News Ticker

Rusia: Negara-negara Pendukung Teroris Bertanggung Jawab atas Situasi di Ghouta Timur

Kamis, 22 Februari 2018

ARRAHMAHNEWS.COM, RUSIA – PBB mengatakan pada 21 Februari bahwa mereka telah menerima laporan bahwa lebih dari 100 orang telah tewas dalam baku tembak di Ghouta Timur, Suriah, selama tiga hari.

“Mereka yang mendukung para terorislah yang bertanggung jawab,” tegas juru bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita Reuters, Kamis (22/2/2018). “Baik Rusia, maupun Suriah, maupun Iran tidak masuk dalam kategori negara-negara tersebut karena mereka melakukan perang mutlak melawan para teroris di Suriah,” imbuhnya.

Berbicara tentang resolusi PBB mengenai peluncuran gencatan senjata di Suriah, yang diajukan oleh Swedia, Peskov kembali mengarahkan pertanyaan tersebut kepada Kementerian Luar Negeri.

“Sekarang saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini,  itu dalam garis diplomatik kami, misi kami di New York, lebih baik menyampaikan masalah ini kepada Kementerian Luar Negeri,” katanya.

Sebelumnya, delegasi Swedia dan Kuwait berbagi dengan Dewan Keamanan tentang sebuah rancangan resolusi mengenai pengenalan gencatan senjata 30 hari di Suriah, untuk pengiriman bantuan kemanusiaan dan evakuasi medis. Pemungutan suara pada draft tersebut diperkirakan akan berlangsung pada hari Kamis.

Misi Tetap Swedia mengumumkan pada hari Rabu malam bahwa rancangan resolusi ditutup untuk amandemen dan siap untuk dipilih.

Pada saat yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menyatakan pada tanggal 21 Februari bahwa Rusia akan mempersiapkan sebuah resolusi terpisah mengenai isu-isu kemanusiaan di Ghouta Timur.

Wilayah Ghouta Timur adalah satu dari empat zona de-eskalasi Suriah yang dibuat selama perundingan Astana, untuk rekonsiliasi Suriah. Rusia, Iran dan Turki berfungsi sebagai penjamin atas kesepakatan de-eskalasi, yang berlaku di semua sisi kecuali kelompok militan yang terkait dengan kelompok teroris al-Qaeda.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Senin (19/2) waktu setempat menyatakan, serangan-serangan rezim Suriah di Ghouta Timur diperlukan untuk memberantas para militan terkait al-Qaeda.

Dikuasai oleh pemberontak sejak tahun 2012, Ghouta Timur merupakan kantong terakhir yang dikuasai oposisi di sekitar Damaskus. Presiden Assad telah mengerahkan pasukan tambahan sebagai upaya untuk merebut kembali wilayah tersebut.

Jet-jet tempur Suriah terus membombardir Ghouta Timur dalam lima hari terakhir. Serangan-serangan udara pemerintah Suriah sejak Minggu (18/2) waktu setempat itu, hanya menargetkan kantong-kantong teroris Jabhat Nusra, bukan seperti yang dituduhkan.

Teroris Jabhat al-Nusra, dilaporkan menghambat evakuasi warga sipil dari Ghouta Timur, di mana mereka menggunakannya sebagai “tameng manusia” sambil terus menyerang fasilitas sipil Damaskus.

“Butuh usaha keras untuk mencapai kesepakatan tentang evakuasi medis, pertama-tama, tentang anak-anak dan orang-orang yang memerlukan bantuan medis darurat. Namun upaya selanjutnya untuk mengorganisir evakuasi warga sipil skala besar dari daerah tersebut menemui penolakan dari Jabhat al-Nusra karena mereka berusaha menjadikan orang-orang ini sebagai perisai manusia,” kata Lavrov. [ARN]

About ArrahmahNews (14644 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: