News Ticker

Hariri Puji Hizbullah dan Inginkan Hubungan Terbaik dengan Iran

Tamparan Keras untuk Arab Saudi

Sabtu, 13 Januari 2018,

ARRAHMAHNEWS.COM, LEBANON – Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri menyerukan agar daerahnya dijauhkan dari konflik regional, dan memuji gerakan perlawanan Hizbullah karena melakukan hal tersebut untuk mengurangi ketegangan.

Dalam sebuah wawancara dengan The Wall Street Journal pada hari Rabu, Hariri mengatakan bahwa dia terbuka untuk Hizbullah yang terus berpartisipasi dalam pemerintahan menyusul pemilihan yang dijadwalkan pada bulan Mei.

Baca: Batalnya Pengunduran Diri Hariri Kekalahan Memalukan Arab Saudi

“Hizbullah telah menjadi anggota pemerintahan. Ini adalah pemerintahan inklusif yang memiliki semua partai politik besar dan membawa stabilitas politik ke negara tersebut,” kata Hariri pada saat wawancara pada hari Rabu, menentang tekanan dari Arab Saudi untuk menghadapi gerakan perlawanan.

“Tujuan utama saya adalah melestarikan stabilitas politik untuk kesatuan negara,” kata Hariri, yang mencapai kesepakatan pembagian kekuasaan dengan Hizbullah pada tahun 2016.

Sebelumnya, Hariri mengumumkan pengunduran dirinya dari Arab Saudi pada tanggal 4 November, menuduh Iran dan Hizbullah mengganggu di Timur Tengah dan menandakan bahwa itulah alasannya untuk mundur.

Namun Presiden Libanon Michel Aoun, yang mencurigai bahwa Hariri dipaksa mengundurkan diri, dan menolak untuk menerima pengunduran dirinya dan menuntut kepulangannya dari Arab Saudi terlebih dahulu. Sumber intelijen Lebanon segera menyimpulkan bahwa Hariri berada di bawah pembatasan di Riyadh.

Baca: Saudi Ngotot Gunakan Hariri Lemahkan Hizbullah Meski Selalu Gagal

Sayyid Hassan Nasrallah, sekretaris jenderal Hizbullah, mengatakan bahwa pihak berwenang Saudi telah secara jelas dan terbuka mengumumkan sebuah perang di Lebanon dengan menyandera Perdana Menteri Hariri dan memaksanya untuk berhenti.

Drama itu berakhir ketika Hariri kembali ke Lebanon pada 22 November -setelah melakukan intervensi diplomatik oleh Prancis- dan membatalkan pengunduran dirinya pada 5 Desember. Dalam wawancara Wall Street Journal, Hariri menolak untuk membahas rincian masa penahanannya di Arab Saudi. PM Lebanon kemudian menjelaskan dalam wawancaranya sebuah visi dimana Lebanon akhirnya akan fokus pada urusannya sendiri dan menolak campur tangan asing.

“Kami tidak dapat menerima campur tangan dari siapapun dalam politik Lebanon,” kata Hariri, dan menambahkan “Hubungan kita dengan Iran -atau dengan (Persia)- telah menjadi hubungan terbaik, tapi yang melayani kepentingan nasional Lebanon.”

Baca: Kronologi Kunjungan Hariri ke Saudi Hingga Pengunduran Dirinya

Hariri lebih jauh menyoroti kesediaan Hizbullah untuk mematuhi sebuah kebijakan “melepaskan” Lebanon dari konflik regional. Hariri mengakui bahwa penarikan Hizbullah dari Suriah akan memakan waktu karena situasinya lebih kompleks. Hizbullah telah membantu tentara Suriah dalam perang melawan teroris dalam upaya mencegah krisis ke Lebanon.

Perdana Menteri Hariri juga memperingatkan Israel terhadap tindakan militer terhadap Lebanon, dengan mengatakan bahwa perang semacam itu akan menjadi kontraproduktif. “Setiap saat, mereka mengatakan Israel ingin melancarkan perang dengan tujuan melemahkan Hizbullah. Dan setiap saat mereka berperang melawan Lebanon, mereka benar-benar memperkuat Hizbullah – dan melemahkan negara.”

Hizbullah adalah kekuatan militer de facto Lebanon, dan telah berjuang melawan tindakan berulang agresi Israel terhadap tanah air. Riyadh yang kabarnya memelihara hubungan rahasia dengan Tel Aviv tidak merahasiakan tentangannya terhadap kelompok tersebut, dan telah berusaha lebih dari satu dekade untuk melemahkannya.

Lebanon telah berulang kali memuji peran kunci Hizbullah dalam perang melawan terorisme, dimana Presiden Lebanon Michel Aoun membela senjata perlawanan dan menyatakan bahwa senjata Hizbullah penting bagi keamanan Lebanon. (ARN)

About ArrahmahNews (12992 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: