News Ticker

Pejabat UEA Diselidiki atas Tuduhan Penyiksaan Warga Qatar

Selasa, 23 Januari 2018

LONDON, ARRAHMAHNEWS.COM – Seorang pengacara hak asasi manusia mengatakan bahwa polisi Inggris saat ini tengah menyelidiki sekelompok pejabat Uni Emirat Arab atas dugaan penyiksaan dan perlakuan kejam terhadap beberapa warga Qatar.

“Orang-orang Emirat dapat ditanyai dan ditangkap jika mereka memasuki Inggris di bawah asas yurisdiksi universal,” kata Rodney Dixon, seorang pengacara di Temple Garden Chambers yang mewakili tiga warga Qatar, yang dipenjara dan disiksa antara tahun 2013 dan 2015 di penjara Emirati, sebagaimana dilaporkan Al-Jazeera pada Selasa (23/01).

Baca: Terbongkar! UEA Lakukan Penyiksaan Keji Terhadap 2 Warga AS dan Kanada

“Kami punya informasi tentang 10 tersangka, semuanya adalah orang-orang Emirat berstatus pejabat yang terlibat langsung dalam tindakan penyiksaan atau sebagai pihak yang bertanggung jawab (atas penyiksaan itu), dimana saat berada di bawah komando mereka, mereka tidak mencegah hal itu terjadi,” ujar Dixon kepada Al Jazeera.

Tiga warga Qatar (Mahmoud al-Jaidah, Hamed al-Hammadi dan Yousef al-Mulla) telah ditangkap dan ditahan tanpa tuntutan oleh otoritas UEA pada waktu yang berbeda antara tahun 2013 dan 2015.

Baca: UEA: Qatar Bertanggung Jawab atas Gugatan Kejahatan Perang ke ICC

Berbicara kepada pers di Jenewa, Mahmoud al-Jaidah, seorang praktisi medis berusia 56 tahun di Qatar Petroleum, mengatakan bahwa ia ditangkap di bandara Dubai dan ditahan tanpa tuntutan selama 27 bulan antara bulan Februari 2013 dan Mei 2015.

Dalam tiga hari pertama penahanannya, ia dituduh sebagai anggota Ikhwanul Muslimin dan telah mentransfer dana ke sel-sel di UAE, sebuah tuduhan yang telah ia bantah dengan keras.

Ia ditahan di sel isolasi selama tujuh bulan, tak bisa tidur, dipukuli dan diancam akan distrum, sampai dia dipaksa menandatangani sebuah pengakuan palsu setebal 37 halaman.

Baca: Pemuda Yaman Disiksa Sampai Mati di Penjara UEA

“Penyiksaan yang saya hadapi tak tertahankan, seorang pria akan mengakui apa pun di bawah kondisi tersebut, namun saya tidak tahu apa yang saya tanda tangani,” kata al-Jaidah, yang telah menderita gangguan trauma dan depresi pasca penahanannya.

Al-Jaidah dan korban penyiksaan lainnya di penjara UEA melaporkan siksaan yang sama: penahanan sewenang-wenang, kurungan isolasi, penyiksaan dan pengakuan paksa yang diekstraksi baik di bawah ancaman atau dengan janji pembebasan yang cepat.

“Ini adalah pola yang berulang di UAE, yang sangat memprihatinkan dan telah disorot juga oleh komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia. Komisaris tersebut telah mengajukan pertanyaan yang sangat serius mengenai sistem peradilan UEA,” kata Dixon.

Toby Cadman, seorang pengacara yang mengkhususkan diri pada hak asasi manusia, mengatakan bahwa korban penyiksaan di UAE mencari keadilan di Inggris dan negara-negara lain karena sistem peradilan UEA tidak memiliki independensi dan tidak ada pengamanan prosedural. (ARN)

About ArrahmahNews (13414 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: