News Ticker

Kupas Tuntas Perang Yaman Bagian 2

Masa Transisi Pemerintahan Yaman dan Awal Mula Agresi Saudi

Minggu, 07 Januari 2018,

SANA’A, ARRAHMAHNEWS.COM – Abdur Rabbuh Mansour Hadi terpilih sebagai presiden untuk masa transisi; pada awal 2014 karena tugasnya tetap tidak terpenuhi, Utusan Khusus memperpanjang masa jabatannya sampai masa depan yang tidak ditentukan hingga pemilu bisa dilaksanakan, sebuah tindakan yang telah menimbulkan masalah hukum mengenai ‘legitimasi’ rezim Hadi sejak saat itu. Dengan makin ruwetnya proses peralihan pada awal 2015, Hadi dan pemerintahannya kemudian berakhir di pengasingan di Riyadh. Ia kemudian meminta intervensi militer dari GCC untuk bisa mengembalikannya berkuasa kembali di  Sana’a, dan pada tanggal 26 Maret 2015, koalisi pimpinan Saudi meluncurkan operasi ‘Decisive Storm’.

Baca: Kupas Tuntas Perang Yaman Bagian 1

Sebelum berbicara lebih lanjut,  harus diingat akan ciri-ciri perang yang paling mengerikan ini. Pada awal 2018, Yaman mengalami epidemi kolera terburuk di dunia dengan lebih dari 1 juta kasus, dan krisis kemanusiaan terburuk di dunia dengan lebih dari 8 juta orang di ambang kelaparan, ribuan di antaranya mungkin telah meninggal.

Sementara Hadi mungkin masih tertarik untuk kembali berkuasa, perhatian pendukung internasionalnya sekarang terfokus di tempat lain. Paling tidak dalam retorikanya, perang ini telah dikecilkan dengan hanya menjadi tidak lebih dari satu elemen, yaitu kampanye anti-Iran yang diluncurkan AS-Israel-Saudi.

Baca: Kupas Tuntas Revolusi Yaman (Bagian Pertama)

Oleh mereka, Houthi digambarkan sebagai pion belaka dari rezim Iran, mengabaikan dinamika politik internal gerakan rakyat itu yang sesungguhnya, dan fakta bahwa  tidak pernah ada bukti keterlibatan Iran  sampai saat ini. Kepentingan bangsa Yaman terbengkalai dalam mengejar kebijakan geopolitik yang terbatas. Bangsa Yaman harus menanggung akibat semua ini, pemboman, penembakan dan blokade mematikan yang menyebabkan penyakit dan kelaparan.

Baca: Kupas Tuntas Revolusi Yaman (Bagian Kedua)

Jadi bagaimana peran PBB dalam perang Yaman ini? Pada tanggal 14 April 2015, tiga minggu setelah dimulainya ‘badai ketegasan’ Saudi itu, resolusi DK PBB 2216 disetujui oleh 14 anggotanya (Rusia abstain). Sepuluh hari kemudian, Utusan Khusus baru ditunjuk, Ismail Ould Cheikh Ahmed, dengan harapan sebuah wajah baru akan memfasilitasi pekerjaan PBB, mengingat pendahulunya pada saat itu kehilangan kredibilitas di antara semua pihak Yaman. (ARN)

Sumber Artikel opendemocracy

About ArrahmahNews (14654 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Jendral Yaman: Musuh Tak Lagi Mampu Ancam Kami – ArrahmahNews

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: