News Ticker

Jabhat Al-Nusra Jadikan Warga Sipil Sebagai Perisai Manusia di Ghouta Timur

Kamis, 22 Februari 2018

ARRAHMAHNEWS.COM, SURIAH – Militer Rusia mengumumkan bahwa kelompok bersenjata di Ghouta Timur mencegah warga sipil keluar dari zona konflik.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Rabu, militer Rusia mengumumkan bahwa perundingan yang bertujuan untuk menyelesaikan situasi dengan damai di Ghouta Timur, dekat ibukota Damaskus, telah runtuh.

“Seruan dari pusat pemantauan gencatan senjata Rusia untuk kelompok pemberontak ilegal di Ghouta Timur untuk menghentikan perlawanan, meletakkan senjata mereka, dan mengatur status mereka tidak menghasilkan apapun,” kata pernyataan tersebut.

Baca: White Helmets Siapkan Serangan Kimia ‘False Flag’ di Ghouta Timur, Suriah.

“Situasi kemanusiaan dan sosial-ekonomi yang kritis berkembang di Ghouta Timur,” tambahnya.

Sementara itu, Rusia telah meminta sebuah pertemuan Dewan Keamanan PBB untuk membahas situasi di Ghouta Timur.

Duta Besar Rusia PBB Vassily Nebenzia mengatakan kepada dewan keamanan bahwa pertemuan terbuka tersebut akan mengizinkan semua pihak yang terlibat untuk “mempresentasikan visi dan pemahaman mereka tentang situasi tersebut dan menghasilkan cara untuk keluar dari situasi ini.”

Dia menambahkan bahwa tuntutan Barat untuk menghentikan kekerasan di Ghouta Timur sepihak dan tidak memperhatikan posisi pemerintah Suriah.

“Ada teroris di sana, dimana tentara Suriah sedang berperang dan teroris menembaki Damaskus,” katanya, dan menambahkan “itu diabaikan.”

“Ini adalah situasi yang kompleks dan bukan hanya jalan satu arah,” tambahnya.

Ghouta Timur termasuk dalam kesepakatan antara Turki, Rusia dan Iran untuk mendirikan zona de-eskalasi di Suriah dengan tujuan untuk mengurangi kekerasan di negara Arab yang dilanda perang itu.

Sebelumnya pada hari itu, Moskow menolak sebuah klaim AS bahwa jet tempur Rusia melakukan serangan udara di Ghouta Timur, yang diklaim telah membunuh puluhan warga sipil sejak awal minggu ini.

BacaPertempuran Sengit SAA dan Pemberontak Pecah di Ghouta Timur.

Moskow membantah klaim AS bahwa jet tempur Rusia melakukan serangan udara di Ghouta Timur yang menjadi pusat kosentrasi militan.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah kelompok pemantau pro-oposisi, mengklaim bahwa setidaknya 250 warga sipil telah terbunuh dalam serangan tersebut.

Awal pekan ini, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyalahkan “provokasi bersenjata” oleh Milisi Takfiri Jabhat al-Nusra atas situasi di Ghouta Timur.

Suriah mendesak PBB untuk mengambil tindakan terhadap negara-negara yang mendukung teroris dalam kejahatan mereka terhadap warga sipil di Damaskus dan sekitarnya.

Teroris Jabhat al-Nusra, dilaporkan menghambat evakuasi warga sipil dari Ghouta Timur, di mana mereka menggunakannya sebagai “tameng manusia” sambil terus menyerang fasilitas sipil Damaskus.

“Butuh usaha keras untuk mencapai kesepakatan tentang evakuasi medis, pertama-tama, tentang anak-anak dan orang-orang yang memerlukan bantuan medis darurat. Namun upaya selanjutnya untuk mengorganisir evakuasi warga sipil skala besar dari daerah tersebut menemui penolakan dari Jabhat al-Nusra karena mereka berusaha menjadikan orang-orang ini sebagai perisai manusia,” kata Lavrov. [ARN]

About ArrahmahNews (14644 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: