News Ticker

Eric Tauvani dan Kisah Kesederhanaan Buya Syafii Ma’arif

Senin, 05 Maret 2018,

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif (lahir di Sumpurkudus, Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935; umur 82 tahun) adalah seorang ulama, ilmuwan dan pendidik Indonesia. Ia pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan pendiri Maarif Institute, dan juga dikenal sebagai seorang tokoh yang mempunyai komitmen kebangsaan yang tinggi.[1] Sikapnya yang plural, kritis, dan bersahaja telah memposisikannya sebagai “Bapak Bangsa”. Ia tidak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu adalah temannya sendiri.

Baca: Hina Buya Syafii Maarif, Asyhadu Amrin Pasukan Cyber Army PKS Tercyduk

Salah satu akun facebook Erik Tauvani menceritakan tentang kesederhanaan Buya Syafii Ma’arif.

Tuan dan puan yang budiman, sosok yang sedang duduk di atas kursi mungil itu, bersongkok hitam, adalah Guru Bangsa. Namanya Ahmad Syafii Maarif. Biasa disapa sebagai Buya Syafii, walaupun Buya sendiri tidak pernah mengharapkan dirinya untuk dipanggil Buya.

Pada akhir Mei nanti batang usianya menyentuh 83 tahun. Sebuah batang usia di atas rata-rata harapan hidup manusia Indonesia. Namun tetap sehat, produktif, kritis, dan rajin ke masjid.

Baca: Denny Siregar dan Inilah Benih-benih Jahat yang ingin Hancurkan NKRI

Foto ini saya ambil pada saat azan Magrib dikumandangkan di Masjid Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta, pada hari Sabtu, 3 Maret 2018. Saat para jamaah berbondong-bondong ke masjid, sedangkan Buya telah duduk manis dan khusyuk mendengarkan azan di belakang modin.

Bagi masyarakat kampung Nogotirto, mereka mengenal Buya sebagai sosok yang tidak hanya rajin salat berjamaah di masjid, namun juga merawat masjid, baik secara fisik maupun kegiatan. Bahkan, saya sendiri lebih mudah menemui Buya di masjid dari pada di rumahnya yang berjarak sekitar 20 meter dari masjid.

Aktifitas kemasjidan ini membuat Buya begitu akrab dengan masyarakat sekitar. Tidak jarang Buya “mbakmi” bareng dengan bapak-bapak dan mas-mas takmir masjid saat suara piring dan sendok beradu sebagai tanda penjual bakmi kaki lima sedang lewat. Kadang-kadang mbakmi bareng di warung langganan.

Baca: Buya Syafii; Masjid Jangan Dikotori Politik Kekuasaan

Saya pernah senyum-senyum sendiri ketika mendapati Buya Syafii dan Ibu Lip (istri Buya) jalan berduaan menuju masjid. Sebetulnya biasa saja, tapi pas itu romantis banget. Dari emperan masjid, sambil bergurau, saya berkata:

“Waah, Buya, romantis banget.”. “Hayyaaahh… Sampun sepuh,” balas Buya.. Hehehe.. (ARN)

Sumber: Akun Facebook Erik Tauvani

About ArrahmahNews (16673 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on Eric Tauvani dan Kisah Kesederhanaan Buya Syafii Ma’arif

  1. E Puspit4 // Mar 5, 2018 at 12:53 pm // Balas

    Seseorg yg egonya telah luruh mk akan mampu punya kedalaman ikhlas lalu hidupnya menjd “menyederhana” sebab didlm hatinya telah bersemi rasa pengasih dan penyayang-Nya shg semua itu sdh dianggap lbh dari cukup.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: