolusi ini akan gagal karena banyak diantara negara yang akan mengubah sikapnya karena ada ancaman pemotongan bantuan luar negeri Amerika dan sikap keras Amerika.

Jika diamati langkah diplomasi luar negeri Trump selama ini yang berada di luar rel diplomasi normal, maka diperkirakan Trump akan melakukan pemotongan bantuan luar negerinya terhadap negara yang menentang resolusi ini sekaligus tidak perduli dengan apapun keputusan Majelis Umum PBB.

Jika resolusi ini lolos, maka keberhasilan resolusi ini akan merupakan kemenangan moral negara negara pendukung resolusi ini, namun dalam kenyataan seperti yang terjadi sebelumnya resolusi ini tidak akan mengubah sikap Amerika untuk mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel dan tidak berdampak nyata di lapangan.

Sikap Amerika ini sangat jelas terlihat Duta Besar Amerika untuk PBB secara keras menyerang Turki sebagai inisiator pembawa draft ke Majelis Umum PBB.

Sikap Turki yang lantang dalam kasus Jerusalem ini disamping memang sebagai solidaritas Islam, namun tidak dipungkiri terkait dengan pergolakan politik dalam negeri dan internasional Turki. Di tingkat internasional Turki memang sudah “disingkirkan” secara halus oleh Uni Eropa karena masalah dekomkrasi dan HAM di negaranya.

Di lain pihak di dalam negeri dan regional, Turki dianggap sebagai sahabat yang meninggalkan sejarah dan akan rumputnya karena upayanya untuk masuk ke dalam Uni Eropa. Di tengah pergulatan inilah tampaknya pimpinan Turki mencari jalan untuk kembali kejati dirinya kembali bahwa Turki secara historis erat dengan negara Islam sekaligus memperkuat posisi politik di dalam negerinya.

Tidak dapat dipungkiri memang mencuatnya Israel dan berlanjutnya konflik Arab-Israel tidak lepas dari tidak solidnya negara negara Arab. Jika dipetakan maka akan terdapat tiga kelompok yaitu negara yang secara tegas berpihak pada kemerdekaan Palestina, negara netral dan negara yang diam namun secara historis menjalin persahabatan dengan Amerika dan sekutunya. Dalam kondisi seperti inilah yang membuat konflik arab-Israel terus berlanjut karena sulitnya mencapai kesepakatan akibat negara negara ini memiliki kepentingan masing masing.

Pertemuan Majelis Kemanan yang akan dilakukan hari Kamis ini disamping sebagai ajang uji nyali dunia melawan keputusan Amerika, juga sekaligus menguji solidaritas negara negara Islam dan negara lainnya.

Ancaman Trump terkait pemotongan bantuan jika benar benar dilakukan akan berdampak besar bagi negara pendukung resolusi ini karena sebagian besar negara pendukung ini adalah negara yang tergolong kecil dan miskin atau secara historis perekonominya sangat tergantung pada Amerika dan sekutunya.

Akankah dunia yang selama ini tidak berdaya terhadap Amerika dan juga Israel dan negara pendukung Israel memasuki era baru perpolikan dunia? Sejarah sudah mencatat apapun resolusi yang dikeluarkan oleh PPB hanya tinggal catatan di atas kertas saja, namun tidak berdampak apapun di lapangan. [ARN]

Iklan

1 Comment on Ancaman Trump Akankah Gagalkan Resolusi PPB Terkait Jerusalem?

  1. PBB hanya formalitas .. bubarkan saja PBB

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Majelis Umum PBB dengan Suara Bulat Tolak Pengakuan Yerusalem Sebagai Ibukota Israel – ArrahmahNews
  2. Majelis Umum PBB dengan Suara Bulat Tolak Pengakuan Yerusalem Sebagai Ibukota Israel – ArrahmahNews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: