Arab Saudi

Mohammed Bin Salman Kuasai Media Sebelum Tangkap Para Tokoh Elit Saudi

Kamis, 08 Februari 2018

RIYADH, ARRAHMAHNEWS.COM – Ketika banyak konglomerat media Arab Saudi berakhir di Ritz-Carlton Riyadh bersama dengan lebih dari 300 bangsawan, pejabat senior dan pengusaha kaya, yang dituduh melakukan korupsi, banyak orang berasumsi bahwa orang kuat kerajaan, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, selain bertujuan menyingkirkan penghalang dirinya naik takhta, juga bertujuan untuk mengendalikan media.

Hal ini jauh dari benar, karena ia sudah melakukan hal itu jauh sebelumnya.

Waleed al-Ibrahim, ketua Middle East Broadcasting Center (MBC), jaringan TV paling berpengaruh di seluruh dunia Arab, ditahan dalam operasi anti-korupsi bulan November lalu. Ia baru dibebaskan setelah melakukan kesepakatan yang tidak diungkapkan dengan pemerintah. Media Saudi melaporkan bahwa sementara dia tetap menjadi direktur di perusahaan tersebut, dana investasi pemerintah sekarang mengendalikan MBC.

Baca: HEBOH! 17 Pengusaha AS, Inggris dan Prancis Dilaporkan Ditangkap di Arab Saudi

Beberapa tokoh lain yang terjebak dalam kampanye anti-korupsi yang juga memegang properti media yang signifikan dengan jangkauan yang luas diantaranya adalah Alwaleed bin Talal, yang sekarang telah bebas dan kembali ke kantornya di Kingdom Holding. Ia memiliki jaringan hiburan Rotana, yang hanya sebagian kecil dari seluruh kekayaannya yang diperkirakan berjumlah 18 miliar dolar. Ada juga Saleh Kamel, pemilik ART, sebuah jaringan media, sementara anaknya, yang juga ditangkap dan dilepaskan, adalah ketua surat kabar Okaz, harian Saudi yang populer, dan pemilik satu surat kabar harian lainnya.

Bisa dimengerti jika kemudian publik percaya ini menjadi serangan terkoordinasi yang ditujukan untuk membatasi ruang pemikiran dan ekspresi di Arab Saudi yang sudah terbatas, dan juga di kawasan. Namun MBS, putra mahkota Saudi itu, sudah menguasai ruang publik jauh sebelum ia menangkapi anggota keluarga dan elit bisnis senior pada November lalu.

Baca: Putra Mahkota Saudi Sepenuhnya Kuasai Media MBC dan Al-Arabia

MBS dan keluarganya sudah memiliki Saudi Research & Marketing Group, yang mencakup harian pan-Arab Al Sharq Al Awsat. Lebih dari setahun yang lalu, ada upaya serius untuk bergabung dengan MBC. Perbedaan atas penyelesaian keuangan mengakhiri perundingan.

Selama 18 bulan terakhir, tim komunikasi MBS di Pengadilan Negeri secara terbuka telah mengecam, dan yang lebih buruk lagi, mengintimidasi mereka yang tidak setuju. Saud Al-Qahtani, pemimpin tim tersebut, memiliki daftar hitam dan meminta pemerintah Saudi menambahkan nama-nama didalamnya. Penulis seperti saya, yang kritiknya disampaikan dengan hormat, tampaknya dianggap lebih berbahaya daripada musuh Saudi yang berbasis di London. Pemerintah Saudi telah menangkap puluhan tokoh intelektual, ulama dan media sosial selama tahun lalu, meskipun sebagian besar benar-benar mendukung reformasi MBS. Wartawan yang mau tunduk akan dihargai dengan uang dan akses ke para pejabat senior.

MBS menguasai penuh atas siaran dan konten digital yang diproduksi di kerajaan. Meskipun masih memungkinkan (bagi masyarakat) untuk mengakses Google, Facebook, Twitter dan situs lainnya, kampanye yang telah dirancang khusus untuk mendukungnya dan Visi 2030nya telah menyedot oksigen dari ruang publik yang benar-benar terbatas itu. Mungkin kalian bisa saja membaca, tapi untuk membagikan atau menyukai postingan apa pun yang tidak sesuai dengan pemikiran kelompok pemerintah yang berwenang, harus dipikirkan dua kali.

Dan jika motif tindakan keras terhadap korupsi adalah menguntungkan pundi-pundi pemerintah Saudi, maka merampas pemimpin bisnis dan aset mereka ini akan menjadi bumerang. Alwaleed dan Ibrahim, kekayaan bersih mereka jatuh saat mereka ditahan. Saat ini aset yang disita bernilai jauh lebih rendah daripada sebelum tindakan keras tersebut dilakukan.

Sekarang, saat “tamu-tamu” pemerintah itu sudah pergi, dan Ritz-Carlton bersiap untuk perayaan Hari Valentine yang pertama kalinya dapat dirayakan secara terbuka di Arab Saudi, MBS harus menemukan cara untuk menghidupkan kembali nilai aset penting ini dan ekonomi secara keseluruhan.

Mendorong debat dan diskusi publik dengan merelaksasi cengkeramannya di media negara, dan juga membebaskan orang-orang yang dipenjara karena mengekspresikan pandangan mereka, akan membuktikan bahwa dia memang seorang pembaharu sejati.(ARN)

Sumber: Artikel Jamal Kashogi yang dimuat The Washington Post, Rabu (07/02)

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: